Minggu, 04 Mei 2014

[FF] Wish You Were Here



Title  : Wish You Were Here
Cast  :
§     Kim Seo Hyun/Seo Joo Hyun (SNSD)
§     Jung Yong Hwa (CNBlue)
§     Member CNBlue
§     Kim Tae Yeon           (SNSD)
§     Kim Jung Soo/Park Jung Soo (Super Junior)
§     Jung Soo Yeon (SNSD)
§     Jung Il Woo
§     Jung Yong Min
§     Etc

Happy Reading…
 
“Busaaan aku kembaliii…” teriak seorang namja setelah turun dari mobil mewah berwarna putih miliknya.
Dibelakangnya diikuti oleh kedua orang tuanya. Ia terlihat begitu bahagia melihat tempat yang sekarang diinjaknya, tempat yang sangat dirindukannya setelah selama 10 tahun ia pergi ke Jepang untuk menemani halmoninya yang tinggal seorang diri. Halmoninya telah meninggal dunia sebulan yang lalu. Sekarang ia begitu senang bisa tinggal bersama kedua orang tua yang begitu dirindukannya. Maklum saja, kedua orang tuanya hanya dapat mengunjunginya enam bulan sekali. Mereka sangat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Ia memandang sekeliling dengan seksama, melihat semuanya yang masih seperti dulu. Seulas senyum terbesit dibibirnya. Perlahan Ia menghirup udara segar kota Busan kemudian menghembuskannya lagi. Begitu menyegarkan. Masih sama seperti 10 tahun lalu.
“Yonghwa-ya, bantu appa mengeluarkan barang-barangmu dari mobil”
Namja yang bernama asli Jung Yong Hwa itu menoleh ke sumber suara, terlihat appanya kepayahan mengangkat koper  besar dari dalam mobil. Ia tertawa kecil kamudian tanpa berkata apapun ia langsung berlari menuju bagasi mobil untuk membantu appanya. Eommanya sedari tadi berdiri di samping mobil tersenyum melihat tingkah anak laki-lakinya itu. Mereka bersama-sama memasuki rumah. Eommanya, Jung Soo Yeon segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makan. Sedang Jung Il Woo yang merupakan appa Yong Hwa masih berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah kelelahan sehabis mengangkat beberapa koper besar  milik Yong Hwa. Yong Hwa tersenyum kilat melihatnya.
“Appa, eomma.. aku pergi keluar sebentar” teriak Yong Hwa berlari keluar rumah ketika teringat suatu tempat yang ingin dikunjunginya. Appanya tampak menaikkan kedua alisnya.
“Kau mau kemana? Apa tidak makan dulu?” teriak Soo Yeon dari dapur.
“Aku akan segera kembali “ jawabnya singkat.
“Dasar anak nakal! Kemana lagi dia?” ucap appa Yong Hwa sambil mengelengkan kepala heran.
“Biarkan dia pergi. Mungkin dia ingin berkeliling sebentar
Yong Hwa berlari ke tempat kesukaannya, tempat yang sudah lama ia tinggalkan, tempat yang indah dan nyaman menurutnya. Beberapa menit kemudian ia sampai di tempat itu, sebuah pantai kecil. Pantai di dekat rumahnya. Pantai yang sangat tenang dan damai.
“Aku kembaliiii…” teriaknya kepada deburan ombak yang seakan menyambutnya.
Ia merentangkan kedua tangannya. Memejamkan kedua matanya. Dihirupnya udara bersih pantai itu. Masih terdengar jelas semilir angin dan deburan ombak di telinganya. Ia begitu menikmati kesunyian dan kedamaian tempat itu.
Semenit kemudian ia membuka kembali kedua matanya. Diedarkan pandanganya ke seluruh penjuru. Dilihatannya bukit kecil yang dulu sering dikunjunginya. Senyum tersirat di bibirnya lagi. Sesegera mungkin ia berlari ke sebuah bukit kecil dekat pantai itu. Tempat yang cocok untuk melihat pemandangan sekitar yang sangat menakjubkan.
Sesampainya diatas bukit tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia melihat seorang yeoja disana. Yeoja itu memakai terusan selutut berwarna putih berlengan pendek. Rambut panjangnya terurai indah diterbangkan oleh angin laut. Ia juga menggenggam sebuah selendang berwarna putih ditangannya.
Yeoja tadi berdiri tepat di ambang jurang yang langsung berhadapan dengan lautan. Ia tertunduk. Ia menangis dalam diam. Air matanya terus mengalir dari kedua matanya tanpa bisa dibendung lagi. Ada apa dengan yeoja itu? Apa yang terjadi dengannya? Itulah yang tersirat di pikiran Yong Hwa. Yong Hwa tetap diam terpaku di tempatnya. Memandangi yeoja itu dengan sejuta pertanyaan yang ada dibenaknya. Tapi ia hanya bisa diam membisu. Tak ingin rasanya ia menggangunya. Hingga tidak lama kemudian yeoja itu terjun dari jurang. Yong Hwa tercengang kaget.
“Ya! Ya! Apa yang kau lakukan?” teriak Yong Hwa kepada yeoja itu. Yong Hwa berlari kearah yeoja itu dan segera meraih tangannya sebelum yeoja itu terjatuh tepat didasar laut.
“Ya! Ya! Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?” sambung Yong Hwa lagi.
“Lepas! Lepaskan tanganku!” teriak yeoja itu disela tangisnya.
“Andwae! Andwae! Kau gila! Mana mungkin aku melepaskanmu. Kau akan terjatuh, babo!”
“Lepaskan aku!”
“Andwae!” Yong Hwa terus menarik tangan yeoja itu tetapi yeoja itu tetap bersikeras untuk melepas genggaman tangannya. Yong Hwa terus bertahan meski ia mulai merasa lelah. Keringat bercucuran dari samping wajahnya.
“Lepaskan aku! Aku ingin mati sekarang!” teriak yeoja itu lagi.
“Andwae! Mati tidak akan memecahkan masalah, babo!”
“Tak ada lagi yang perlu diselesaikan. Aku sudah muak dengan semua ini, jadi lepaskan aku, jebal!” yeoja itu terus saja memberontak. Air mata masih membanjiri pipinya.
“Ya! Lari dari permasalahan tidak akan menyelesaikan masalah!” dengan tenaga yang masih tersisa, Yong Hwa berusaha menarik yeoja itu hingga beberapa saat kemudian yeoja itu berhasil dinaikkan.
“Ya! Lepaskan aku!”Yeoja itu masih tetap memberontak ingin terjun lagi kelautan. Tanpa ada kata-kata lagi Yong Hwa langsung memeluk yeoja itu, berusaha agar yeoja itu tidak memberontak lagi.
Deg
Deg~
Yonghwa merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Wae?
“Ya! Lepaskan aku! Lepaskan aku!” yeoja terus saja memberontak dan memukuli dadanya. Tetapi Yong Hwa memeluknya semakin erat hingga ia tak bisa memukilinya lagi.
“Lepaskan aku..” suaranya mulai melemah. Yeoja itu menyerah. Mungkin ia sudah kelelahan memberontak.
Ia menangis dipelukan Yong Hwa. Cukup lama mereka larut dalam keheningan. Suara laut yang menenangkan serta isakan tangis yeoja itu yang terdengar mendominasi ditelinga Yong Hwa. Yong Hwa membelai lembut rambut yeoja itu sambil terus menenangkannya. Sekarang tubuhnya sedikit melemah. Sepertinya ia kelelahan karena menangis. Yeoja itu melepaskan pelukanya dan Yong Hwa juga tidak mencegahnya. Ia masih terisak tangis.
“Apa kau sudah baikan?” tanya Yong Hwa. Yeoja itu mengangguk pelan dengan wajah masih tetap tertunduk.
“Sekarang ceritakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi? tanyanya Yong Hwa lagi. Yeoja itu mendongakkan wajahnya yang sedari tadi tertunduk. Ia tak menjawab. Masih memandangnya acuh.
“Apa kau mau menceritakannya padaku? Mungkin aku bisa membantu memecahkan masalahmu” tawar Yong Hwa lembut. Ia menggigit bibir bawahnya dan tertunduk lagi. Kemudian ia berlari menjauh meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apapun pada Yong Hwa.
“Yaa.. Kau mau kemana?” tanya Yong Hwa. Yong Hwa tak mengejarnya. Mungkin dia masih belum bisa bercerita dan butuh waktu untuk sendiri. Ia terus memandanginya hingga yeoja itu menghilang dari hadapannya. Ia tidak menyadari sedari tadi ia menggenggam selendang milik yeoja itu. Ia baru menyadari ketika yeoja itu sudah menghilang dari hadapanya.
“Semoga kita bertemu lagi, aku ingin mengembalikan ini padamu…”
***
Yong Hwa menaiki motor besar berwarna merah miliknya menuju sekolah barunya. Ia begitu lincah menaiki motor itu. Tak berapa lama, ia sampai di halaman sekolah barunya. Ia turun dari motornya. Ia terlihat sangat rapi dan stylish memakai kemeja berwarna putih dengan setelan celana panjang berwarna krem serta rompi berwarna biru tua dan tak lupa dasi bermotif garis menggantung di kerah bajunya. Ia juga merapikan rambutnya hingga tampak sempurna.
Tak jauh dari tempat, ia telah disambut oleh teman lamanya. Teman masa kecilnya sewaktu tinggal di Busan. Mereka masih tetap berhubungan meskipun tempat mereka berjauhan.
“Yaa! Hyung..” teriak seorang namja dari kejauhan. Ia menoleh ke sumber suara.
“Oh~ Min Hyuk-ah, Jung Shin-ah, Jong Hyunie..” ucap Yonghwa. Ia tersenyum cerah melihat mereka.
“Hyung…” teriak ketiga namja itu sambil memeluk Yong Hwa. Mereka tertawa bersama melepaskan kerinduan mereka. Sesaat merekapun melepaskan pelukannya.
“Bagaimana kabarmu, hyung?” tanya Min Hyuk.
“Baik, Min Hyuk-ah”
“Hyung, kapan pulang? Kenapa tidak mengabari kami terlebih dahulu?” tanya Jong Hyun.
“Aku Pulang tiga hari yang lalu” Yong Hwa tersenyum.
“Yah.. hyung! kenapa tidak bilang kepada kami? Kami kan bisa menjemputmu di bandara” ucap Jung Shin  cemberut.
“Mianhae, aku sangat lelah hingga lupa mengabari kalian, hehe..” Yong Hwa terkekeh pelan.
“Hyung, mana oleh-oleh untukku?” tanya Min Hyuk dengan polosnya.
“Aiiish, Kang Min Hyuk!” Jung Shin  menjitak kepala Min Hyuk.
“Ya! Appo..” rengek Min Hyuk.
“Ada dirumah. Pulang sekolah datanglah ke rumahku, ne?” Yong Hwa tersenyum.
Ia mengacak rambut Min Hyuk dan Min Hyukpun tersenyum aegyo padanya. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok yeoja yang pernah ditemuinya dibukit. Ia lewati didepan mereka. Ia menuntun sepedanya yang cukup modis. Wajahnya terlihat tenang, seperti tak ada beban besar yang harus ditanggungnya. Berbeda dengan ekspresi yang dilihat sebelumnya. Tetapi matanya terlihat sedikit bengkak.
“Siapa dia?” tanya Yong Hwa. Ia masih fokus melihat setiap langkah yeoja itu.
“Yang mana, hyung?” tanya Min Hyuk polos.
“Yeoja itu” ucap Yonghwa. Menunjuk kearah yeoja itu.
“Oh~ yang itu.. dia Seo Hyun, Kim Seo Hyun. Ia murid tercantik dan terpandai di sekolah ini. Tapi sayang dia selalu terlihat murung dan selalu menyendiri. Hanya sedikit yang mau berteman dengannya. Banyak sekali yang menyukainya tetapi ia selalu menolak. Hati-hati ia sedikit dingin kepada orang lain” papar Min Hyuk panjang lebar. Yong Hwa masih tetap memfokuskan pandangannya kepada Seo Hyun hingga ia menghilang dari koridor sekolah.
“Kita bertemu lagi” guman Yong Hwa lirih. Senyum masih melekat dibibirnya.
***
Yong Hwa masuk ke dalam kelas mengikuti  Shin seonsangnim. Setelah Shin seonsangnim selesai bercakap-cakap, ia dipersilahkan untuk memperkenalkan dirinya. Selama berkenalan matanya berpusat ke sudut ruangan. Menatap seorang yeoja, Seo Hyun. Ia membolak-balik bukunya pelan. Yong Hwa tahu ia hanya memelototi buku itu tanpa sedikitpun membacanya. Ia tampak melamun.
Perkenalan selesai, ia duduk dibangku yang kebetulan kosong di samping Jung Shin. Pandangannya masih tak lepas dari sosok yeoja misterius itu. Seo Hyun tidak menyadarinya karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Kenapa yeoja itu terlihat murung?” tanya Yong Hwa. Jung Shin menoleh ke pusat perhatian Yong Hwa.
“Hm.. aku dengar, setahun terakhir ini keluarganya retak. Eommanya ketahuan selingkuh. Kedua orang tuanya setiap hari bertengkar. Sejak saat itu ia menjadi depresi berat. Wajahnya tidak seceria dulu, padahal dulunya dia selalu ceria dan suka menyapa semua orang dengan senyum manisnya. Benar-benar malang nasibnya Jung Shin menggeleng-gelngakan kepalanya prihatin.
“Jinja?” Yong Hwa memiringkan kepalanya. Jung Shin mengangguk. Yong Hwa masih menatap yeoja itu. Sekarang ia sibuk dengan pikirannya, tidak fokus lagi dengan pelajaran Shin seonsangnim.
***
Seo  Hyun memarkirkan sepedanya di depan rumah. Ia berjalan memasuki rumah dengan langkah gontai-gantai malas. Tiap pulang selalu sepi. Perut lapar sehabis pulang sekolah. Itulah yang selalu dirasakannya setiap hari. Menyedihkan.
“Eomma kemana, ahjumma?” tanyanya kepada Han ahjumma, pembantu yang dua tahun terakhir ini bekerja di rumahnya. Hanya dia yang selalu menemani Seo Hyun disaat ia kesepian seperti saat ini.
“Molla, dari tadi siang sudah pergi” jawabnya dari dapur.
“Appa sudah pulang, ahjumma?”
“Oh~ tuan belum pulang”
Jam dinding ruang makan sudah menunjukan pukul tujuh tetapi rumah masih sepi, seperti biasa. Appa pasti masih sibuk dengan pekerjaannya. Eomma? Kemana eomma? Kenapa selama beberapa bulan ini eomma selalu pulang malam? Saat ditanya ia hanya sibuk dengan ponsel yang selalu melekat ditelinganya. Apa dia pergi dengan ahjussi yang ia lihat didepan rumah mengantar eomma kemarin? Entahlah. Seo Hyun mulai menyantap makanan yang disodorkan Han ahjumma sejak tadi.
“Eomma pergi dengan siapa, ahjumma?” tanyanya disuapan kedua.
“Dengan teman namjanya” Han ahjuma menjawabnya dengan takut-takut. Seo Hyun menoleh ke dapur  yang  tidak  jauh dari ruang makan. Matanya sedikit terbelalak.
“Apa dengan ahjussi yang mengantarnya kemari?”
“N.. ne..” jawabnya ragu-ragu.
Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Mata terasa panas. Perutnya mual. Piring ditandaskan dan dibawa kebak cuci. Ia langsung mengurung diri di kamar. Duduk di atas tempat tidur dengan kiki dilipat. Mencengkram erat sebuah guling yang ada disampingnya. Lampu kamar dibiarkan mati. Pandangannnya mulai kabur. Sekarang ia melamun. Dadanya masih terasa sesak. Rasanya ingin mengeluarkan semua yang ada dipikirannya.
Ingin bercerita. Tapi harus cerita dengan siapa? Haruskah Han ahjummma lagi? Teman? tak ada satupun yang akrab dengannya. Bukan karena tidak ada yang mau berteman dengannya, tetapi ia memang sengaja menjaga jarak dengan teman-temannya.
Seo Hyun melirik jam kecil yang menempel didinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Terdengar suara mobil berhenti didepan rumah. Ia berjalan ke jendela. Seo Hyun membuka sedikit tirai yang menutupi jendela. Dibiarkan cahaya bulan masuk melalui celah-celah tirai yang terbuka. Kamarnya berada di lantai dua berhadapan langsung dengan halaman rumah. Betapa terkejutnya ketika melihat eommanya turun dari mobil ahjussi yang kemarin mengantarkanya.
“Eomma..” Seo Hyun menutup mulutnya dengan kedua tanganya karena terkejut. Matanya membulat. Mata dan wajahnya mulai terasa panas lagi. Ia menelan ludahnya dengan susah payah.
Ahjussi itu mendongak ke atas, kearah kamar Seo Hyun berada. Seo Hyun segera menutup tirainya dan membalikkan badannya. Ia berlari ke tampat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia menangis dalam diam di balik selimut yang menutupi tubuhnya. Tubuhnya gemetar. Sesaat, Ia mendengar suara orang membuka pintu kamarnya. Pasti itu eomma.
”Seo Hyun-ah, apa kau sudah tidur?”
Benar itu suara eommanya.
 Seo Hyun tak menjawab. Eommanya menutup pintunya kembali. Seo Hyun masih terisak tangis. Apakah appa sudah tau hal ini?
***
Beberapa minggu ini Yong Hwa sering memperhatikan Seo Hyun. Mengikuti setiap langkahnya pergi. Sekarang ia juga bersepeda saat pergi ke sekolah. Terkadang ketika pulang sekolah ia mengikuti Seo Hyun dari belakang tanpa sepengetahuannya. Yong Hwa ingin lebih dekat dengan Seo Hyun tetapi ia takut kalau Seo Hyun merasa terganggu.
Hari ini ia memberanikan diri untuk mengembalikan selendang yang terjatuh sewaktu di bukit kemarin. Ia mencari Seo Hyun ke seluruh penjuru sekolah. Akhirnya ia menemukannya di perpustakaan.
Yong Hwa berdiri di ambang pintu perpustakaan sambil memperhatikaannya. Sudah lima belas menit Yong Hwa memperhatikannya. Seo Hyun hanya memelototi buku itu, tak sekalipun dibalik. Memegang  bolpoin tapi tidak menulis. Memegang buku tapi tidak membaca. Wajahnya tampak datar. Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Yong Hwa mengangkat sebelah alisnya.
Yong Hwa berjalan mendekatinya dan duduk di depannya. Seo Hyun tetap tidak bergeming. Masih larut dalam lamunannya sendiri.
“Hey..” Yong Hwa mencoba untuk menyapanya. Seo Hyun mengerjap satu kali, kembali ke alam sadar.  Kemudian menatap Yong Hwa tajam.
“Apa aku mengganggumu?” tanya Yong Hwa hati-hati. Seo Hyun segera berdiri dari tempat duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Yong Hwa tanpa berkata sepatah katapun.
“Ya! Ya! Chakkaman!”teriak Yong Hwa sambil mengejar Seo Hyun keluar dari perpustakaan dan segera disambut tatapan tajam dari penjaga perpustakaan karena ia berteriak terlalu keras. Yong Hwa acuh.
“Chakkaman, Seo Hyun-ah..” Seo Hyun berhenti dari langkahnya. Ia menoleh kebelakang dengan sedikit mencondongkan kepalanya. Tatapan matanya masih sama. Dingin dan tajam.
“Darimana kau tau namaku?”  Yong Hwa tersenyum.
“Oh~” Yong Hwa memutar kedua bola matanya, berusaha untuk mencari jawaban. Tanpa menunggu jawaban, Seo Hyun kembali melangkahkan kakinya.
“Chakkaman! Aku hanya ingin mengembalikan ini” ucap Yong Hwa. Langkah Seo Hyun terhenti lagi. Yong Hwa berjalan dan berhenti tepat di depan Seo Hyun.
“Aku hanya ingin mengembalikan selendang ini padamu” ucap Yong Hwa sambil menyerahkan Selendang putih milik Seo Hyun.
Seo Hyun menatap Yong Hwa dan selendang itu secara bergantian. Seo Hyun kemudian mengambil selendang itu dari tangan Yong Hwa.
Degdeg~ detak jantung Yong Hwa terasa berhenti. Ingin rasanya waktu berhenti lima menit saja. Tapi itu mustahil, waktu masih terus berjalan. Tanpa sadar ia melangkungkan senyumannya. Seo Hyun berjalan berlalu darinya tanpa mengatakan apapun. Yong Hwa membelalakkan matanya.
“Ya! Setidaknya kau harus mengatakan ‘gomawo’ kepadaku” teriak Yong Hwa. Seo Hyun berhenti melangkah. Ia menoleh ke sumber suara.
“Gomawo..” ucap Seo Hyun datar.
Tatapannya tetap dingin kepada orang lain. Yong Hwa tersenyum gembira. Seo Hyun melanjutkan kembali perjalanannya yang sempat tertunda.
“Apa kita bisa berteman? Naenun Jung Yong Hwa imnida” teriak Yong Hwa tetapi kini Seo Hyun sudah berbelok dari koridor sekolah. Menghilang dari hadapannya.
“Hyung, apa yang kamu lakukan disini?” tiba-tiba suara Min Hyuk mengagetkannya. Jong Hyun dan Jung Shin juga ikut menghampirinya dan merangkul bahunya.
“Anniyo” jawab Yong Hwa singkat. Ia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Ia tersenyum getir.
“Mm, Bagaimana kalau kita ke lapangan basket?” ajak Jong Hyun. Jung Shin dan Min Hyuk menganguk bersamaan.
“Boleh. Sudah lama aku tidak bermain basket. Hyung, kau mau ikut?” ajak Jung Shin.
“Mm,” Yong Hwa tampak berfikir. Sedetik kemudian ia mengangguk dan menjawab “Boleh”
Mereka berjalan bersama meninggalkan koridor yang sedikit ramai itu. Sebelum pergi, Yong Hwa sempat menoleh ke belakang dan tersenyum kemudian berjalan di belakang teman-temannya tersebut.
***
Bel sekolah telah menjerit diseluruh ruang kelas pertanda pelajaran yang membosankan ini telah usai. Yong Hwa menggeliat dimejanya setelah tertidur pulas di dalam kelas. Ia masih menguap beberapa kali.
Kini Ia menatap sekeliling ruangan dengan tatapan malas. Tanpa sadar matanya menangkap sesosok yeoja yang kemudian menjadi pusat perhatianya, ya itu Seo Hyun. Yeoja itu tampak sibuk memasukkan buku-buku tebalnya kedalam tas berwarna biru muda miliknya. Tak tau kenapa setiap melihat yeoja itu, ia selalu merasa bahagia. Tanpa sadar ia tersenyum.
Seo Hyun mengibaskan rambut panjangnya kemudian mengedarkan pandangan ke beberapa sudut ruangan. Sial, tak sengaja mata kami bertemu. Yong Hwa yang gelagapan buru-buru mengalihkan pandangannya dari Seo Hyun. Sorot mata Seo Hyun masih tetap sama. Sorot mata hitam itu selalu datar tetapi terkadang ia bisa menatap orang lain dengan tajam. Seperti tak ada semangat yang terlintas di wajahnya. Namun Yong Hwa menyukai mata indah itu. Mata yang menyimpan sejuta misteri yang membuat Yong Hwa menjadi tertarik untuk mengenalnya. Mengetahui apa yang ia rasakan. Mengetahui ketika ia kesepiannya. Mengetahui ketika ia merasa bahagia.
Seo Hyun beranjak dari tempat duduknya. Melangkahkan kakinya keluar kelas. Yong Hwa membulatkan mata dan sedikit mengangkat alisnya mendapati Seo Hyun telah pergi meninggalkan kelas. Ia bergegas memasukkan buku-bukunya ke dalam tas yang tergeletak di samping mejanya. Jong Hyun, Jung Shin dan Min Hyuk menatapnya heran.
“Hyung, mau kemana?” tanya Jung Shin. Ia mengangkat alisnya heran. Yong Hwa tidak menjawab melainkan langsung beranjak pergi setelah selesai memasukkan bukunya kedalam tas.
“Ya! Hyung, mau kemana? Bukankah kita ada janji untuk bermain basket?” teriak Min Hyuk.
“Sepertinya hari ini aku tidak biasa. Aku ada urusan sekarang” ketus Yong Hwa.
Ketiga namja itu saling berpandangan pertanda mereka heran. Yong Hwa berlari mengejar Seo Hyun. Untung saja ia masih belum menghilang dari koridor sekolah. Yong Hwa mengatur nafasnya yang terengah-engah. Sekarang Yong Hwa mengikuti Seo Hyun sampai parkiran. Seo Hyun mengambil sepedanya kemudian berjalan menuntun sepedahnya meninggalkan sekolah. Yong Hwapun juga demikian, ia juga mengambil sepedanya kemudian mengikuti Seo Hyun lagi. Tentu saja dengan jarak yang tidak begitu jauh agar ia tidak kehilangan jejak Seo Hyun.
Sepanjang perjalanan keadaan menjadi hening. Seo Hyun memandang jalanan dengan tatapan kosong. Seperti ada sesuatu yang membebani pikirannya. Yong Hwa masih terus mengamatinya. Dan kini Seo Hyun berhenti tepat di depan sebuah taman kecil yang tidak jauh dari sekolah. Seo Hyun membiarkan dirinya menatap ke arah taman kecil itu sejenak. Yong Hwa menoleh ke pusat perhatian Seo Hyun yang kini berpusat ke taman kecil didepannya.
Beberapa saat kemudian Seo Hyun masuk ke  dalam taman kecil itu. Yong Hwa mengikutinya memasuki taman kecil itu. Tiba-tiba langkahnya terhenti lagi. Seo Hyun memandang satu keluarga yang sedang piknik disana. Terlihat sangat membahagiakan. Sekali lagi Yong Hwa juga ikut memandang apa yang menjadi pusat perhatian Seo Hyun.
Seo Hyun terdiam sejenak. Pikiranya menerawang pada 10 tahun lalu, ketika ia, eomma dan appanya pergi piknik tepat di taman yang indah ini. Setiap akhir pekan mereka selalu menghabiskan waktu bersama di taman ini. Taman yang menyisakan sejuta kenangan indah baginya. Seo Hyun sangat merindukan saat-saat bersama keluarganya seperti dulu. Sekarang tinggallah sepi. Appa dan eommanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Tak ada waktu lagi untuknya. Ia benar-benar sangat kesepian saat ini.
Tidak terasa air mata telah membanjiri pipi Seo Hyun. Buru-buru ia menghapus air matanya. Setelah itu, ia berjalan menuju kursi kayu yang berada tidak jauh dari tempat ia berdiri dan memarkirkan sepedanya di samping kursi kayu itu. Ia duduk sambil terus memandangi sebuah keluarga yang kelihatan sangat harmonis itu dengan pandangan kosong. Sementara itu, Yong Hwa masih tetap berada diposisinya. Tak sedetikpun mengalihkan tatapan matanya kepada yeoja berambut panjang itu.
Beberapa menit berlalu. Seo Hyun terlihat menundukan kepalanya dalam-dalam. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Yong Hwa mendekati Seo Hyun dengan membawa minuman dingin yang baru saja dibelinya. Yong Hwa menempelkan minuman dingin itu di pipi Seo Hyun dan seketika Seo Hyun terperenjat kaget.
“Ah~ dingin” kata Seo Hyun. Ia menaikkan kedua bahunya. Seo Hyun mendongakkan kepalanya. Dilihatnya seorang namja yang tersenyum ringan kepadanya.
“Ah~ sepertinya cuaca sangat panas. Minum minuman dingin sepertinya ide yang bagus” ucap Yong Hwa sembari menengadahkan kepalanya menatap langit yang tampak cerah itu. Tak lama, Yong Hwa berbalik menatap Seo Hyun lagi. Seo Hyun menatapnya datar.
“Ambillah..” ucap Yong Hwa lagi. Matanya memberikan isyarat agar Seo Hyun mengambil minuman dingin itu dari tangannya. Seo Hyun mengerutkan dahinya.
“Ambilah..” Yong Hwa tersenyum ringan.
Seo Hyun tampak ragu mengambil minuman itu tapi akhirnya ia pun mengambil minuman itu dari tangan Yong Hwa. Yong Hwa duduk disamping Seo Hyun. Mereka membuka kaleng minuman itu dan menyesapnya pelan.
“Haah.. segarnya..” guman Yong Hwa.
Seo Hyun tidak menanggapi. Yong Hwa mengigit bibir bawahnya. Seo Hyun meletakan kaleng itu di sampingnya. Seo Hyun memadang ke depan lagi. Tatapannya kosong. Yong Hwa sedikit mencuri-curi pandangan kepada yeoja cantik yang berada di sampingnya tersebut. Namun sepertinya yeoja itu tidak menyadarinya. Yeoja itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sejenak keadaan hening. Hanya terdengar suara samar-samar dari obrolan beberapa orang yang ada disana. Kicau burung yang sesekali terdengar diantara hembusan angin menambah kesan damai di taman itu. Tiba-tiba Yong hwa menarik tangan Seo Hyun agar ia mengikuti langkahnya. Mata sipit Seo Hyun membulat.
“Ya! Kita mau kemana?” tanya Seo Hyun dengan posisi berlari mengikuti Yong Hwa.
“Ikuti saja aku” sahut Yong Hwa. Senyum lebar terulas di bibir Yong Hwa.
 Seo Hyun tidak bertanya lagi, sepertinya ia pasrah ketika tangannya ditarik oleh Yong hwa. Sepuluh menit berlalu, mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah taman bermain yang tidak jauh dari taman berada. Mereka berdua masih mengatur nafasnya yang terengah-engah.
“Taraaaa…” ucap Yong Hwa. Seo Hyun mengedarkan pandangan ke sekeliling.
“Kajja! Kita naik kereta putar itu” Yong Hwa menarik tangan Seo Hyun untuk kedua kalinya.
Deg~
deg~
deg~
Jantung Seo Hyun serasa berhenti seperti udara yang seolah berhenti saat itu. Mendadak wajahnya menjadi panas melihat kereta putar yang tepat berada di depan matanya. Tempat itu mengingatkan kembali pada masa lalunya bersama kedua orang tuanya. Seo Hyun menghentikan langkah kakinya.
“Waeyo?” tanya Yong Hwa. Keningnya berkerut.
“Shireo! Aku tidak mau pergi kesana!” teriak  Seo Hyun. Seo Hyun menghempaskan keras tangan Yong Hwa lalu berlari meninggalkan Yong Hwa dengan mata yang penuh air mata. Air matanya tidak bisa terbendung lagi. Yong Hwa mengejar Seo Hyun dan meraih tangannya. Dia menebak bahwa tempat tersebut memiliki kenangan khusus antara Seo Hyun dengan kedua orang tuanya. Dan tak salah lagi tebakan itu benar.
“Mianhae, aku tidak tahu..” ucap Yong Hwa serba salah.
“Gwenchana.. biarkan aku pergi”
“Jeongmal mianhae.. tapi tolong temani aku disini, kita pergi ke permainan yang lain, ne?” cegah Yong Hwa.
“Mianhae. Aku tidak bisa!
“Jebal, Seo Hyun~ah” pinta Yong Hwa. Yong Hwa menarik tubuh Seo Hyun dan kini mereka saling berhadapan. Yong Hwa menghapus air mata Seo Hyun dengan kedua jari tangannya. Seo Hyun tetap menunduk. Perasaannya saat ini sungguh tidak karuan.
“Jebal. Uljimayo” pintanya lagi. Seo Hyun menghembuskan nafas kemudian mengangguk pelan. Senyum kemenangan menghiasi bibir Yong Hwa.
“Kajja!” ajaknya.
Mereka menaiki beberapa wahana yang ada di taman bermain itu. Ini sedikit menenangkan hati Seo Hyun. Terakhir mereka menaiki sebuah gondola untuk melihat pemandangan kota Busan di malam hari. Mereka duduk berhadapan. Seo Hyun melihat ke luar kaca. Tampak pemandangan yang sangat menakjubkan.
“Waw! Indah Sekali. Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini” guman Yong Hwa. Seo Hyun tetap diam. Tatapannya kosong menerawang jauh ke luar jendela. Sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan?
Akhirnya mereka sampai di tempat pemberhentian. Sekarang mereka berjalan bersampingan, menuntun sepeda mereka masing-masing menuju rumah. Keadaan hening. Hanya terdengar suara kendaraan yang berlalu-lalang di samping mereka. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.
“Hujan..” ucap Yong Hwa ketika rintikan hujan mulai turun membasahi tubuh mereka.
“Sebaikanya kita berteduh disana” tawar Yong Hwa sambil menunjuk ke halte bus yang tak jauh dari tempat mereka berpijak untuk berteduh. Mereka berlari menuju tempat itu agar tidak basah kuyup.
 “Haahh!” Yong Hwa mendesah pelan kemudian bertanya “Apa kau baik-baik saja?”
“Ne, aku baik-baik saja” jawab Seo Hyun cepat. 
Seo Hyun menatap tetesan air hujan yang jatuh dengan seksama. Semakin lama, ia hanyut dalam lamunanya sendiri. Yong Hwa menatapnya dengan tatapan heran. Ia sedikit mencondongkan kepalanya ke depan. Keningnya berkerut.
“Wae? Ada yang salah?” tanya Seo Hyun mulai sadar telah menjadi pusat perhatian. Yong Hwa yang salah tingkah buru-buru mengalihkan tatapannya ke depan.
An.. Anniyo!” jawabnya. Ia mengeleng cepat.
Yong Hwa memandang Seo Hyun dengan kepala sedikit menyodong ke depan lagi. Dan kali ini sepertinya Seo Hyun tidak memperdulikanya. Yong Hwa tersenyum tipis.
“Apa kau suka hujan?” tanyanya. Seo Hyun masih terdiam, ia memikirkan kata untuk menjawab. Ia mendengus pelan  lalu ia mengangkat bahu dan menjawab,
“Mungkin”
Beberapa menit berlalu tanpa suara, hanya terdengar hembusan angin yang lembut dan air hujan.  Yong Hwa memejamkan mata sejenak. Suasananya benar-benar damai.
“Aku suka sekali hujan” guman Yong Hwa. Memecah keheningan yang terjadi.
“Jinjjayo?” sahut Seo Hyun datar. Yong Hwa membuka matanya kembali dan menoleh.
“Ne..” Yong Hwa mengangguk antusias.
“Aku sangat menyukai hujan karena aku merasa damai ketika melihat rintikan air hujan. Suara rintihan air hujan yang jatuh dan hembusan angin yang menyejukkan membuat pikiranku tenang” lanjutnya.  Senyum masih terulas di bibirnya.
Seo Hyun mengangkat tangannya. Menengadah, menangkap air hujan yang jatuh mengalir melalui genting.  Ia masih menatap air hujan yang jatuh ditangannya. Matanya terpejam. Ia menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan. Dirasakanya suhu dingin di tangannya. Ya, hatinya merasa damai. Ia menghirup udara yang sejuk itu dan menghembuskanya lagi. Kini matanya terbuka kembali. Ia menatap air hujan yang jatuh di tangannya, seulas senyum singkat melekat di bibirnya. Yong Hwa ikut tersenyum. Rasanya baru pertama kali ia melihat senyum tulus itu, manis sekali.
Tiba-tiba senyum itu hilang dari wajah Seo Hyun dan berubah menjadi kepanikan. Seo Hyun menundukkan kepalanya panik. Yong Hwa mengerutkan alisnya bingung. Lalu ia memandang ke seberang jalan. Mobil berhenti disana ketika lampu merah. Di dalam mobil itu terdapat seorang ahjussi dan ahjumma yang menurutnya masih cukup muda. Yong Hwa memandang bergantian ke arah Seo Hyun dan mobil di seberang jalan itu. Masih ada kepanikan di wajah Seo Hyun.
“Apa dia eomma Seo Hyun?” Ucapnya dalam hati.
Ya, itu memang eomma Seo Hyun. Ia sedang bermesrahan dengan ahjussi yang selalu mengantar eommanya pulang. Mereka bercanda tawa disana.
Wajah Seo Hyun terasa panas. Matanya juga mulai terasa panas. Sepertinya matanya sudah mulai mengeluarkan kristal bening itu. Bibirnya mulai bergetar. Seo Hyun tidak kuat melihatnya. Ia berlari meninggalkan halte meski hujan turun dengan derasnya. Yong Hwa tercengang kaget. Matanya melebar.
“Seo Hyun-ah, wae? Kau mau pergi kemana?” Yong Hwa mengejar Seo Hyun ditengah derasnya air hujan yang turun. Seo Hyun tidak menjawab, ia masih tetap berlari menjauhi halte.
“Ya! Seo hyun-ah.. Seo Hyun-ah. Chakkaman!”
“Chakkaman!” Yong Hwa mengulangi kata itu dengan nada meninggi hingga Seo Hyun berhenti berlari. Yong Hwa mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
“Gwenchana! Jangan khawatirkan aku! Aku baik-baik saja!” ucap Seo Hyun masih terisak tangis, tak membalikkan badannya.
“Andwae! Kau pasti butuh teman sekarang ini” bantah Yong Hwa.
“Anni, gwenchanayo.. Sekarang pergilah” ucap Seo Hyun. Yong Hwa tahu yeoja yang berdiri di hadapannya itu mendapat kesulitan. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Ia kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengatakan sesuatu yang menghibur.
“Andwae! Aku harus memastikan kau baik-baik saja”
“Ya! Pergi, babo! Aku ingin sendiri!” bentak Seo Hyun berlari meninggalkan Yong Hwa. Yong Hwa mengejarnya lagi tapi belum begitu jauh ia mengejar, Seo Hyun jatuh pingsan. Mata Yong Hwa melebar.
“Ya! Seo Hyun-ah..” teriak Yong Hwa sembari berlari kepada Seo Hyun. Ia terkapar lemah di jalanan. Segera Yong Hwa mengangkat kepala Seo Hyun ke dalam pangkuannya.
“Ya! Seo Hyun-ah, ireona!” teriak Yong Hwa panik. Ia menepuk-nepuk pipi Seo Hyun agar yeoja itu segera sadar.
“Ya! Seo Hyun-ah.. Kim Seo Hyun, cepat buka matamu” Yong Hwa mengguncang tubuhnya tetapi mata indah itu tetap terpejam. Yong Hwa dilanda kepanikan.
“Seo Hyun-ah.. Seo Hyun-ah…” Yong Hwa bertambah panik karena ia tetap tidak sadarkan diri. Ia mengangkat tubuh Seo Hyun yang sangat lemah sekarang.
***
Yong Hwa memperhatikan seorang yeoja yang terbaring lemah dihadapannya. Wajahnya putih pucat. Sungguh malang sekali nasibnya. Yong Hwa merasa yeoja ini sangat kesepian. Mengingat kejadian yang ia lihat tadi ia bisa menebak bahwa keluarganya sudah tidak harmonis lagi seperti yang pernah di katakan Min Hyuk dulu.
Ia menatap wajah yeoja itu dengan rasa iba. Ingin rasanya ia selalu bersamanya agar ia tidak merasa kesepian lagi. Yong Hwa menempelkan telapak tangannya di atas kening yeoja itu, Seo Hyun.
“Panasnya belum turun” gumannya lirih.
Ia meletakkan kompres di atas kening Seo Hyun lagi. Tanpa sadar, Yong Hwa mengamati setiap lekuk wajah Seo Hyun. Ia baru menyadari bahwa yeoja yang terkapar lemah di hadapannya itu sangat cantik, bahkan ketika tertidur. Sekilas senyum menempel di bibirnya. Ia menyibakkan rambut Seo Hyun yang menutupi wajahnya. Kini tangannya mulai menyentuh hidung dan bibir Seo hyun dengan lembut. Senyum mengembang lagi di sudut bibirnya. Si pemilik hidung dan bibir indah itu mendadak terjaga. Seo hyun menggerak-gerakkan kepalanya. Yong hwa segera menarik tangannya ke posisi semula.
Seo Hyun membuka matanya pelan. ia mengamati sekeliling. Tempat itu terasa asing baginya. Matanya menangkap sesosok namja berada disampingnya sedang tersenyum padanya. Ia mengerutkan keningnya. Mereka bertemu pandang selama beberapa detik kemudian Seo hyun tersadar kembali.
“Oddiga?” tanya Seo Hyun dengan tatapan tajam.
“Jangan terlalu banyak bicara. Kau maih sangat lemah.”
“Dimana aku sekarang?” tanyanya lagi dengan nada tinggi. Ia mendudukkan badannya. Menatap namja disampingnya itu dengan tajam.
“Tenanglah! Jangan banyak bergerak. Kau masih sangat lemah. Kau berada di rumahku. Tadi aku ingin mengantarkanmu ke rumah tapi aku tidak tahu dimana rumahmu” jelas Yong Hwa panjang lebar.
“Aku harus pergi!” Seo Hyun segera menyibak selimut yang menutupi tubuhnya lalu menyambar tasnya yang berada di meja dan berjalan pergi.
“Ya! Seo Hyun-ah kau masih lemah. Kau harus istirahat disini” Seo hyun tidak menghiraukan.
“Ya! Seo Hyun-ah.. Kim Seo Hyun..” teriak Yong Hwa. Kepala Seo Hyun tiba-tiba terasa berdenyut-denyut. Astaga, ada apa lagi dengan dirinya? Pandangannya mulai kabur lagi dan tanpa hitungan detik ia terkapar di lantai. Mata Yong Hwa melebar dan mulutnya sedikit membuka melihat Seo Hyun pingsan kembali. Dengan sigap ia menghampiri Seo Hyun.
“Ya! Seo Hyun-ah.. buka matamu” Yong Hwa meletakan kepala Seo Hyun di pangkuannya dan menepuk-nepuk pipi Seo Hyun. Yong Hwa sangat panik.
“Ya! Ireona! Buka matamu! Palli~”
“Ya! Seo Hyun-ah!
***
Seo Hyun duduk di depan meja belajar yang menghadap jendela di kamar tidurnya. Ia sedang mengerjakan beberapa tugas sekolah yang diberikan Kang seonsangnim tadi pagi. Wajahnya tenang datar. Beberapa menit kemudian, ia mendongakkan kepalanya keluar jendela. Melihat bintang-bintang bertaburan di luar sana. Sungguh indah. Ia terlarut dalam alam bawah sadarnya sendiri. Angin malam sejuk menerpa wajahnya.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari kamar sebelah. Kamar kedua orang tuanya. Dengan sigap ia menoleh ke belakang. Benar saja, kedua orang tuanya terdengar sedang cekcok. “Dari dulu tak ada habisnya”batinnya.
Seo Hyun segera memutar kepalanya kembali ke posisi semula. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.  Jari-jari tangannya mendadak terasa dingin dan dadanya mendadak terasa nyeri. Wajahnya juga gelisah.
“Eomma, kemana saja, hah? Kenapa jam segini baru pulang?” terdengar suara bentakan appa dari kamar sebelah.
“Apa urusanmu, appa? Appa setiap hari juga pulang malam!” Ucap eomma tak mau kalah.
“Appa pulang malam karena kerja!”
“Tapi tidak setiap harikan lemburkan!”
“Appa memang harus lembur, ma! Sedang eomma kemana saja? setiap hari pulang malam?!”
“Eomma, ke rumah teman” jawab eomma cepat.
“Teman siapa lagi? Siapa namja yang mengantarkamu pulang tadi? Kemarin appa liat eomma juga pergi dengannya!”
“Memang kenapa kalau eomma pergi dengan Lee JinKi? Dia lebih baik dari appa. Lebih perhatian daripada ap..” sebelum selesai bicara, sebuah tamparan mendarat dipipi eomma.
“Appa..” Kristal bening mengalir dipipi eomma.
Seo Hyun tersentak kaget mendengarnya. Ia segera lari ke sudut ruangan. Duduk sambil memeluk erat kedua kakinya. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya kini telah membanjiri pipinya tanpa bisa di bendung lagi. ia sangat ketakutan ketika mendengar kedua orang tuanya bertengkar hebat. Masih terdengar cekcok di telinganya.
Prrang~~
Terdengar suara benda dibanting dengan keras. Seo Hyun makin bertambah terisak tangis. Ia sangat ketakutan dalam keadaan seperti ini. Tak ada seorangpun yang menemaninya sekarang. Terkadang Han ahjumma yang menenangkanya tetapi  Han ahjumma sedang pulang ke rumah karena sedang sakit. Tinggalah ia sendirian disana. Meratapi nasib buruknya. Terisak tangis tanpa ada seorangpun yang memperdulikannya.
***
Teng tengggg….
Bel tanda istirahat telah berbunyi. Seketika murid-murid berhamburan keluar kelas. Namun tidak dengan Yong Hwa, Min hyuk, Jung Shin dan Jong Hyun. Mereka malas sekali beranjak dari tempat duduk mereka. Jung Shin tampak sesekali memainkan bolpoin di tangannya, bosan. Tak ada pembicaraan apapun diantara mereka sampai terdengar suara Min Hyuk yang memecah kesunyian itu.
“Hyung, aku bosan. Bagaimana kalau kita bermain basket?” ajak Min Hyuk. Senyum lebar menghiasi bibirnya.
”Hmm.. sepertinya itu ide yang bagus” sambung Jong Hyun.
“Oke. Aku juga setuju dengan pendapatmu. Hyung kau mau ikut?” tanya Jung Shin kepada Yong Hwa. Ternyata ia sedang melamun. Yong Hwa mengerjap lalu menoleh.
“Ne?”
“Hyung mau ikut bermain basket atau tidak?” ulang Jung Shik lagi. Min Hyuk tampak mengangguk berharap Yong Hwa menjawab seperti apa yang di harapkannya.
“Andwae.. Aku sedang tidak ingin keluar kelas”
“Hyung, ayolah..” rengek Min Hyuk.
“Ne hyung. Ayo ikut bermain dengan kami” Jung Shik ikut merengek. Yong Hwa menatap satu persatu teman-teman dekatnya itu yang memeperlihatkan tampang memelas di wajah mereka. Beberapa detik kemudian ia terlihat sedang berfikir, lalu menjawab”Baiklah”
Senyum cerah menghiasi bibir ketiga namja yang sedang duduk disampingnya itu.
“Kajja!”
Mereka berempat berjalan meninggalkan kelas.  Melewati koridor yang sangat panjang. Mereka sesekali melemparkan lulucon dan tertawa bersama, terkecuali Yong Hwa. Ia hanya diam. Diam cukup lama. Ia masih sibuk dengan pikirannya. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celana dan berjalan dengan kepala sedikit menunduk. Ia sedang memikirkan seorang yeoja yang beberapa hari ini telah menggangggu pikirannya. Ya, itu Seo Hyun. Ia masih sangat penasaran dengan yeoja cantik nan misterius itu.
Mereka melewati perpustakaan tua sekolah yang berada tidak jauh dari lapangan basket. Tak tau mengapa, Yong Hwa sangat ingin sekali melihat tempat itu. Yong Hwa menoleh ke perpustakaan tua itu. Mendadak langkahnya berhenti. Matanya menangkap sesosok yeoja sedang duduk di bangku perpustakaan. Dan tak salah lagi itu Seo Hyun.
“Hyung, kenapa berhenti?” tanya Min hyuk menyadari bahwa Yong Hwa berhenti berjalan. Mereka bertiga saling berpandangan heran.
“Hyung..”
“Ah. Ne?”
“Kenapa berhenti? Ada yang salah?” tanya Min Hyuk sambil menengok ke dalam perpustakaan.
“Ah~ aniyo. Aku ingin ke toilet sebentar. Kalian pergi duluan saja” ujar Yong Hwa berbohong. Ia sedikit gugup.
            “Oh~ baiklah kami pergi dulu” jawab Min Hyuk tanpa curiga sedikitpun.
“Cepat susul kami hyung” timpal Jung Shik.
“Ne..”
Setelah mereka meninggalkan Yong Hwa di depan perpustakaan, Yong Hwa berjalan pelan memasuki perpustakaan yang memang dibilang cukup sepi itu. Ia mendekati meja baca Seo Hyun dan duduk tidak jauh dari tempat itu. Matanya tidak berpindah satu detikpun dari Seo Hyun. Ia terdiam cukup lama. Suasana sangat hening. Maklum saja hanya ada segelintir orang saja yang berada di perpustakaan tua itu.
Tatapan matanya masih tertuju kepada yeoja bermata indah itu. Sepertinya ia melamun lagi. Terbukti sejak Yong Hwa duduk di tempat itu, Seo Hyun hanya melototi halaman itu tanpa sekalipun membaliknya. Yong Hwa melihatnya dengan rasa iba. Mungkin appa dan eommanya bertengkar lagi, tebak Yong Hwa. Dan mungkin juga ia kesepian karena orang tuanya jarang memperhatikannya. Tebakan Yong Hwa memang benar.
Sebuah ide cemerlang tiba-tiba saja terlintas di kepala Yong Hwa. Ia memutar bola matanya kemudian  beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menuju meja baca tempat Seo Hyun berada. Sesampainya, ia langsung menarik tangan Seo Hyun agar ia ikut dengannya. Seo Hyun tersentak kaget. Matanya melebar. Yong hwa menariknya keluar perpustakaan. Buku yang di bawa Seo Hyun berjatuhan ke lantai. Ia bingung kenapa Yong Hwa menariknya keluar ruangan.
“Ya! Apa yang kau lakukan? Kita mau kamana?” tanya Seo Hyun bingung. Alisnya berkerut. Yong Hwa tak menggubris, ia terus menarik paksa tangan Seo Hyun.
“Ya! kita mau kemana?” teriaknya lagi. Banyak pasang mata yang menatap sinis mereka.
“Ya! kita mau kemana?” bentak Seo Hyun dengan keras, seketika Yong Hwa berhenti. Berbalik menatap Seo Hyun. Yong Hwa terdiam sejenak kemudian menjawab ”Jangan banyak bertanya. Ikuti saja aku” Yong Hwa berbalik dan berjalan lagi.
“Ya! sheiro!” Seo Hyun berusaha melepas genggamannya. Tetapi itu semua sia-sia, genggaman Yong Hwa terlalu kuat. Seo Hyun mendesah dan hanya bisa pasrah mengikutinya. Sekarang mereka sampai ke tempat parkir. Yong Hwa mengambil sepedanya yang berada di paling ujung tempat parkir tersebut.
“Ayo naik”perintah Yong Hwa. Seo Hyun hanya menatapnya dingin.
“Cepat naiklah” Seo Hyun tetap menatapnya dingin tanpa berkata sepatah katapun. Seo Hyun membalikan badannya bersiap meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba ada sesuatu yang menahannya. Tangannya di tarik Yong Hwa sehingga ia berbalik dan duduk diboncengan sepeda.
“Yaaaa!” bentak Seo hyun. Yong Hwa hanya tersenyum lebar. Ia segera mengayuh sepedanya keluar sekolah.
“Ya! turunkan aku sekarang! Palli~” tidak ada respon dari Yong Hwa.
“Ya! turunkan aku sekarang!” bentaknya lagi.
“Berpeganganlah atau kau akan terjatuh” ancamnya.
“Aiish! Andwae! Cepat turunkan aku sekarang!” Yong Hwa tak menjawab. Ia terus mengayuh sepedanya lebih kencang sehingga Seo Hyun terperanjak dan refleks memegang pinggang Yong Hwa. Yong Hwa tersenyum lagi.
“Ya! kau gila? Ini cepat sekali!”
“Diamlah atau aku akan menambah kecepatannya.”
“Turunkan aku sekarang” benar saja, Yong hwa mengayuh sepedanya lebih cepat.
“Aaaa.. Kau gila?” ucap Seo Hyun sambil menutup matanya karena takut.
“Anni. Sebentar lagi kita akan sampai jadi bersabarlah” Yong hwa masih tetap tersenyum sedangkan Seo Hyun hanya pasrah lagi mengikutinya tanpa dapat mengelak lagi.
Beberapa menit berlalu, mereka sampai di sebuah jembatan di tepi sungai  yang sepi. Pemandangan tempat itu sangat indah.  Suasana sungguh tenang. Burung terbang kesana kemari dan sesekali memamerkan kicauan merdunya. Sungguh Seo Hyun belum pernah pergi ke tempat seindah itu.
“Kita sudah sampai. Turunlah.” Ucap Yong Hwa. Seo Hyun segera turun. Di tatapnya Yong Hwa dengan datar.
“Kenapa kau ajak aku kesini?”
Yong Hwa berjalan menuju pinggiran sungai dan Seo Hyun mengikuti dibelakangnya. Yong Hwa menutup kedua matanya. Menghirup udara sejuk tempat itu kemudian membuka matanya kembali.
“Sangat indah, bukan?” Seo Hyun menyapukan pandangannya ke segala arah dengan ekspresi seperti biasa. Memang tempai itu sangat indah tetapi sedikitpun Seo Hyun tidak menaruh perhatian ke tempat itu.
“Kau bisa melepas penatmu disini. Teriaklah sesuka hatimu agar semua bebanmu bisa berkurang. Palli!” ucap Yong Hwa sambil menoleh ke arah Seo Hyun dan tersenyum. Seo Hyun mengangkat kedua alisnya pertanda heran.
“Aaaaaaght…” teriak Yong Hwa. Yong hwa menoleh lagi dan memberi isyarat agar Seo Hyun mengikutinya.
“Aaaaaght..” teriaknya lagi.
“Dulu waktu aku belum pindah ke Jepang, aku sering kesini ketika suasana hatiku buruk. Berteriak hingga suaraku habis. Dan hasilnya suasana hatiku menjadi lebih baik” Ucap Yong Hwa.
“Cobalah” Yong Hwa menyinggungkan senyuman di bibirnya. Seo Hyun tampak masih ragu tapi akhirnya ia berteriak juga.
“Aaaaaagh….” Seo Hyun mencoba pertama kalinya.
Astaga! beban yang berada difikirannya serasa sedikit berkurang. Yong hwa tersenyum melihatnya.
“Aaaaaaght…” teriaknya lagi. Seo Hyun terus berteriak karena suasana mulai hatinya membaik. Seo Hyun member jeda untuk menata nafasnya yang terengah-engah.
“Apa kau sedikit baikan?” tanya Yong Hwa. Seo Hyun mengangguk pelan kemudian berteriak lagi. Yong Hwa tersenyum , sedetik kemudian ia ikut berteriak bersama Seo Hyun.
***
Seo Hyun dan Yong Hwa menuntun sepeda menuju rumah. Suasana begitu hening. Hmm.. sangat hening. Tak ada pembicaraan sekalipun. Suara kendaraan pun tak terdengar karena memang sudah sangat malam. Yong Hwa berniat mengantar Seo Hyun sampai kerumahnya karena takut terjadi sesuatu dengannya.
Dua puluh menit mereka berjalan akhirnya mereka sampai di depan rumah Seo Hyun. Seo Hyun memasuki halaman rumahnya tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
“Aiish.. yeoja seperti apa dia? Masuk tanpa mengatakan sepatah katapun padaku?” batin Yong Hwa.
“Seo Hyun-ah..” panggilnya. Seo Hyun yang sedang berjalan di halaman rumahnya menoleh. Tanpa ekspresi.
Yong hwa tersenyum padanya lalu berkata ”Annyeong Jumusseyo.. semoga kau mimpi indah malam ini” Seo Hyun mengangguk pelan dan membalikan badan bersiap masuk ke rumah.
“Oh, Seo Hyun~ah..” panggilnya lagi.
“Massalah.. mm.. masalahmu, jangan banyak difikirkan. Jika kau butuh teman cari saja aku. Aku akan siap untukmu”Ucap Yong Hwa terbata-bata. Seo Hyun mengerutkan kedua alisnya.
“Oh~ ak.. akuu hanya ingin membantumu saja, jika kau tidak keberatan sih” ucap Yong Hwa masih terbata-bata. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Oh..” Seo Hyun mengangguk lagi.
“Hmm.. baiklah, aku akan pulang sekarang, annyeong..” ucap Yong Hwa sedikit canggung. Ia kembali menuntun sepeda menjauhi rumah Seo Hyun tetapi langkahnya sempat berhenti karena mendengar suara. Suara Seo Hyun. “Gomawo”
Yong Hwa menoleh. Mereka bertemu pandangan selama beberapa detik.
“Oh~ ne, ini bukan apa-apa” ucap Yong Hwa memecah kecanggungan. Ia tersenyum.
“Masuklah, ini sudah malam”
“Ne, gomawo”
“Aku benar-benar pergi sekarang. Annyeong!”
“Annyeong”
***
Yong Hwa berjalan keluar dari gerbang sekolah. Sebentar kemudian, langkahnya terhenti. Matanya menatap langit luas. Ia menarik nafas cepat dan menghembuskannya kasar. Ia memasukan tangannya ke dalam saku celananya kemudian berjalan seperti tanpa arah. Berjalan dengan malasnya sampai kakinya menyentuh benda asing. Kaleng bekas tergeletak disana. Alisnya terangkat. Kakinya reflek bergerak menendang kaleng itu pelan. Menendang sambil terus berjalan menelusuti trotoar yang tidak terlalu ramai itu. Menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
Tak terasa ia telah berjalan sangat jauh hingga menemukan sebuah sungai. Sungai dengan air jernih hingga menimbulkan kedamaian tersendiri. Ya, ini adalah tempat favoritnya. Ia mengedarkan pandangannya. Sekilas senyuman menghiasi bibirnya. Air mengalir sungguh menenangkan. Pepohonan hijau di tepi sungai meneduhkan jiwa. Rerumputan liar seolah menari diterpa angin sore. Tunggu. Matanya menatap samar-samar bayangan yeoja. Matanya menyipit. Yeoja itu duduk di tepi sungai dengan memeluk kedua kakinya. Menatap kosong ke sungai.
Yong hwa melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 04.45 pm. Hari sudah sangat sore, kenapa ada yeoja yang duduk disana? Nuguya? Yong Hwa berjalan menghampirinya.
“Seo Hyun?” gumannya nyaris tanpa suara. Matanya melebar. Sedetik kemudian seulas senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia segera duduk disamping Seo Hyun.
“Hei, sedang apa sendirian disini?” tanya Yong Hwa tanpa menoleh sedikitpun. Seo Hyun menoleh ke arahnya dan menatapnya heran. Sekarang Yong Hwa menoleh dan menampilkan senyum manisnya. Seo Hyun menatapnya beberapa detik kemudian berdiri, bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Mata Yong Hwa membulat. Seketika tanganya meraih tangan kanan Seo Hyun.
“Chakkaman!” Seo Hyun menatapnya kosong kemudian menarik tanganya, berusaha melepas genggaman Yong Hwa. Tapi Yong Hwa menggenggamnya semakin erat.
“Chakkaman!” ulangnya lagi.
Seo Hyun tetap memberontak sehingga Yong Hwa menarik tangannya lebih keras hingga Seo Hyun jatuh tepat dipangkuannya. Wajah kami berjarak cukup dekat. Mata mereka bertemu cukup lama. Sepi . Sunyi. Semilir angin sore hari menerpa tubuh mereka. Tanpa sadar Yong Hwa meulai mengamati setiap lekuk wajah alaminya Seo Hyun dengan seksama. Yeppo. Bahkan tidak terasa Yong Hwa menahan nafasnya. Seo Hyun segera bangkit dari pangkuan Yong Hwa, duduk kemudian saling membuang muka. Yong Hwa menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
“Wae?” tanya Seo Hyun.
“An.. anni, tunggulah disini sebentar. Aku ingin menunjukan sesuatu padamu” Yong Hwa melihat jam tangannya kembali kemudian berkata “Tunggulah lima menit lagi.”
Keadaan hening. Hanya terdengar suara angin dan air yang mengalir. Lima menit telah berlalu, yang ditunggu-tunggu sudah tiba.
“Lihatlah!” ucap Yong Hwa sambil mengarahkan jari telunjuk kirinya ke arah barat. Matahari berwarna orange dengan semburat kemerahan akan segera terbenam. Pamandangan sore itu sangat indah. Tak ada satupun awan yang menyelimutinya sehingga benar-benar terlihat jelas. Seo Hyun melebarkan matanya takjup.
“Indah, bukan?” tanya Yong Hwa.
Seo Hyun menoleh kemudian menjawab “Oh~” Senyum menghiasi hatinya. Pemandangan indah itu sedikit mengurangi beban fikirannya.
“Apa kau suka?” Seo Hyun mengagguk kearahnya. Yong Hwa tersenyum lebar.
***
Angin malam semilir menerpa tubuh ketika kedua insan yang sedang melangkahkan kakiku di atas trotoar itu saling hanyut dalam fikirannya masing-masing. Hm.. rasa dingin itu telah menusuk kulit mereka.
Yong Hwa menengok ke samping. Seo Hyun masih disitu, diam membisu. Menerawang ke depan dengan pandangan kosong. Ia paham betul dengan keadaan Seo Hyun. Jiwanya sedang terguncang dengan apa yang di alami keluarganya sekarang. Benar-benar malang.
Yong Hwa menghembuskan nafasnya pelan kemudian merapatkan rompi seragamnya dan kembali fokus ke depan. Sepi. Sunyi. Biarlah ia sibuk dengan fikirannya.
Terdengar suara gemuruh disusul dengan cahaya kilat yang seolah menyambar. Kepala kami mendongak ke atas. Tak berapa lama hujan turun membasahi tubuh kami.
“Omo! Hujan!” seru  Seo Hyun panik.
“Ayo kita berteduh. Palli!”
“Ne, ayo lari.. rumahku sudah dekat, di ujung perempatan itu” Seo Hyun mengarahkan telunjuknya ke arah rumah yang berada di ujung perempatan tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Ne, kajja!”
Mereka berlari dengan tangan berada di atas kepala agar air hujan tidak langsung jatuh ke wajah. Beberapa menit kemudian mereka sampai di teras rumah Seo Hyun. Mereka masih mengatur nafasnya masing-masing sehabis berlari. Namun begitu, tubuh mereka tetap basah kuyup. Seo Hyun berjalan ke depan pintu rumah. Ditekannya beberapa kali tombol pintu itu, tetapi tak ada satupun yang menyahut.
Han Ahjumma.. Appaaa.. eommaa.. “ panggil Seo Hyun sambil terus menekan tombol belnya.
Han Ahjumma.. appa.. eommaa..”panggilnya lagi. Tak ada yang keluar dari rumah besar itu. Seo Hyunpun menyerah. Ia berbalik menghampiri Yong Hwa.
“Sepertinya appa dan eomma belum pulang” ucap Seo Hyun datar.
Han Ahjumma?” tanya Yong Hwa. Seo hyun melirik jam tangannya sebentar kemudian menjawab “Sepertinya Han Ahjumma sudah pulang”
“Pulanglah, aku baik-baik saja. Aku akan menunggu appa dan eomma pulang.” sambungnya lagi.
Yong Hwa mengangkat kedua alisnya sedangkan Seo Hyun berjalan kemudian duduk dengan tubuh disandarkan ke dinding. Yong Hwa duduk di sampinganya. Menatapnya sesaat.
“Tidak usah merasa kasian padaku. Aku sudah terbiasa seperti ini” ucap Seo Hyun. Pandangannya tetap lurus ke depan.
“Anni, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja” Seo Hyun menoleh kemudian berkata “Aku akan baik-baik saja, sungguh. Sekarang pulanglah” Seo Hyun membalikan kepalanya seperti semula.
“Anni, aku takut kau terjadi sesuatu. Lagi pula sekarang sudah malam” Seo Hyun tidak menjawab.
Yong Hwa masih tidak mengalihkan pandangan. Ia melihat tubuh Seo Hyun menggigil. Pasti Seo Hyun sangat kedinginan tapi ia tidak bisa memberinya apa-apa. Rompinya juga basah sehingga tidak mungkin memberikan kehangatan padanya.
“Mau rumahku?” tawar Yong Hwa hati-hati.
“Mwo?” Seo Hyun terbelalak.
“Maukah kau pergi ke rumahku? Emm.. rumahku tidak jauh dari sini.” Seo Hyun memiringkan kepalanya dan sedikit mengangkat alisnya.
“Lagi pula kau sudah pernah pergi ke rumahku, bukan?” Seo Hyun tampak berfikir.
“Aku hanya memastikan kau tidak sakit. Kulihat kau menggigil kedinginan dan bajumu basah kuyup” sambung Yong Hwa memastikan.
Seo Hyun menatapnya sesaat, lalu perlahan-lahan keraguan memudar dari matanya. Ia menjawab “Baiklah.” Yong Hwa tersenyum ringan dan mereka beregas pergi.
“Chakkaman!” ucap Seo Hyun. Yong Hwa menatapnya heran. Seo Hyun berjalan beberapa langkah, dia mengambil payung yang tergeletak tak jauh disana.
“Kajja!” ucap Seo Hyun sambil membuka payungnya yang lebar.
Mereka berjalan pelan melewati derasnya air hujan yang turun. Yong Hwa beberapa kali mencuri pandangan ke Seo Hyun dan sesekali senyum-senyum sendiri. Yong Hwa berharap rumahnya sangat jauh agar momen itu tidak segera berakhir. Namun harapannya tidak terkabul, mereka telah sampai di depan rumah Yong Hwa. Yong Hwa membuka pintu kemudian mempersilahkannya masuk.
“Aku pulang” ucap Yong Hwa.
“Oh~ Yong Hwa kau sudah.. nuguya?” ucap Jung Il Woo, appa Yong Hwa yang duduk di ruang tamu. Ia terkejut.
“Yong Hwa~yah, kau sudah pulang?” ucap Jung Soo Jung, eomma Yong Hwa yang baru saja keluar dari  dari dapur dan melepas celemeknya. Ia sama terkejutnya dengan appa Yong Hwa.
“Oh~ nugusaeyo?” tanya eomma Yong Hwa kaget. Ia mengangkat kedua alisnya.
“Annyeong haseyo.. ahjumma, ahjussi. Kim Seo Hyun imnida” ucap Seo Hyun memperkenalkan diri dan membungkukkan badannya pelan.
“Dia teman Yong Hwa, appa, eomma” terang Yong Hwa. Ia tersenyum.
“Bolehkan dia menginap disini? Appa dan eommanya belum pulang ke rumah sedangkan rumahnya masih terkunci” terangnya panjang lebar. Appa dan eomma Yong Hwa masih terdiam. Sibuk dengan fikirananya masing-masing. Beberapa detik berlalu, appa dan eommanya mulai tersadar.
“Oh~ ne” ucap appanya. Ia tersenyum ringan. Eomma Yong Hwa menatap Seo Hyun dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia baru menyadari bahwa gadis muda ini basah kuyup.
“Aigoo, kau basah kuyup. Pasti kau kedinginan. Masuklah” eomma Yong Hwa menghampiri Seo Hyun untuk mempersilahkannya masuk. Yong Hwa mengikutinya dari belakang.
“Tunggu disini. Aku akan mengambilkan baju milik sepupu Yong Hwa yang kemarin mengunjungi kami. Kebetulan bajunya tertinggal disini. Aku rasa dia tidak keberatan meminjamkan bajunya untukmu” ucap eomma Yong Hwa ramah. Ia berjalan memasuki kamar. Tak berapa lama ia keluar dengan sepasang baju berada ditangannya.
”Masuk dan pakailah ini” ucap eomma Yong Hwa sembari menyodorkan baju yang berada di tangannya. Ia tersenyum ramah.
“Gamsahamnida, ahjumma..” ucap Seo Hyun kemudian masuk ke kamar yang telah disediakan. Eomma Yong Hwa beralih memandang Yong Hwa.
“Gomapta, eomma” Yong Hwa tersenyum lebar. Eommanya juga ikut tersenyum.
“Ini bukan apa-apa. Cepat ganti bajumu yang basah itu. Nanti ajaklah dia turun untuk makan malam” ucap eomma Yong Hwa sambil menepuk pelan bahu anaknya itu.
“ne.. ne..” Yong Hwa berjalan cepat memasuki kamar. Eommanya yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum kemudian kembali ke dapur.
***
Yong Hwa membuka pintu kamarnya sedang Seo Hyun juga baru saja keluar dari kamarnya. Kamar mereka memang bersebelahan dan pintu kamarnya juga berdekatan. Yong Hwa menatap Seo Hyun dari dari ujung kaki sampai ujung rambut. Baju itu tampak pas dibadannya. Seo Hyun memiringkan kepalanya. Sedetik kemudian  Yong Hwa tersadar.
“Oh~ kau sudah selesai?”
Ne”
“Kajja, eomma meminta kita segera turun untuk makan malam”
“Ne”
Mereka berjalan turun dari lantai dua. Di bawah sudah terlihat appa, eomma dan namdongsaeng Yong Hwa duduk di meja makan. Yong Hwa dan Seo Hyun duduk bersebelahan. Seo Hyun duduk di samping eomma Yong Hwa sedangkan Yong Hwa duduk di sebelah namdongsaengnya. Appanya berada di paling tengah.
“Omo! Noona, kau cantik sekali” puji namdongsaeng Yong Hwa.
“Ne, Yong Min-ah, dia sangat cantik. Bajunya sangat cocok di badannya” timpal eomma Yong Hwa.
“Gamsahamnida. Maaf jika merepotkan”
“Anniyo. Anggap saja rumah sendiri” jawab appa Yong Hwa.
“Oh ya, Yong Min-ah, ini Kim Seo Hyun. Seo Hyun-ah ini Jung Yong Min, dia dongsaengku” ucap Yong Hwa sambil menunjuk ke Yong Min dan Seo Hyun.
“Hyung, apa dia yeojachingumu?” tanya Yong Min polos. Seketika mata tertuju ke arah Yong Hwa dan Seo Hyun. Seo Hyun terbelalak.
“Aa.. Anni.. kami hanya berteman. Ayo kita makan nanti keburu dingin.” ucap Yong Hwa mengalihkan pembicaraan. Mereka menyantap makanan dengan lahapnya. Sesekali mereka meluncurkan lulucon sehingga mereka tertawa bersama-sama. Seo Hyun iri dengan mereka. Iri dengan kebersamaan mereka. Iri dengan keceriaan mereka. Iri dengan keharmoisan keluarga ini.
“Seandaianya appa dan eomma bisa kembali seperti dulu. Hmm.. aku rindu kebersamaan seperti dahulu” batin Seo Hyun. Rasanya air matanya ingin menetes tapi buru-buru ditahannya.
“Ini  makanlah” ucap eomma Yong Hwa sambil meletakkan lauk ke dalam mangkuk Seo Hyun. Seo Hyun menatap eomma Yong Hwa sesaat. Ia rindu saat eommanya memanjakannya seperti ini.
“Bolehkan aku memeluk ahjuma?” tanya Seo Hyun.
Eomma Yong Hwa bingung. Ia memandang sekeliling. Tampak Yong Hwa menangguk berharap eommanya mengabulkan permintaannya. Eomma Yong Hwa tersenyum ramah kepada Seo Hyun dan menjawab “oh.. hahaha.. Ne, tentu saja” ia tersenyum ramah.
Seo Hyun memeluk eomma Yong Hwa dengan erat. Matanya terpejam. Cairan bening keluar dari kedua matanya yang terpejam. Ia rindu pelukan ini, pelukan hangat seorang eomma. Sudah lama sekali ia tidak merasakan pelukan hangat seperti ini. Ia berharap waktu berhenti saat ini, tetapi itu mustahil. Ia segera mengapus air matanya dan melepas pelukannya.
“Gamsahamnida” ujar  Seo Hyun. Seo Hyun tersenyum cerah.
Degg~
Senyum itu. Pertama kalinya Yong Hwa melihat Seo Hyun tersenyum manis kepada orang lain. Jinjja Yeppo. Yong Hwa ikut tersenyum.
“Aku akan makan ini” ucap Seo Hyun sambil memasukan potongan daging yang diberikan eomma Yong Hwa kepadanya.
“Hm.. Ini sangat enak”
“Jinjja?”
“Ne, ini benar-benar enak” Seo Hyun masih tetap tersenyum.
***
Seo Hyun berdiri di balkon. Memerhatikan hujan yang masih turun dengan derasnya. Sepertinya hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Udara sejuk berhembus menerpa tubuhnya. Sekarang suasana hatinya cukup baik.
Yong Hwa berjalan menuju kamarnya. Ketika ia baru saja menyentuh gagang pintu tiba-tiba langkahnya terhenti. Matanya terpaku pada punggung seorang yeoja yang berada di balkon tidak jauh dari sana. Tak tau kanapa, tanpa sadar kakinya melangkah menghampirinya dan berhenti tepat disampingnya. Ia hirup udara segar dalam-dalam sambil memejamkan matanya kemudian menghembuskannya pelan dan membuka matanya kembali.
“Udaranya sangat segar.” kata Yong Hwa.
“Ne”
“Kanapa kau belum tidur?”
“Aku masih ingin disini” sahut Seo Hyun. Yong Hwa mengangguk-anggukan kepala.
“Mm.. Yong hwa-ya, kenapa kau selalu membantuku? Aku tidak mau kau membantu karena kasian padaku” ucap Seo Hyun. Yong Hwa menoleh ke arahnya. Otaknya di paksa keras untuk berfikir bagaimana ia harus menjawab agar yeoja itu tak menghindarinya lagi.
“Anni, ini hanya bantuan untuk seorang teman saja”jawabnya. Seo Hyun tak bertanya lagi.
“Mm.. Seo Hyun-ah..” panggil Yong Hwa, masih melihat lurus ke depan.
“Hm?” lalu Yong Hwa menoleh ke arahnya dan tersenyum.
“Senyummu tadi sangat manis”
“Mwo?” Seo Hyun menoleh, matanya terbelalak. Jarak wajah mereka sangat dekat. Masih bisa dirasakan hembusan nafas diantara keduanya. Mereka bertemu pandang beberapa saat. Detak jantung tidak secepat biasanya. Tanpa sadar mereka menahan napas dan ketika tersadar, mereka saling membuang muka.
“Ak-k-aku mulai mengantuk. Aku akan pergi tidur. Apa kau tidak kembali ke kamar?” ucap Yong Hwa salah tingkah.
“Anni. Aku masih ingin disini” sela Seo Hyun cepat.
“Baiklah, aku akan ke kamar. Annyeong jumusseyo”
“Ne, annyeong jumusseyo..” setelah Yong Hwa pergi, Seo Hyun menempelkan tangannya di depan dada. Rasa itu masih terasa. Kenapa ini? tidak seperti biasanya aku seperti ini. oh dear, waeyo?
Sementara itu Yong Hwa berdiri di depan jendela kamarnya. Tangannya juga ditempelkan di depan dada. Deg, Deg.. Deg,Deg~ terasa sekali jantungnya berdetak abnormal.  Pikirannya melayang ke kejadian yang baru saja berlalu. Jinja, jinja yeppo.. Yong Hwa senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba ia tersadar.
“Anni, anni, anni… kenapa aku memikirkannya? Seharusnya kau menggosok gigi dan pergi tidur, Yong Hwa-ya!!” runtuknya pada diri sendiri.
“Aissh, aku bisa benar-benar gila!”
***
Seo Hyun sedang duduk di depan meja belajar. Memandang kosong keluar jendela, ke arah langit Busan yang bertabur bintang. Jelas sekali ada sesuatu yang mengganggu pikiran yeoja itu. Wajahnya terlihat murung datar. Tangan kecilnya memainkan bolpoin yang sedari tadi berada di tangan kanannya.
Tiba-tiba terdengar suara guci yang dibanting dari kamar sebelah, diiringi suara jeritan dari sang eomma. Ia mengerjap satu kali, lalu menoleh. Terdengar suara cekcok antara eomma dan appa yang semakin keras. Pertengkaran ini sepertinya lebih parah dari biasanya.
Seo Hyun mendesah lalu menelan ludah dengan susah payah. Air mata mulai membayang dimatanya. Dia merasa tidak tahan lagi. Dadanya amat terasa sesak, sangat sulit untuk bernafas. Amat terasa sakit.
Ia menutup buku didepannya dengan kasar. Tangannya meraih mantel berwarna coklat muda yang sedari tadi tergeletak di atas ranjang lalu berjalan ke pintu dengan langkah cepat. Ia menutup pintu kamar lagi dengan kasar. Kakinya dipaksa berlari cepat keluar rumah. Berjalan tanpa arah tujuan. Air mata masih mengalir deras dari kedua matanya. Tanpa benar-benar disadari, langkah kakinya membawanya ke sebuah taman kecil yang sunyi senyap. Lampu taman menyala redup menciptakan suasana remang-remang. Ia hempaskan tubuhnya ke bangku taman. Menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia masih terisak tangis, menundukkan kepala dalam-dalam. Tubuhnya bergetar kuat. Dadanya sesak sekali.
“Seo Hyun-ah, waeyo?” tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya. Kepalanya seketika mendongak ke atas. Ternyata itu Yong Hwa yang sedang menatapnya dengan alis berkerut. Buru-buru ia palingkan wajahnya dan menghapus air matanya. Seo Hyun bangkit lalu beranjak pergi.
“Chakkaman!!”teriak Yong Hwa. Seo Hyun berhenti.
“Kenapa kau menangis?” ucapnya lagi tetapi Seo Hyun tidak menghiraukannya dan berjalan lagi. Yong Hwa mengejarnya lalu melingkarkan tangannya di bahu Seo Hyun erat sehingga ia berhenti.
“Waeyo? Kau pasti ada masalah?”Seo Hyun tak menjawab. Air matanya tak mau berhenti mengalir dari kelopak matanya.
“Aku tahu kau pasti sedang ada masalah.. Ceritakan saja padaku. Aku berjanji aku akan menjadi pendengar setiamu, ne?” tiba-tiba Seo Hyun membalikan tubuhnya dan memeluk erat Yong Hwa. Yong Hwa tersentak kaget. Ia mengerjapkan matanya.
Sebentar saja,” gumam Seo Hyun, tanpa melepaskan pelukannya. “Biarkan aku begini sebentar saja.
“Oh.. ne..” Yong Hwa tersenyum tipis. Diusapnya pucuk kepala Seo Hyun dengan lembut agar ia merasa sedikit tenang. Meraka sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Terisak, yeoja itu masih terus terisak. Entah mengapa hatinya juga ikut merasakan sakit.
Tidak lama setelah itu, Seo Hyun melepaskan pelukannya. Ia menatap namja dihadapannya itu lekat- lekat.
“Kau baik-baik saja?” tanya Yong Hwa sambil memegang kedua pundak Seo Hyun yang masih bergetar. Ia menatap lurus ke mata Seo Hyun.
“Ne.. aku baik-baik saja, gomawo..”
“Kau pasti sedang ada masalah, bukan? Apa kau mau berbagi padaku? Mungkin saja aku bisa membantumu” katanya sungguh-sungguh. Seo Hyun terdiam sesaat.
”Bolehkah aku menceritakannya padamu?”
“Tentu saja. Aku akan menjadi pendengar setiamu. Kau pasti butuh teman untuk bercerita… Bukankah kita teman?” Seo Hyun menunduk lalu menganggguk pelan dan tak mengangkat kepalanya lagi. Yong Hwa tersenyum simpul kemudian ia sedikit membungkukkan kepalanya agar sejajar dengan kepala Seo Hyun.
“Jika kau ada masalah, kau bisa bercerita kepadaku… sekarang sebaiknya kita duduk disana dan kau bisa ceritakan semua kepadaku” kata Yong Hwa sambil menoleh ke bangku taman yang tidak jauh dari sana. Seo Hyun mengangguk pelan, ia masih menunduk. Yong Hwa melingkarkan tangannya ke bahu Seo Hyun lalu menuntunnya ke  bangku taman dan menduduknyanya pelan.
“Nah, sekarang ceritakan padaku” Yong Hwa tersenyum hangat.
Seo Hyun menatap namja yang berada disampingnya itu sesaat. Apakah sudah saatnya aku menceritakan ini kepada orang lain? Bahkan namja ini?
“Waeyo? Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau tidak mau menceritakanya?”
“Anniyo..” jawabnya sambil menunduk lalu menarik napas berat dan menghempaskanya pelan, berusaha agar rasa sakit di dadanya berkurang. Tiba-tiba ia tahu, ia tidak perlu memasang sikap tegar dan tidak perlu berpura-pura takut. Ia bisa melepaskan sedikit ketegangan dalam dirinya. Ia tidak sendirian lagi.
“Jadi…” Seo Hyun menceritakan semuanya kepada Yong Hwa tanpa menatap lawan bicaranya tersebut. Ia tahu, ini akan terasa amat menyesakkan. Menggali luka-luka yang ingin ia kubur selamanya.
Yong Hwa mendengarkanya tanpa berkomentar. Berusaha memberikan rasa nyaman kepada yeoja itu. Kini ia tahu bagaimana luka seorang Kim Seo Hyun yang terlihat sangat tegar itu. Ia frustasi melihat luka besar yang dialami Seo Hyun. Frustrasi karena melihat Seo Hyun begitu menderita. Frustrasi karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menolongnya. Oh tuhan..
Yong Hwa meraih kepala Seo Hyun agar berada di pundaknya dan dia tak menolak. Lalu mengelus pundaknya dengan lembut. Seo Hyun masih bercerita tanpa air mata yang berhenti mengalir setetespun di kedua mata indahnya.

Tak lama kemudian mereka saling terdiam. Masing-masing menikmati keheningan yang diselingi angin malam yang sangat dingin. Perasaan lega itu menjalar di dada Seo Hyun, apalagi dengan Jung Yong Hwa di sampingnya. Tapi tentu saja itu tidak akan lama. Cepat atau lambat ia harus menghadapi kenyataan. Suasana hatinya saat itu sangat bertolak belakang dengan langit yang cerah.
3 menit..
5 menit..
8 menit..
Isakan tangis itu telah mereda. Yong Hwa menoleh ke arah yeoja di sampingnya. Seo Hyun telah tertidur. ia tersenyum, suatu saat kau pasti bisa melewatinya. Percayalah aku akan selalu berada disisimu..
Yong Hwa mengusap pipi Seo Hyun pelan, mengusap air mata yang belum sepenuhnya mengering. Kemudian menyibakan rambut yang sedikit menutupi wajahnya. Hening sesaat. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Seo Hyun.  Ya, Yong Hwa mencium kening Seo Hyun pelan agar yeoja itu tidak terbangun.
Deg~
Deg~
Dan saat itulah ia menyadari sesuatu, sesuatu yang sudah tersembunyi rapi di dalam hatinya sejak lama, namun kali ini perasaan itu begitu kuat sampai tidak mungkin diabaikan lagi. Sepertinya ia sudah jatuh cinta pada yeoja cantik yang masih berada di pelukannya sekarang, Oh, dear...
***
Seberkas cahaya matahari masuk melalui celah-celah dedaunan taman. Cahaya yang menyilaukan itu memaksa sepasang mata seorang namja untuk terbuka. Namja itu mengedipkan matanya sekali. Berharap ia berada dalam kesadaran kembali. Matanya menerawang ke sekitar. Ia baru sadar kalau ia berada di sebuah taman. Ia menoleh ke samping, Seo Hyun masih terlelap disana. Ia manatapnya cukup lama. Tiba-tiba tubuh yeoja itu sedikit bergerak, menandakan bahwa yeoja itu akan segera berada dalam alam sadarnya kembali. Buru-buru ia menutup matanya kembali.
Seo Hyun membuka matanya, menyapukan pandangannya ke segala arah hingga matanya bertemu dengan sesosok namja yang berada disampingnya. Ia teringat kejadian tadi malam. Ia terpelonjat dan segera menegakkan tubuhnya kembali. Namja itu membuka matanya. Seo Hyun menduga namja itu terbangun karena gerakan tubuhnya tadi tapi sebenarnya namja itu sudah terbangun terlebih dahulu.
“Oh, Kau sudah bangun?” tanya Yong Hwa sambil menggeliat ringan, melemaskan otot-otot yang kaku.
“Mianhae..”
“Ne?”
“Mianhae. karena aku, kau jadi terbangun”
“Oh, gwenchana..” Yong Hwa tersenyum ringan
Mereka terdiam, suasana menjadi canggung lagi.
“Apa kau mau secangkir kopi?” tawar Yong Hwa untuk mencairkan suasana yang canggung itu.
“Oh.. ne… “

ByunHee Coffee Shop
“Anda mau memesan apa,tuan?” tanya seorang pelayan.
“Aku mau cappuccino, kau?” tanya Yong Hwa kepada Seo Hyun.
“Nado”
Pelayan itu segera pergi setelah mencatat pesanan ke sebuah buku kecil ditangannya. Tak lama kemudian, pelayan itu kembali dengan membawa dua cangkir cappuccino yang masih mengepul.
“Gamsahamnidha..” ucap mereka berdua. Merekapun menyesap cappuccino masing-masing. Terasa menghangatkan tubuh.
“Gomawo..” ucap Seo Hyun, masih menatap secangkir cappuccino dihadapannya. Yong Hwa memandang ke depan dengan alisnya terangkat.
“Gomawo? Untuk apa?”
“Untuk tadi malam. Karena kau sudah menemaniku. Gomawo..”
“Gwenchana..” Yong Hwa tersenyum lalu berkata “Apa kau sudah baikan?”
“Ne.” jawabnya singkat. Lalu menyesap cappucino yang masih tersisa sambil menerawang keluar kaca yang ramai dengan manusia yang sedang beraktivitas.

***
Seo Hyun melangkahkan kaki di halaman rumahnya dengan malas. Ia mendesah lalu membuka knop pintu yang memang tak terkunci.
“Aku pulang..” ucapnya.
“Dari mana saja? Jam segini baru pulang?” ucap appa dengan nada marah. Eomma duduk di kursi sampingnya sambil menunduk menahan tangis. waeyo?
“Dari rumah teman” jawabnya ketus. Appa menghela napas kasar.
“Seo Hyun-ah.. appa dan eomma.. akan segera bercerai”
Deg~
Dan tiba-tiba saja, begitu mendengar kata-kata sederhana yang diucapkan dengan pelan itu, Seo Hyun merasa hatinya sangat sakit. Air mata membayang di kedua matanya. Kaki-kakinya serasa tak kuat lagi menompang tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat. Bahkan ia tak sadar sedari tadi ia menahan napasnya.
“Appa sudah tidak tahan lagi dengan eommamu! Nanti siang pergilah ke pengadilan”
“Aa-arrasseo. Aku pergi ke kamar dulu” jawabnya lalu berlari menuju kamar. Air matanya kini tumpah disana.
***
“Aaish! Jinja? Apa aku benar-benar menyukainya?” guman Yong Hwa. Ia mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam. Jantungnya berdetak sangat cepat. Buru-buru ia bangkit dari tempat tidurnya.
“Aaiiish! Sial! Sepertinya memang aku menyukainya”
“Apa aku harus mengungkapkan padanya? Aagh! Ini membuatku gila!” ucap Yong Hwa frustasi. Ia mengacak rambutnya kasar.
“Bingo!” ia menjentikan jarinya.
“Mungkin aku harus mengungkapkannya. Tapi.. ottokhae? Aaish! Jinja!”
“Harus! Pokoknya hari ini aku harus mengungkapkan perasaanku padanya, kalau tidak, jantungku ini akan semakin tersiksa” ucapnya sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.
“Mungkin dengan ini aku bisa selalu berada di sisinya dan bisa membantunya menghadapi masalah. Aah.. bingo..” wajahnya seketika berubah cerah.
Sekarang ia berjalan ke kamar mandi sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Ya! Hyung! Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Kau gila ya?” tanya Yong Min katika berpapasan dengan Yong Hwa. Ia heran dengan tingkah laku hyungnya tersebut.
Yong Hwa menoleh lalu berkata “Aish! Anak kecil tau apa!” ujarnya ketus kemudian berjalan dan senyum-senyum sendiri lagi. Yong Min menggeleng-geleng kepala heran.
“Dasar gila!” guman Yong Min.
***

Seo Hyun menaiki sepedanya keluar halaman rumahnya menuju sekolah. Ia menghela nafas berat. Nafasnya mencekat di tenggorokan. Ingatannya kembali ke  kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu ketika orang tuanya memutuskan untuk berpisah. Ia menutup matanya sesaat dan membukanya kembali. Dadanya masih terasa sakit membayangkan rumahnya sudah mirip sekali dengan neraka. Saat ini ia sama sekali tidak bisa merasakan apa pun. Sepertinya saraf-sarafnya sudah tidak berfungsi. Ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa bersuara, dan tidak bisa merasakan apa-apa. Kecuali rasa sakit di hatinya. Ia bisa merasakan yang satu itu. Sakit sekali....
Ia sudah tidak focus lagi mengendarai sepeda.
***
“Appa, eomma. Aku berangkat” ujar Yong Hwa sambil menaiki sepedanya keluar dari pekarangan rumah.
“Ne. hati-hati dijalan” teriak eomma dari dalam rumah.
“Arrasseo..”
Yong Hwa menaiki sepeda itu dengan perasaan yang berbunga-bunga. Sesekali ia tersenyum-senyum sendiri. Dari kejauhan ia melihat sebuah toko bunga yang berada di seberang jalan. Buru-buru ia berhenti.
“Sebaiknya aku membelikan bunga untuknya” segera saja ia pergi ke toko bunga itu. Memarkirkan sepedanya di halaman toko yang tidak terlalu luas. Harum bunga tercium sampai di luar toko. Benar-benar harum..
Ia langkahkan kakinya yang panjang memasuki toko. Matanya memandang ke sekeliling ruangan. Tampak berjajar bunga-bunga berbagai warna yang memang terlihat sangat indah. Namun matanya tertuju pada bunga yang berada paling pojok, dekat tempat kasir. Mawar merah. Ia langkahkan kakinya lagi mendekat dan mengambil salah satu dari beberapa bunga yang berada di rak lalu menciumnya.
“Yeppo..” gumannya di iringi senyum tersungging dibibirnya.
“Aku ambil yang ini”ucapnya kepada palayan.
Setelah itu, ia mengambil sepedanya dan meneruskan perjalanan yang sempat  tertunda. Wajahnya masih secerah yang tadi.
Tidak  jauh dari sana, ia melihat seorang yeoja di seberang jalan, yang berada hampir di perempatan jalan. Menaiki sepedanya dengan tatapan kosong ke depan.
“Kim Seo Hyun.. “gumannya lirih. Tak tahu kenapa ia kembali tersenyum ketika melihat yeoja itu.
 “Ya! Kim Seo Hyun..” panggilnya dengan suara yang cukup keras. Tapi sepertinya orang yang dipanggilnya tak mendengar.
“Seo Hyun-ah, Kim Seo Hyun..” panggilnya lagi dengan lebih keras. Tetap saja ia tak mendengar.
Tintintiiiiiiiiiiiin……..
Tiba-tiba terdengar suara klakson yang berasal dari truk besar pengangkut pasir  yang sudah berada di sebelah kanan perempatan. Truk itu berjalan dengan kecepatan tinggi sehingga kemungkinan sulit untuk berhenti secara mendadak. Mata Yong Hwa terbelalak. Mulutnya menganga. Ia memandang truk dan Seo Hyun secara bergantian dengan wajah cemas. Sementara bunyi klakson itu semakin lama semakin nyaring memekik di telinganya. Seo Hyun tak mendengar.
“Yaa! Kim Seo Hyun..” teriaknya. Tetap saja Seo Hyun tak menyahut, masih mengayuh sepadanya dengan kecepatan sedang.
“Ya! Kim Seo Hyun….” Yong Hwa melempar sepedanya asal dan berlari menuju ke seberang jalan dimana Seo Hyun berada dan terus saja meneriaki namanya agar yeoja itu menoleh serta menghentikan ayunan sepedanya. Napasnya mulai memburu dan pikiran-pikiran buruk mulai berseliweran di benaknya.
“Ya! Kim Seo Hyun, awas..” 
Tiiiinn…
Brukkk..
Belum selesai ia berkata, sebuah kejadian mengejutkan telah terjadi tepat di depan matanya. Tubuh kurus Seo Hyun terpental jauh akibat tubrukan truk pengangkut pasir itu dan kepalanya terbentur pagar pembatas jalan. Sementara sepedanya remuk terlindas truk tersebut.
“ANDWAE!!” teriak Yong Hwa tak percaya.  Bunga mawar di tangannya terjatuh. Air mata mulai menetes tanpa intruksi. Tubuhnya melemas. Ia berlari dengan tenaga yang masih tersisa menuju ke arah yeoja yang terkapar tak berdaya itu, di depan sana. Tangan kanannya segera menarik kepala Seo Hyun agar berada dipelukannya. Sedang tangan yang lain menepuk kecil pipi Seo Hyun.
“Ya! Gwenchana?” ujarnya khawatir. Sangat khawatir. Ia menatap mata Seo Hyun yang terpejam, pipinya juga terluka, dan bibirnya yang berdarah. Yong Hwa merasa sekujur tubuhnya menegang ketakutan.
“Ya! Cepat bangun. Jangan membuatku takut”
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di tangan kanannya. Darah segar berbau anyir. Kepala Seo Hyun mengeluarkan darah segar yang membuat Yong Hwa semakin panik. Air mata semakin mengucur deras.
“Ya! ireona! Jangan membuatku semakin ketakutan. Ireona!”
“Panggil 119, palli!” teriak Yong Hwa kepada orang-orang yang memang sedari tadi mengerubungi mereka berdua.
“Aku bilang, panggil 119 sekarang!” teriaknya frustasi.

Busan Byungwon
“Ya! Cepat Bangun, Seo Hyunie..” Seo Hyun dibawa ke ruang operasi menggunakan ranjang beroda. Yong Hwa mengikuti dan sesekali memanggil yeoja yang tergeletak di ranjang putih itu.
Derrt..derrtt..
Ponsel Seo Hyun yang berada di tangan Yong Hwa bergetar, pertanda ada panggilan masuk. Di layar terpampang sebuah nama ‘Uri Appa.
“Appanya menelpon” gumannya lirih. Yong Hwa menarik napas panjang lalu menekan tombol hijau di layar ponsel.
Belum sempat ia mengatakan salam , telah terdengar rentetan kata dari seorang laki-laki di seberang telepon.
 “Ya! Oddiga? Sebentar lagi pengadilan akan segera dimulai. Cepat kemari!”
“Mianhae.. ahjussi” ucap Yong Hwa dengan suara parau.
“Nuguya?” alis Kim Jung Soo-appa Seo Hyun-berkerut.
“Seo-Hyun..” tenggorokan Yong Hwa tercekat.
“Seo Hyun? Ada apa dengannya?” tanya Jung Soo seketika berdiri dari tempat duduknya.
“Dia..” kata-katanya terputus.
“Suster. Suster, biarkan aku masuk. Jebal..” rengek Yong Hwa ketika Seo Hyun akan dibawa masuk ke ruang operasi.
“Maaf, anda dilarang masuk” Suster segera menutup pintu ruangan rapat-rapat. Yong Hwa menggedor-gedor pintunya dan berteriak lagi “Suster biarkan aku masuk..” Tak ada respon.
“Ya! Apa yang terjadi dengan Seo Hyun?” teriak Jung Soo cemas. Terbukti dengan suara panik yang terdengar dari seberang telepon. Yong Hwa tersadar bahwa dia sedang berbicara dengan appa Seo Hyun. Segera saja ia tempelkan ponsel itu kembali ke telinganya.
“Seo Hyun.. dia.. dia kecelakaan dan sekarang ia berada di Busan Byungwon”
“Mwo?” pekik Jung Soo tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Waeyo?” tanya Tae Yeon-eomma Seo Hyun- pada Kim Jung Soo.
“Seo Hyun.. dia.. kecelakaan” terangnya.
“Mwo?” air mata tanpa di paksa keluar dengan sendirinya dikedua mata mereka.
“Kajja. Kita harus pergi ke rumah sakit sekarang”
Sementara itu, Yong Hwa terduduk di lantai depan ruang operasi. Tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Ia menelangkupkan kepalanya dan menangis sejadi-jadinya dengan tangan yang masih bersimbah darah.
Bebarapa saat kemudian, Jung Soo dan Tae Yeon sampai di depan ruang operasi.
“Bagimana keadaan Seo Hyun?” tanya Jung Soo, masih dengan raut muka cemas. Yong Hwa mendongak lalu berdiri.
“Ia masih berada di ruang operasi” jawabnya.
“Ya tuhan.. Sebenarnya apa yang terjadi? Ini semua memang salahku” runtuk Tae Yeon pada dirinya sendiri.
“Sudahlah, jangan salahkan dirimu sendiri..” Jung Soo memeluk istrinya yang terisak.
“Mianhae, hiks, hikss.. ini semua salahku, andai saja..”
“Sudahlah,  Ini juga salahku. Jangan salahkan dirimu sendiri”
“Hiks.. hiks..Aku berjanji tidak akan begini lagi… aku memperhatikan Seo Hyun seperti dulu, Hikss..” ucap Tae Yeon menyesal.
Yong hwa berjalan ke tempat duduk lalu menopang kepala dengan kedua tangannya. Suasana hatinya sangat kacau sekarang. Tiga puluh menit berlalu. Pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter dan dua perawat keluar dari ruang operasi. Yong Hwa dan kedua orang tua Seo Hyun langsung menghambur ke arah dokter berambut putih dan berkacamata itu.
“Bagaimana keadaannya, dok?” tanya Jung Soo cepat. Dokter menunduk sebentar kemudian menganggkat kepalanya lagi.
“Maaf. Sepertinya ia mengalami gagar otak. Tetapi kita tunggu hasil tes di lab dulu”
“Mwo? Hiks.. hiks.. Kenapa ini bisa terjadi?” Tae Yeon menangis sejadi-jadinya dan Kim Jung Soo memeluknya lagi agar ia tenang.
“Sudahlah, ma..”
“Anni, ini tidak mungkin. Dokter, Kau harus sembuhkan dia” ucap Yong Hwa sembari mengangkat kerah dokter itu. Namun segera ditahan oleh perawat laki-laki yang ada disana.
“Dokter, kau harus sembuhkan dia. Dokteeerrrr..” teriak Yong Hwa sambil meronta frustasi.
***
Busan Byungwoon
Sebulan kemudian..
Yong Hwa menyibakan sebuah tirai berwarna hijau muda yang tergantung di jendela. Tampak pemandangan pagi kota Busan yang asri. Embun pagi masih menempel di antara dedaunan. Cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai yang terbuka.
Yong Hwa menghela napas berat lalu membalikkan badannya kembali. Pandangannya tertuju pada yeoja yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Selang-selang medis menempel hampir di seluruh tubuhnya. Wajahnya putih pucat dan mata indah itu tertutup rapat. Terlihat tenang sekali. Seolah tidur.
Yong Hwa tersenyum kecut. Ia langkahkan kakinya menuju kursi yang disediakan di sisi ranjang. Jemari tangannya ia kaitkan dengan tangan yeoja yang terbaring lemah itu. Tangannya terasa hambar.
Sudah satu bulan Seo Hyun terbaring di ranjang rumah sakit. Tak ada perubahan sejak ia di vonis menderita gagar otak yang tidak bisa di bilang cukup ringan. Dan sejak saat itu juga ia berada dalam keadaan koma. Selama ini, Yong Hwa selalu menemaninya, bahkan ia rela tidak tidur demi menjaganya. Appa Seo Hyun hanya bisa menemaninya berberapa kali. Bukannya ia masih tak peduli kepada Seo Hyun tetapi ada masalah serius di perusahaan yang mengharuskannya untuk pergi menanganinya. Sedangkan eomma Seo Hyun beberapa hari yang lalu jatuh sakit, mungkin karena kelelahan dan kesedihannya.
“Yong Hwa-ya, Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Jung Soo. Ia baru datang bersama istrinya. Yong Hwa menoleh ke sumber suara.
“Oh, ahjussi. Masih sama seperti kemarin” jawabnya murung. Eomma Seo Hyun terlihat sedih kembali. Buru-buru ia mengalihkan pembicaraan.
“Ahjumma, Bagaimana keadaan anda? Apa sudah baikan?”
“Oh.. aku sudah sedikit baikan. Gomawo, Yong Hwa-ya..” ia tersenyum. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat ketika tersenyum. Jung Soo menghampiri Yong Hwa dan memegang salah satu pundak Yong Hwa.
“Gomawo telah menemani uri Seo Hyun.. Mianhae, kami selalu merepotkanmu” ucap Jung Soo. Yong Hwa mendongak, menatap lawan bicaranya.
“Gwenchana, ahjussi. Aku tidak keberatan menemaninya..” Yong Hwa tersenyum. Tae Yeon meraih tangan Yong Hwa kemudian berkata “Kami benar-benar berterimakasih padamu. Sekarang pergilah beristirahat, kau kelihatan sangat lelah. Biar kami yang menjaganya sekarang”
“Tapp.. tapi..”
“Sudah, istirahatlah“ Jung Soo menimpali. Akhirnya Yong Hwa menurut. Ia berjalan ke sofa panjang tak jauh dari sana dan tak perlu waktu lama ia langsung tertidur.
“Dia terlihat benar-benar kelelahan” guman Tae Yeon.
“Ne.. dia memang namja yang baik” lanjut Jung Soo.
“Annyeong..  ahjumma, ahjussi..” sapa Min Hyuk, Jung Shin dan Jong Hyun dengan tampang cerianya. Mereka bertiga sudah akrab dengan appa dan eomma Seo Hyun karena sering menjenguk Seo Hyun di rumah sakit.
“Oh, kalian,annyeong..” Jung Soo dan Tae Yeon tersenyum ramah.
“Wah, Yong Hwa hyung kenapa malah tidur? Seharusnyakan dia yang menjaga. Aiish, dasar hyung!” geram Jung Shin yang bersiap untuk membangunkannya.
“Eh, Jangan bangunkan dia. Kasian dia pasti kelelahan, Sejak kemarin menjaga uri Seo Hyun”cegah Tae Yeon.
“Oh, ne..”
“Ahjumma, ahjussi. Aku membawakan buah-buahan untuk kalian” kata Min Hyuk sembari memberikan keranjang berisi buah-buahan kepada Tae Yeon.
“Gomawo..” Tae Yeon tersenyum ramah.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Jong Hyun.
“Hmm.. Seperti yang kau lihat sekarang, masih belum ada perubahan..” jawab Jung Soo muram.
“Semoga dia cepat sadarkan diri” ucap Jong Hyun menguatkan.
“Ne..”
“Annyeong Haseyo..” sapa dua orang baru saja memasuki ruangan. Semua mata tertuju ke sumber suara.
“Nugusseyo?” tanya Jung Soo dengan alis sedikit berkerut.
“Kami orang tua Yong Hwa. Kami dengar Seo Hyun sakit jadi kami ingin menjenguknya” ucap Jung Soo Yeon-eomma Yong Hwa- dengan senyum ramah.
“Oh. Silahkan masuk” Jung Soo dan Tae Yeon mempersilahkan mereka masuk kemudian saling berjabat tangan.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Jung Il Woo-Appa Yong Hwa.
“Dia..” kata-katanya tiba-tiba terputus.
“Ehhh..” terdengar suara napas berat seseorang. Semua orang yang ada disana tercengang kaget dan memusatkan perhatiannya kepada Seo Hyun. Tangan Seo Hyun bergerak lemah dan matanya sedikit demi sedikit membuka.
“Seo Hyun-ah..” panggil Tae Yeon dan Jung Soo sembari berjalan menghampiri Seo Hyun diikuti oleh yang lainnya. Tae Yeon memegang tangan Seo Hyun erat. Seperti tak mau melepaskannya sedetikpun. Buru-buru Jung Shin membangunkan Yong Hwa yang tertidur di Sofa.
“Hyung,hyung. Seo Hyunie sudah sadar.” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Yong Hwa. Yong Hwa langsung terbangun dan segera ia melonjak menghampiri Seo Hyun. Ia tersenyum bahagia. Akhirnya ia kembali..
“Sayang.. Kau sudah sadar?” tanya Tae Yeon berlinang air mata. Seo Hyun tak menjawab, masih mencerna kata-kata yang ia dengar. Maklum saja, ia koma selama satu bulan, jadi indranya masih terganggu.
“Biar aku panggilkan dokter” ujar Jung Soo dan membalikkan tubuhnya.
“Appa..” panggil  Seo Hyun dengan suara lemah. Jung Soo menoleh. Seo Hyun meraih tangan kedua orang tuanya.
“Appa.. Eomma.. mianhae..” ucapnya lemah. Tae Yeon menggeleng cepat.
“Anni.. appa dan eomma yang harus minta maaf.. mianhae, gara-gara kami pasti kau sangat kesepian, mianhae..” Seo Hyun mengeluarkan air mata dari sudut matanya. Jung Soo ikut meneteskan air mata.
“Mianhae.. karena kami sibuk dengan urusan kami sendiri sehingga kami tidak memperhatikanmu.. maafkan appa dan eomma..” sekarang giliran Jung Soo yang berbicara.
Seo Hyun tersenyum tipis dibalik wajahnya yang pucat lalu berkata “Anniyo, kalian adalah orang tuaku yang paling baik untukku
Tae Yeon semakin terisak. Ia memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya.
“Appa.. eomma.. Bolehkah aku meminta sesuatu kepada kalian?”pinta Seo Hyun penuh harap.
“Ne, sayang.. katakanlah”
“Appa.. eomma.. aku ingin kalian jangan bertengkar lagiSeo Hyun menarik napas, memberi jeda.
“Aku… aku ingin kalian jangan berpisah” ucapnya penuh harap. Tae Yeon dan Jung Soo saling berpandangan. Beberapa detik kemudian mereka menatap Seo Hyun lagi.
“Ne.. kami janji, kami tidak akan bertengkar lagi dan kami tidak akan pernah meninggalkamu” kata Jung Soo sembari mempererat genggaman tangannya kepada Seo Hyun.
“Gomapta..” Seo Hyun tersenyum tipis. Hatinya sangat lega sekarang. “Bolehkah aku memeluk kalian sebentar saja?”
Jung Soo dan Tae Yeon mengangguk lalu berkata “Ne..” dan akhirnya mereka saling berpelukan. Air mata haru bercampur senang mengalir di kedua mata mereka. Bahkan semua yang ada disana juga ikut meneteskan air mata. Seo Hyun menutup matanya perlahan. Akhirnya ia merasakan kehangatan ini lagi, kehangatan sebuah keluarga. Hatinya sangat bahagia.
Beberapa detik berlalu, Seo Hyun melepaskan pelukannya. Pandangannya berpindah ke namja yang berada disampingnya. Jung Yong Hwa. Ia tersenyum simpul lalu meraih tangan Yong Hwa.
“Mianhae.. Aku terlalu banyak merepotkanmu..”
“Anniyo” sahut Yong Hwa cepat.
“Terimakasih… terimakasih karena kau selalu ada jika aku membutuhkan seseorang di sampingku..” Seo Hyun menghela napas pelan “Terimakasih karena kau selalu membantuku.. Terima kasih atas semua yang sudah kau lakukan untukku.. dan terimakasih karena kau selalu membuatku bahagia… gomawo..” Seo Hyun tersenyum.
 “Gwenchana.. ini semua tak masalah asalkan kau segera sembuh,ne?”
“Yong Hwa-ya.. Aku punya satu permintaan buatmu.. maukah kau mengabulkannya?” Suaranya masih terdengar lemah.
“Tentu”
“Berjanjilah kau akan menjaga kedua orang tua ku, ne?” Yong Hwa terbelalak.
“Apa yang ku bicarakan? Kau tidak akan pergi kemana-mana, bukan? Ya! Seo Hyun-ah!”
“Aku mohon.. Dengan begitu aku akan pergi dengan tenang” Seo Hyun mengalihkan pandangannya ke langit-langit.
“Apa yang kau bicarakan? Gajima..” sekarang  pikiran-pikiran buruk tengah berseliweran dibenaknya. Ia merasa kata-kata itu seperti kata-kata perpisahan.
 Seo Hyun menatap Yong Hwa penuh harap. Yong Hwa menundukan kepala, tidak sanggup membalas tatapan Seo Hyun . Akhirnya ia menyerah lalu berkata “Baiklah, aku berjanji padamu..” air mata masih mengalir dikedua matanya.
“Gomawo.. Dengan ini aku bisa pergi dengan tenang..  gomawo..” Seo Hyun tersenyum simpul. Perlahan mata Seo Hyun menutup di iringi dengan bunyi panjang dan datar yang membuat bulu kuduk Yong Hwa meremang. Ia mengangkat kepala dan menatap monitor penunjuk detak jantung. Hanya ada garis lurus yang terlihat di sana. Dan bunyi panjang yang memekik telinga itu.
“Seo Hyun-ah..” ujar semua yang ada disana. “Ya! Seo Hyun~ah, gwenchana.. gajima.. gajima…” panggil Yong Hwa frustasi. Rasa panik menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Anni, anni… gajima.. gajima..”
“Panggil dokter sekarang!” perintah Jung Soo dan Jong Hyunpun berlari keluar untuk memanggil dokter. Sementara itu Yong Hwa terus memanggil-manggil nama Seo Hyun dan mengguncang tubuhnya agar yeoja itu membuka matanya kembali. Tetap tak ada respon.
Tak berapa lama, dokter datang dan memeriksanya. Yong Hwa mundur beberapa langkah dengan raut muka cemas.  Setelah selesai memeriksa, dokter itu membalikkan badannya menghadap semua yang ada. Dokter itu menggelengkan kepala dan berkata “Maaf, nyawanya sudah tidak bisa tertolong”
“Mwo?” Kaki Yong Hwa mendadak lemas dan tidak bisa menopang tubuhnya. Ia jatuh terduduk di lantai, tak kuasa menahan kesedihan sembari terisak tangis. Sementara itu, Sementara itu, Tae Yeon membenamkan wajah di dada suaminya dan menangis bersamanya.
Seo Hyun telah pergi. Ia tidak membuka mata ketika Yong Hwa memanggil namanya. Ia tidak membuka mata ketika Tae Yeon memanggil namanya. Bahkan ia tidak membuka matanya saat semua orang memanggil namanya. Seo Hyun tidak pernah membuka matanya lagi.
***
Pemakaman Umum di Daerah Busan
Beberapa orang yang berbaju hitam tengah berdiri mengitari sebuah makam yang terlihat masih basah. Wajah mereka tertunduk, menandakan mereka sedang berduka cita. Beberapa lagi sedang terisak tangis. Tidak terkecuali dengan seorang wanita paruhbaya-yang berada di samping makam. Ia sedikit berjongkok sambil memegang nisan yang bertuliskan nama ‘Kim Seo Hyun’ disana. Air mata mengalir di kedua matanya seiring dengan rasa penyesalan yang amat besar di hatinya. ‘Mianhae’ kata itu mungkin tidak bisa menebus kesalahan yang telah ia perbuat. Ia menyesal mengapa ia  begitu terlambat.
“Sudah, ma. Lepaskan kepergiannya…” ujar seorang pria paruhbaya yang merupakan suaminya. Namun wanita itu tidak menanggapi. Satu persatu pelayat meninggalkan pemakaman.
“Eomma, relakan dia pergi. Uri Seo Hyun sudah tenang di alam sana”
“Ne, appa. Tapi eomma sangat menyesal ,hikss.. kenapa tidak sedari dulu…” wanita itu tidak mampu meneruskan perkataannya. Terlalu mencekat ditenggorokan. Sinar matanya mengandung penyesalan.
“Uri Seo Hyun anak yang baik. Dia pasti memaafkanmu.. aku tahu dia sangat menyayangimu, percayalah..” Jung Soo memegang pundak istrinya.
“Sekarang kita harus pergi. Seo Hyunie pasti tidak mau kau larut dalam kesedihan dan jatuh sakit” tambahnya lagi.
“Tapi, tapi.. aku ingin menemani Seo Hyun disini… hiks.. hiks..”
“Kajja..”
AkhirnyaTae Yeon mengangguk pelan. Walau sedikit terpaksa, ia menuruti perkataan suaminya. Jung Soo merangkul pundak Tae Yeon yang bergetar lalu pergi meninggalkan pemakaman yang telah sepi.
Kini tinggal seorang namja yang berdiri tidak jauh dari makam. Pandangannya lurus ke depan, memandang makam itu tanpa berkedip. Ia berusaha menahan air mata agar tidak tumpah.
Beberapa saat kemudian, ia langkahkan kakinya mendekati makam lalu duduk berjongkok menghadap ke makam. Wajahnya tertunduk. Perlindungan yang ia jaga kuat akhirnya pecah juga. Air mata mengalir dari kedua matanya bagai sungai yang mengalir deras.
“Seo Hyun-ah, kenapa.. kenapa secepat ini kau pergi.. hiks..” namja itu menelan ludahnya berat. Terasa mencekat.
“Kau tahu.. sebenarnya aku ingin menyatakan perasaanku padamu, tapi.. tapi tuhan berkehendak lain..” namja itu terdiam sesaat.
“Aku…. Aku mencintaimu.. tak tahu sejak kapan tapi sekarang aku benar-benar mencintaimu..” matanya mulai menerawang.
“Hm.. Terkadang aku berfikir tuhan tidak adil karena ia mengambilmu secepat ini.. Aku ingin kau selalu ada disisisku…” Namja itu menarik napas pelan.
“Tapi apalah.. Aku tak mungkin menolak skenario yang telah tuhan tetapkan kepada kita..”
“Biarkan aku mengenang kebersamaan kita yang singkat ini.. aku akan menyimpan semuanya.. senyummu.. aroma tubuhmu.. suaramu.. dan semua kenangan itu. karenamu, aku bahagia.. terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku..”
Tiba-tiba hujan turun mengguyur seluruh kota Busan. Namja itu mendongak dan menengadahkan tangannya ke atas.
“Sekarang aku tahu mengapa aku menyukai hujan.. karena aku akan selalu mengingat senyummu… Dan karena hujan, aku merasa kau selalu berada disisiku. Kau mendengarku, bukan?” namja itu tersenyum simpul.
~ THE END ~

Ma'af abal-abal ff nya :v gomawo sudah bela-belain membaca sampai akhir, kekeke~
gomawo.. gomawoo * bow :D
kritik dan sarannnya boleh tuh :D

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar