Title : Wish You Were Here
Cast :
§
Kim Seo
Hyun/Seo Joo Hyun (SNSD)
§
Jung Yong
Hwa (CNBlue)
§
Member
CNBlue
§
Kim Tae
Yeon (SNSD)
§
Kim Jung
Soo/Park Jung Soo (Super Junior)
§
Jung Soo
Yeon (SNSD)
§
Jung Il Woo
§
Jung Yong
Min
§
Etc
Happy Reading…
“Busaaan
aku kembaliii…” teriak seorang namja setelah turun dari mobil mewah berwarna
putih miliknya.
Dibelakangnya
diikuti oleh kedua orang tuanya. Ia terlihat begitu bahagia melihat tempat yang
sekarang diinjaknya, tempat yang sangat dirindukannya setelah selama 10 tahun
ia pergi ke Jepang untuk menemani halmoninya yang tinggal seorang diri. Halmoninya
telah meninggal dunia sebulan yang lalu. Sekarang ia begitu senang bisa tinggal
bersama kedua orang tua yang begitu dirindukannya. Maklum saja, kedua orang
tuanya hanya dapat mengunjunginya enam bulan sekali. Mereka sangat sibuk dengan
pekerjaannya masing-masing.
Ia
memandang sekeliling dengan seksama, melihat semuanya yang masih seperti dulu. Seulas
senyum terbesit dibibirnya. Perlahan Ia menghirup udara segar kota Busan kemudian
menghembuskannya lagi. Begitu menyegarkan. Masih sama seperti 10 tahun lalu.
“Yonghwa-ya, bantu appa
mengeluarkan barang-barangmu dari mobil”
Namja
yang bernama asli Jung Yong Hwa itu menoleh ke sumber suara, terlihat appanya
kepayahan mengangkat koper besar dari
dalam mobil. Ia tertawa kecil kamudian tanpa berkata apapun ia langsung berlari
menuju bagasi mobil untuk membantu appanya. Eommanya sedari tadi berdiri di
samping mobil tersenyum melihat tingkah anak laki-lakinya itu. Mereka
bersama-sama memasuki rumah. Eommanya, Jung Soo Yeon segera pergi ke dapur
untuk menyiapkan makan. Sedang Jung Il Woo yang merupakan appa Yong Hwa masih berusaha mengatur
nafasnya yang terengah-engah kelelahan sehabis mengangkat beberapa koper besar milik Yong Hwa. Yong Hwa tersenyum kilat
melihatnya.
“Appa,
eomma.. aku pergi keluar sebentar” teriak Yong Hwa berlari keluar rumah ketika
teringat suatu tempat yang ingin dikunjunginya. Appanya tampak menaikkan kedua
alisnya.
“Kau
mau kemana? Apa tidak makan dulu?” teriak Soo Yeon dari dapur.
“Aku
akan segera kembali “ jawabnya singkat.
“Dasar
anak nakal! Kemana lagi dia?” ucap appa Yong Hwa sambil mengelengkan kepala
heran.
“Biarkan
dia pergi. Mungkin dia ingin berkeliling
sebentar”
Yong
Hwa berlari ke tempat kesukaannya, tempat yang sudah lama ia tinggalkan, tempat
yang indah dan nyaman menurutnya. Beberapa menit kemudian ia sampai di tempat
itu, sebuah pantai kecil. Pantai di dekat rumahnya. Pantai yang sangat tenang
dan damai.
“Aku
kembaliiii…” teriaknya kepada deburan ombak yang seakan menyambutnya.
Ia
merentangkan kedua tangannya. Memejamkan kedua matanya. Dihirupnya udara bersih
pantai itu. Masih terdengar jelas semilir angin dan deburan ombak di
telinganya. Ia begitu menikmati kesunyian dan kedamaian tempat itu.
Semenit
kemudian ia membuka kembali kedua matanya. Diedarkan pandanganya ke seluruh
penjuru. Dilihatannya
bukit kecil yang dulu sering dikunjunginya. Senyum tersirat di bibirnya lagi. Sesegera
mungkin ia berlari ke sebuah bukit kecil dekat pantai itu. Tempat yang cocok
untuk melihat pemandangan sekitar yang sangat menakjubkan.
Sesampainya
diatas bukit tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia melihat seorang yeoja
disana. Yeoja itu memakai
terusan selutut berwarna putih berlengan pendek. Rambut panjangnya terurai
indah diterbangkan oleh angin laut. Ia juga menggenggam sebuah selendang
berwarna putih ditangannya.
Yeoja
tadi berdiri tepat di ambang
jurang yang langsung berhadapan dengan lautan. Ia tertunduk. Ia menangis dalam
diam. Air matanya terus mengalir dari kedua matanya tanpa bisa dibendung lagi.
Ada apa dengan yeoja itu? Apa yang terjadi dengannya? Itulah yang tersirat di
pikiran Yong Hwa. Yong Hwa tetap diam terpaku di tempatnya. Memandangi yeoja
itu dengan sejuta pertanyaan yang ada dibenaknya. Tapi ia hanya bisa diam
membisu. Tak ingin rasanya ia menggangunya. Hingga tidak lama kemudian yeoja
itu terjun dari jurang. Yong Hwa tercengang kaget.
“Ya!
Ya! Apa yang kau lakukan?” teriak Yong Hwa kepada yeoja itu. Yong Hwa berlari
kearah yeoja itu dan segera meraih tangannya sebelum yeoja itu terjatuh tepat
didasar laut.
“Ya!
Ya! Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?” sambung Yong Hwa lagi.
“Lepas!
Lepaskan tanganku!” teriak yeoja itu disela tangisnya.
“Andwae!
Andwae! Kau gila! Mana mungkin aku melepaskanmu. Kau akan terjatuh, babo!”
“Lepaskan
aku!”
“Andwae!”
Yong Hwa terus menarik tangan yeoja itu tetapi yeoja itu tetap bersikeras untuk
melepas genggaman tangannya. Yong Hwa terus bertahan meski ia mulai merasa
lelah. Keringat bercucuran dari samping wajahnya.
“Lepaskan
aku! Aku ingin mati sekarang!” teriak yeoja itu lagi.
“Andwae!
Mati tidak akan memecahkan masalah, babo!”
“Tak
ada lagi yang perlu diselesaikan. Aku sudah muak dengan semua ini, jadi
lepaskan aku, jebal!” yeoja itu terus saja memberontak. Air mata masih
membanjiri pipinya.
“Ya!
Lari dari permasalahan tidak akan menyelesaikan masalah!” dengan tenaga yang
masih tersisa, Yong Hwa berusaha menarik yeoja itu hingga beberapa saat
kemudian yeoja itu berhasil dinaikkan.
“Ya!
Lepaskan aku!”Yeoja itu masih tetap memberontak ingin terjun lagi kelautan.
Tanpa ada kata-kata lagi Yong Hwa langsung memeluk yeoja itu, berusaha agar
yeoja itu tidak memberontak lagi.
Deg
Deg~
Yonghwa
merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Wae?
“Ya!
Lepaskan aku! Lepaskan aku!” yeoja terus saja memberontak dan memukuli dadanya.
Tetapi Yong Hwa memeluknya semakin erat hingga ia tak bisa memukilinya lagi.
“Lepaskan
aku..” suaranya mulai melemah. Yeoja itu menyerah. Mungkin ia sudah kelelahan
memberontak.
Ia
menangis dipelukan Yong Hwa. Cukup lama mereka larut dalam keheningan. Suara
laut yang menenangkan serta isakan tangis yeoja itu yang terdengar mendominasi
ditelinga Yong Hwa. Yong Hwa membelai lembut rambut yeoja itu sambil terus
menenangkannya. Sekarang tubuhnya sedikit melemah. Sepertinya ia kelelahan karena menangis.
Yeoja itu melepaskan pelukanya dan Yong Hwa juga tidak mencegahnya. Ia masih
terisak tangis.
“Apa
kau sudah baikan?” tanya Yong Hwa. Yeoja itu mengangguk pelan dengan wajah masih tetap
tertunduk.
“Sekarang
ceritakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya Yong Hwa lagi. Yeoja itu
mendongakkan wajahnya yang sedari tadi tertunduk. Ia tak menjawab. Masih
memandangnya acuh.
“Apa
kau mau menceritakannya padaku? Mungkin aku bisa membantu memecahkan masalahmu”
tawar Yong Hwa lembut. Ia menggigit bibir bawahnya dan tertunduk lagi. Kemudian
ia berlari menjauh meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apapun pada Yong
Hwa.
“Yaa.. Kau mau kemana?” tanya
Yong Hwa. Yong Hwa tak mengejarnya. Mungkin dia masih belum bisa bercerita dan
butuh waktu untuk sendiri. Ia terus memandanginya hingga yeoja itu menghilang
dari hadapannya. Ia tidak menyadari sedari tadi ia menggenggam selendang milik
yeoja itu. Ia baru menyadari ketika yeoja itu sudah menghilang dari hadapanya.
“Semoga
kita bertemu lagi, aku ingin mengembalikan ini padamu…”
***
Yong
Hwa menaiki motor besar berwarna merah miliknya menuju sekolah barunya. Ia
begitu lincah menaiki motor itu. Tak berapa lama, ia sampai di halaman sekolah
barunya. Ia turun dari motornya. Ia terlihat sangat rapi dan stylish memakai
kemeja berwarna putih dengan setelan celana panjang berwarna krem serta rompi
berwarna biru tua dan tak lupa dasi bermotif garis menggantung di kerah bajunya.
Ia juga merapikan rambutnya hingga tampak sempurna.
Tak
jauh dari tempat, ia telah disambut oleh teman lamanya. Teman masa kecilnya
sewaktu tinggal di Busan. Mereka masih tetap berhubungan meskipun tempat mereka
berjauhan.
“Yaa!
Hyung..” teriak seorang namja dari kejauhan. Ia menoleh ke sumber suara.
“Oh~
Min Hyuk-ah, Jung Shin-ah, Jong Hyunie..” ucap
Yonghwa. Ia tersenyum cerah melihat mereka.
“Hyung…”
teriak ketiga namja itu sambil memeluk Yong Hwa. Mereka tertawa bersama
melepaskan kerinduan mereka. Sesaat merekapun melepaskan pelukannya.
“Bagaimana
kabarmu, hyung?” tanya Min Hyuk.
“Baik,
Min Hyuk-ah”
“Hyung,
kapan pulang? Kenapa tidak mengabari kami terlebih dahulu?” tanya Jong Hyun.
“Aku
Pulang tiga hari yang lalu” Yong Hwa tersenyum.
“Yah..
hyung! kenapa tidak bilang
kepada kami? Kami kan bisa menjemputmu di bandara” ucap Jung Shin cemberut.
“Mianhae,
aku sangat lelah hingga lupa mengabari kalian, hehe..” Yong Hwa terkekeh pelan.
“Hyung,
mana oleh-oleh untukku?” tanya Min Hyuk dengan
polosnya.
“Aiiish,
Kang Min Hyuk!” Jung Shin menjitak
kepala Min Hyuk.
“Ya!
Appo..” rengek Min Hyuk.
“Ada
dirumah. Pulang sekolah datanglah ke rumahku, ne?”
Yong Hwa tersenyum.
Ia
mengacak rambut Min Hyuk dan Min Hyukpun tersenyum aegyo padanya. Tanpa sengaja
matanya menangkap sosok yeoja yang pernah ditemuinya dibukit. Ia lewati didepan
mereka. Ia menuntun sepedanya yang cukup modis. Wajahnya terlihat tenang,
seperti tak ada beban besar yang harus ditanggungnya. Berbeda dengan ekspresi yang
dilihat sebelumnya. Tetapi matanya terlihat sedikit bengkak.
“Siapa
dia?” tanya Yong Hwa. Ia masih fokus melihat setiap langkah yeoja itu.
“Yang
mana, hyung?” tanya Min Hyuk polos.
“Yeoja
itu” ucap Yonghwa. Menunjuk kearah yeoja itu.
“Oh~
yang itu.. dia Seo Hyun, Kim Seo Hyun. Ia murid tercantik dan terpandai di
sekolah ini. Tapi sayang dia selalu terlihat murung dan selalu menyendiri.
Hanya sedikit yang mau berteman dengannya. Banyak sekali yang menyukainya
tetapi ia selalu menolak. Hati-hati ia sedikit dingin kepada orang lain” papar
Min Hyuk panjang lebar. Yong Hwa masih tetap memfokuskan pandangannya kepada Seo
Hyun hingga ia menghilang dari koridor sekolah.
“Kita
bertemu lagi” guman Yong Hwa lirih. Senyum masih melekat dibibirnya.
***
Yong
Hwa masuk ke dalam kelas mengikuti Shin
seonsangnim. Setelah Shin seonsangnim selesai bercakap-cakap, ia dipersilahkan
untuk memperkenalkan dirinya. Selama berkenalan matanya berpusat ke sudut
ruangan. Menatap seorang yeoja, Seo Hyun. Ia membolak-balik bukunya pelan. Yong
Hwa tahu ia hanya memelototi buku itu tanpa sedikitpun membacanya. Ia tampak melamun.
Perkenalan
selesai, ia duduk dibangku yang kebetulan kosong di samping Jung Shin.
Pandangannya masih tak lepas dari sosok yeoja misterius itu. Seo Hyun tidak
menyadarinya karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Kenapa
yeoja itu terlihat murung?” tanya Yong Hwa. Jung Shin menoleh ke pusat
perhatian Yong Hwa.
“Hm..
aku dengar, setahun terakhir ini keluarganya retak. Eommanya ketahuan
selingkuh. Kedua orang tuanya setiap hari bertengkar. Sejak saat itu ia menjadi
depresi berat. Wajahnya tidak seceria dulu, padahal
dulunya dia selalu ceria dan suka menyapa semua orang dengan senyum manisnya.
Benar-benar malang nasibnya” Jung Shin menggeleng-gelngakan kepalanya prihatin.
“Jinja?”
Yong Hwa memiringkan kepalanya. Jung Shin mengangguk. Yong Hwa masih menatap yeoja
itu. Sekarang ia
sibuk dengan pikirannya, tidak fokus lagi dengan pelajaran Shin seonsangnim.
***
Seo Hyun memarkirkan sepedanya di depan rumah. Ia
berjalan memasuki rumah dengan langkah gontai-gantai malas. Tiap pulang selalu
sepi. Perut lapar sehabis pulang sekolah. Itulah yang selalu dirasakannya
setiap hari. Menyedihkan.
“Eomma
kemana, ahjumma?” tanyanya kepada Han ahjumma, pembantu yang dua tahun terakhir
ini bekerja di rumahnya. Hanya dia yang selalu menemani Seo Hyun disaat ia kesepian
seperti saat ini.
“Molla,
dari tadi siang sudah pergi”
jawabnya dari dapur.
“Appa
sudah pulang, ahjumma?”
“Oh~
tuan belum pulang”
Jam
dinding ruang makan sudah menunjukan pukul tujuh tetapi rumah masih sepi,
seperti biasa. Appa pasti masih sibuk dengan pekerjaannya. Eomma? Kemana eomma?
Kenapa selama beberapa bulan ini eomma selalu pulang malam? Saat ditanya ia
hanya sibuk dengan ponsel yang selalu melekat ditelinganya. Apa dia pergi
dengan ahjussi yang ia
lihat didepan rumah mengantar eomma kemarin? Entahlah. Seo Hyun mulai menyantap
makanan yang disodorkan Han ahjumma sejak tadi.
“Eomma
pergi dengan siapa, ahjumma?” tanyanya disuapan kedua.
“Dengan
teman namjanya” Han ahjuma menjawabnya
dengan takut-takut. Seo Hyun menoleh ke dapur yang
tidak jauh dari ruang makan.
Matanya sedikit terbelalak.
“Apa
dengan ahjussi yang mengantarnya kemari?”
“N..
ne..” jawabnya ragu-ragu.
Tiba-tiba
dadanya terasa sesak. Mata terasa panas. Perutnya mual. Piring ditandaskan dan dibawa
kebak cuci. Ia langsung mengurung diri di kamar. Duduk di atas tempat tidur dengan
kiki dilipat. Mencengkram erat sebuah guling yang ada disampingnya. Lampu kamar
dibiarkan mati. Pandangannnya mulai kabur. Sekarang ia melamun. Dadanya masih
terasa sesak. Rasanya ingin mengeluarkan semua yang ada dipikirannya.
Ingin
bercerita. Tapi harus cerita dengan siapa? Haruskah Han ahjummma lagi? Teman?
tak ada satupun yang akrab dengannya. Bukan karena tidak ada yang mau berteman
dengannya, tetapi ia memang sengaja menjaga jarak dengan teman-temannya.
Seo
Hyun melirik jam kecil yang menempel didinding sudah menunjukan pukul sepuluh
malam. Terdengar suara mobil berhenti didepan rumah. Ia berjalan ke jendela. Seo
Hyun membuka sedikit tirai yang menutupi jendela. Dibiarkan cahaya bulan masuk
melalui celah-celah tirai yang terbuka. Kamarnya berada di lantai dua berhadapan langsung dengan halaman
rumah. Betapa terkejutnya ketika melihat
eommanya turun dari mobil ahjussi yang kemarin mengantarkanya.
“Eomma..”
Seo Hyun menutup mulutnya dengan kedua tanganya karena terkejut. Matanya
membulat. Mata dan wajahnya mulai terasa panas lagi. Ia menelan ludahnya dengan
susah payah.
Ahjussi
itu mendongak ke atas, kearah kamar Seo Hyun berada. Seo Hyun segera menutup
tirainya dan membalikkan badannya. Ia berlari ke tampat tidur dan menutup
seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia menangis dalam diam di balik selimut yang
menutupi tubuhnya. Tubuhnya gemetar. Sesaat, Ia mendengar suara orang membuka
pintu kamarnya. Pasti itu eomma.
”Seo
Hyun-ah, apa kau sudah tidur?”
Benar itu suara eommanya.
Seo Hyun tak menjawab. Eommanya menutup
pintunya kembali. Seo Hyun masih terisak tangis. Apakah appa sudah tau hal
ini?
***
Beberapa
minggu ini Yong Hwa sering memperhatikan Seo Hyun. Mengikuti setiap langkahnya pergi. Sekarang ia juga bersepeda saat pergi ke sekolah.
Terkadang ketika pulang sekolah ia mengikuti Seo Hyun dari belakang tanpa
sepengetahuannya. Yong Hwa
ingin lebih dekat dengan Seo Hyun tetapi ia takut kalau Seo Hyun merasa
terganggu.
Hari
ini ia memberanikan diri untuk mengembalikan selendang yang terjatuh sewaktu di
bukit kemarin. Ia mencari Seo Hyun ke seluruh penjuru sekolah. Akhirnya ia menemukannya
di perpustakaan.
Yong
Hwa berdiri di ambang pintu perpustakaan sambil memperhatikaannya. Sudah lima
belas menit Yong Hwa memperhatikannya. Seo Hyun hanya memelototi buku itu, tak
sekalipun dibalik. Memegang bolpoin tapi
tidak menulis. Memegang buku tapi tidak membaca. Wajahnya tampak datar. Apa yang
sebenarnya ia pikirkan? Yong
Hwa mengangkat sebelah alisnya.
Yong
Hwa berjalan mendekatinya dan duduk di depannya. Seo Hyun tetap tidak
bergeming. Masih larut dalam lamunannya sendiri.
“Hey..”
Yong Hwa mencoba untuk menyapanya. Seo Hyun mengerjap satu kali,
kembali ke alam sadar. Kemudian menatap
Yong Hwa tajam.
“Apa
aku mengganggumu?” tanya Yong Hwa hati-hati. Seo Hyun segera berdiri dari
tempat duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Yong Hwa tanpa berkata sepatah
katapun.
“Ya!
Ya! Chakkaman!”teriak Yong Hwa sambil mengejar Seo Hyun keluar dari
perpustakaan dan segera disambut tatapan tajam dari penjaga perpustakaan karena
ia berteriak terlalu keras. Yong Hwa acuh.
“Chakkaman,
Seo Hyun-ah..” Seo Hyun berhenti
dari langkahnya. Ia menoleh kebelakang dengan sedikit mencondongkan kepalanya.
Tatapan matanya masih sama. Dingin dan tajam.
“Darimana
kau tau namaku?” Yong Hwa tersenyum.
“Oh~”
Yong Hwa memutar kedua bola matanya, berusaha untuk mencari jawaban. Tanpa menunggu
jawaban, Seo Hyun kembali melangkahkan kakinya.
“Chakkaman!
Aku hanya ingin mengembalikan ini” ucap Yong Hwa. Langkah Seo Hyun terhenti
lagi. Yong Hwa berjalan dan berhenti tepat di depan Seo Hyun.
“Aku
hanya ingin mengembalikan selendang ini
padamu” ucap Yong Hwa sambil menyerahkan Selendang
putih milik Seo Hyun.
Seo
Hyun menatap Yong Hwa dan selendang itu secara bergantian. Seo Hyun kemudian
mengambil selendang itu dari tangan Yong Hwa.
Degdeg~
detak jantung Yong Hwa terasa berhenti. Ingin rasanya waktu berhenti lima menit
saja. Tapi itu mustahil, waktu masih terus berjalan. Tanpa sadar ia melangkungkan senyumannya. Seo
Hyun berjalan berlalu darinya tanpa mengatakan apapun. Yong Hwa membelalakkan matanya.
“Ya!
Setidaknya kau harus mengatakan ‘gomawo’ kepadaku” teriak Yong Hwa. Seo Hyun
berhenti melangkah. Ia menoleh ke sumber suara.
“Gomawo..”
ucap Seo Hyun datar.
Tatapannya
tetap dingin kepada orang lain. Yong Hwa tersenyum gembira. Seo Hyun
melanjutkan kembali perjalanannya
yang sempat tertunda.
“Apa
kita bisa berteman? Naenun Jung Yong Hwa imnida” teriak Yong Hwa tetapi kini Seo Hyun sudah
berbelok dari koridor sekolah. Menghilang dari hadapannya.
“Hyung,
apa yang kamu lakukan disini?” tiba-tiba suara Min Hyuk mengagetkannya. Jong
Hyun dan Jung Shin juga ikut menghampirinya dan merangkul bahunya.
“Anniyo”
jawab Yong Hwa singkat. Ia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Ia
tersenyum getir.
“Mm,
Bagaimana kalau kita ke lapangan basket?” ajak Jong Hyun. Jung Shin dan Min
Hyuk menganguk bersamaan.
“Boleh.
Sudah lama aku tidak bermain basket. Hyung, kau mau ikut?” ajak Jung Shin.
“Mm,”
Yong Hwa tampak berfikir. Sedetik kemudian ia mengangguk dan menjawab “Boleh”
Mereka
berjalan bersama meninggalkan koridor yang sedikit ramai itu. Sebelum pergi,
Yong Hwa sempat menoleh ke belakang dan tersenyum kemudian berjalan di belakang
teman-temannya tersebut.
***
Bel
sekolah telah menjerit diseluruh ruang kelas pertanda pelajaran yang
membosankan ini telah usai. Yong Hwa menggeliat dimejanya setelah tertidur pulas
di dalam
kelas. Ia masih menguap beberapa kali.
Kini
Ia menatap sekeliling ruangan dengan tatapan malas. Tanpa sadar matanya menangkap
sesosok yeoja yang kemudian menjadi pusat perhatianya, ya itu Seo Hyun. Yeoja
itu tampak sibuk memasukkan buku-buku tebalnya kedalam tas berwarna biru muda
miliknya. Tak tau kenapa setiap melihat yeoja itu, ia selalu merasa bahagia. Tanpa sadar ia tersenyum.
Seo
Hyun mengibaskan rambut panjangnya kemudian mengedarkan pandangan ke beberapa
sudut ruangan. Sial, tak sengaja mata kami bertemu. Yong Hwa yang gelagapan buru-buru
mengalihkan pandangannya dari Seo Hyun. Sorot mata Seo Hyun masih tetap sama.
Sorot mata hitam itu selalu datar tetapi terkadang ia bisa menatap orang lain
dengan tajam. Seperti tak ada semangat yang terlintas di wajahnya. Namun Yong Hwa menyukai
mata indah itu. Mata yang menyimpan sejuta misteri yang membuat Yong Hwa
menjadi tertarik untuk mengenalnya. Mengetahui apa yang ia rasakan. Mengetahui
ketika ia kesepiannya. Mengetahui ketika ia merasa bahagia.
Seo
Hyun beranjak dari tempat duduknya. Melangkahkan kakinya keluar kelas. Yong Hwa
membulatkan mata dan sedikit mengangkat alisnya mendapati Seo Hyun telah pergi
meninggalkan kelas. Ia bergegas memasukkan buku-bukunya ke dalam tas yang
tergeletak di samping mejanya. Jong Hyun, Jung Shin dan Min Hyuk menatapnya
heran.
“Hyung,
mau kemana?” tanya Jung Shin. Ia mengangkat alisnya heran. Yong Hwa tidak menjawab
melainkan langsung beranjak pergi setelah selesai memasukkan bukunya kedalam
tas.
“Ya!
Hyung, mau kemana? Bukankah kita ada janji untuk bermain basket?” teriak Min
Hyuk.
“Sepertinya
hari ini aku tidak biasa. Aku ada urusan sekarang” ketus Yong Hwa.
Ketiga
namja itu saling berpandangan pertanda mereka heran. Yong Hwa berlari mengejar
Seo Hyun. Untung saja ia masih belum menghilang dari koridor sekolah. Yong Hwa
mengatur nafasnya yang terengah-engah. Sekarang Yong Hwa mengikuti Seo Hyun
sampai parkiran. Seo Hyun mengambil sepedanya kemudian berjalan menuntun
sepedahnya meninggalkan sekolah. Yong Hwapun juga demikian, ia juga mengambil
sepedanya kemudian mengikuti Seo Hyun lagi. Tentu saja dengan jarak yang tidak
begitu jauh agar ia tidak kehilangan jejak Seo Hyun.
Sepanjang
perjalanan keadaan menjadi hening. Seo Hyun memandang jalanan dengan tatapan
kosong. Seperti ada sesuatu yang membebani pikirannya. Yong Hwa masih terus
mengamatinya. Dan kini Seo Hyun berhenti tepat di depan sebuah taman kecil yang
tidak jauh dari sekolah. Seo
Hyun membiarkan dirinya menatap ke arah taman kecil itu sejenak.
Yong Hwa menoleh ke pusat perhatian Seo Hyun yang kini berpusat ke taman kecil
didepannya.
Beberapa
saat kemudian Seo Hyun masuk ke dalam
taman kecil itu. Yong Hwa mengikutinya memasuki taman kecil itu. Tiba-tiba
langkahnya terhenti lagi. Seo Hyun memandang satu keluarga yang sedang piknik
disana. Terlihat sangat membahagiakan. Sekali lagi Yong Hwa juga ikut memandang
apa yang menjadi pusat perhatian Seo Hyun.
Seo
Hyun terdiam sejenak. Pikiranya menerawang pada 10 tahun lalu, ketika ia, eomma
dan appanya pergi piknik tepat di taman yang indah ini. Setiap akhir pekan
mereka selalu menghabiskan waktu bersama di taman ini. Taman yang menyisakan
sejuta kenangan indah baginya. Seo Hyun sangat merindukan saat-saat bersama
keluarganya seperti dulu. Sekarang tinggallah sepi. Appa dan eommanya sibuk
dengan urusannya masing-masing. Tak ada waktu lagi untuknya. Ia benar-benar
sangat kesepian saat ini.
Tidak
terasa air mata telah membanjiri pipi Seo Hyun. Buru-buru ia menghapus air
matanya. Setelah itu, ia berjalan menuju kursi kayu yang berada tidak jauh dari
tempat ia berdiri dan
memarkirkan sepedanya di samping kursi kayu itu. Ia duduk sambil terus
memandangi sebuah keluarga yang kelihatan sangat harmonis itu dengan pandangan
kosong. Sementara itu, Yong Hwa masih tetap
berada diposisinya. Tak sedetikpun mengalihkan tatapan matanya kepada yeoja
berambut panjang itu.
Beberapa
menit berlalu. Seo Hyun terlihat menundukan kepalanya dalam-dalam. Entah apa
yang sedang ia pikirkan. Yong Hwa mendekati Seo Hyun dengan membawa minuman
dingin yang baru saja dibelinya. Yong Hwa menempelkan minuman dingin itu di
pipi Seo Hyun dan seketika Seo Hyun terperenjat kaget.
“Ah~
dingin” kata Seo Hyun. Ia menaikkan kedua bahunya. Seo Hyun mendongakkan
kepalanya. Dilihatnya seorang namja yang tersenyum ringan kepadanya.
“Ah~
sepertinya cuaca sangat panas. Minum minuman dingin sepertinya ide yang bagus”
ucap Yong Hwa sembari menengadahkan kepalanya menatap langit yang tampak cerah
itu. Tak lama, Yong Hwa berbalik menatap Seo Hyun lagi. Seo Hyun menatapnya
datar.
“Ambillah..”
ucap Yong Hwa lagi. Matanya memberikan
isyarat agar Seo Hyun mengambil minuman dingin itu dari tangannya. Seo Hyun
mengerutkan dahinya.
“Ambilah..”
Yong Hwa tersenyum ringan.
Seo
Hyun tampak ragu mengambil minuman itu tapi akhirnya ia pun mengambil minuman
itu dari tangan Yong Hwa. Yong Hwa duduk disamping Seo Hyun. Mereka membuka
kaleng minuman itu dan menyesapnya pelan.
“Haah..
segarnya..” guman Yong Hwa.
Seo
Hyun tidak menanggapi. Yong Hwa mengigit bibir bawahnya. Seo Hyun meletakan
kaleng itu di sampingnya. Seo Hyun memadang ke depan lagi. Tatapannya kosong.
Yong Hwa sedikit mencuri-curi pandangan kepada yeoja cantik yang berada di
sampingnya tersebut. Namun sepertinya yeoja itu tidak menyadarinya. Yeoja itu
masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sejenak
keadaan hening. Hanya terdengar suara samar-samar dari obrolan beberapa orang
yang ada disana. Kicau
burung yang sesekali terdengar diantara hembusan angin menambah kesan damai di
taman itu. Tiba-tiba Yong hwa menarik
tangan Seo Hyun agar ia mengikuti langkahnya. Mata sipit Seo Hyun membulat.
“Ya!
Kita mau kemana?” tanya Seo Hyun dengan posisi berlari mengikuti Yong Hwa.
“Ikuti
saja aku” sahut Yong Hwa. Senyum lebar terulas di bibir Yong Hwa.
Seo Hyun tidak bertanya lagi, sepertinya ia
pasrah ketika tangannya ditarik oleh Yong hwa. Sepuluh menit berlalu, mereka
sampai di tempat tujuan. Sebuah taman bermain yang tidak jauh dari taman
berada. Mereka berdua masih mengatur nafasnya yang terengah-engah.
“Taraaaa…”
ucap Yong Hwa. Seo Hyun mengedarkan pandangan ke sekeliling.
“Kajja!
Kita naik kereta putar itu” Yong Hwa menarik tangan Seo Hyun untuk kedua
kalinya.
Deg~
deg~
deg~
Jantung
Seo Hyun serasa berhenti seperti udara yang
seolah berhenti saat itu. Mendadak wajahnya
menjadi panas melihat kereta putar yang tepat
berada di depan matanya. Tempat itu mengingatkan
kembali pada masa lalunya bersama kedua orang tuanya. Seo Hyun menghentikan
langkah kakinya.
“Waeyo?”
tanya Yong Hwa. Keningnya berkerut.
“Shireo!
Aku tidak mau pergi kesana!” teriak Seo
Hyun. Seo Hyun menghempaskan keras tangan Yong Hwa lalu berlari meninggalkan
Yong Hwa dengan mata yang penuh air mata. Air matanya tidak bisa terbendung
lagi. Yong Hwa mengejar Seo Hyun dan meraih tangannya. Dia menebak bahwa tempat
tersebut memiliki kenangan khusus antara
Seo Hyun dengan kedua orang tuanya. Dan tak salah lagi tebakan itu benar.
“Mianhae,
aku tidak tahu..” ucap Yong Hwa serba salah.
“Gwenchana..
biarkan aku pergi”
“Jeongmal
mianhae.. tapi tolong temani aku disini, kita pergi ke permainan yang lain, ne?”
cegah Yong Hwa.
“Mianhae.
Aku tidak bisa!”
“Jebal,
Seo Hyun~ah” pinta Yong Hwa. Yong Hwa menarik tubuh Seo Hyun dan kini mereka
saling berhadapan. Yong Hwa menghapus air mata Seo Hyun dengan kedua jari
tangannya. Seo Hyun tetap menunduk.
Perasaannya saat ini sungguh tidak karuan.
“Jebal.
Uljimayo” pintanya lagi. Seo Hyun menghembuskan nafas kemudian mengangguk
pelan. Senyum kemenangan menghiasi bibir Yong Hwa.
“Kajja!” ajaknya.
Mereka
menaiki beberapa wahana yang ada di taman bermain itu. Ini sedikit menenangkan
hati Seo Hyun. Terakhir mereka menaiki sebuah gondola untuk melihat pemandangan
kota Busan di malam hari. Mereka duduk berhadapan. Seo Hyun melihat ke luar
kaca. Tampak pemandangan yang sangat menakjubkan.
“Waw!
Indah Sekali. Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini” guman Yong
Hwa. Seo Hyun tetap diam. Tatapannya kosong menerawang jauh ke luar jendela. Sebenarnya
apa yang sedang ia pikirkan?
Akhirnya
mereka sampai di tempat pemberhentian. Sekarang mereka berjalan bersampingan,
menuntun sepeda mereka masing-masing menuju rumah. Keadaan hening. Hanya
terdengar suara kendaraan yang berlalu-lalang di samping mereka. Tak ada
sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.
“Hujan..”
ucap Yong Hwa ketika rintikan hujan mulai turun membasahi tubuh mereka.
“Sebaikanya
kita berteduh disana” tawar Yong Hwa sambil menunjuk ke halte bus yang tak jauh dari tempat mereka
berpijak untuk
berteduh. Mereka berlari menuju tempat itu agar tidak basah kuyup.
“Haahh!”
Yong Hwa mendesah pelan kemudian bertanya “Apa kau baik-baik saja?”
“Ne,
aku baik-baik saja” jawab Seo Hyun cepat.
Seo
Hyun menatap tetesan air hujan yang jatuh dengan seksama. Semakin lama, ia
hanyut dalam lamunanya sendiri. Yong Hwa menatapnya dengan tatapan heran. Ia
sedikit mencondongkan kepalanya ke depan. Keningnya berkerut.
“Wae?
Ada yang salah?” tanya Seo Hyun mulai sadar telah menjadi pusat perhatian. Yong
Hwa yang salah tingkah buru-buru mengalihkan tatapannya ke depan.
“An.. Anniyo!” jawabnya. Ia mengeleng
cepat.
Yong
Hwa memandang Seo Hyun dengan kepala sedikit menyodong ke depan lagi. Dan kali ini sepertinya
Seo Hyun tidak memperdulikanya. Yong Hwa tersenyum tipis.
“Apa
kau suka hujan?” tanyanya. Seo Hyun masih terdiam, ia memikirkan kata untuk
menjawab. Ia mendengus pelan lalu ia mengangkat bahu dan menjawab,
“Mungkin”
Beberapa menit berlalu tanpa suara, hanya
terdengar hembusan angin yang lembut dan air hujan. Yong Hwa memejamkan mata sejenak. Suasananya
benar-benar damai.
“Aku suka sekali
hujan” guman Yong Hwa. Memecah keheningan yang terjadi.
“Jinjjayo?” sahut Seo Hyun datar. Yong Hwa
membuka matanya kembali dan menoleh.
“Ne..” Yong Hwa mengangguk antusias.
“Aku sangat menyukai hujan karena aku
merasa damai ketika melihat rintikan air hujan. Suara rintihan air hujan yang
jatuh dan hembusan angin yang menyejukkan membuat pikiranku tenang”
lanjutnya. Senyum masih terulas di
bibirnya.
Seo Hyun mengangkat tangannya. Menengadah,
menangkap air hujan yang jatuh mengalir melalui genting. Ia masih menatap air hujan yang jatuh ditangannya.
Matanya terpejam. Ia menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan. Dirasakanya suhu
dingin di tangannya. Ya, hatinya merasa damai. Ia menghirup udara yang sejuk
itu dan menghembuskanya lagi. Kini matanya terbuka kembali. Ia menatap air
hujan yang jatuh di tangannya, seulas senyum singkat melekat di bibirnya. Yong
Hwa ikut tersenyum. Rasanya baru pertama kali ia melihat senyum tulus itu, manis sekali.
Tiba-tiba senyum itu hilang dari wajah Seo
Hyun dan berubah menjadi kepanikan. Seo Hyun menundukkan kepalanya panik. Yong
Hwa mengerutkan alisnya bingung. Lalu ia memandang ke seberang jalan. Mobil
berhenti disana ketika lampu merah. Di dalam mobil itu terdapat seorang ahjussi
dan ahjumma yang menurutnya masih cukup muda. Yong Hwa memandang bergantian ke
arah Seo Hyun dan mobil di seberang jalan itu. Masih ada kepanikan di wajah Seo
Hyun.
“Apa dia eomma Seo Hyun?” Ucapnya dalam
hati.
Ya, itu memang eomma Seo Hyun. Ia sedang
bermesrahan dengan ahjussi yang selalu mengantar eommanya pulang. Mereka
bercanda tawa disana.
Wajah Seo Hyun terasa panas. Matanya juga
mulai terasa panas. Sepertinya matanya sudah mulai mengeluarkan kristal bening
itu. Bibirnya
mulai bergetar. Seo
Hyun tidak kuat melihatnya. Ia berlari meninggalkan halte meski hujan turun
dengan derasnya. Yong Hwa tercengang kaget. Matanya melebar.
“Seo Hyun-ah, wae? Kau mau pergi kemana?” Yong Hwa mengejar Seo Hyun ditengah
derasnya air hujan yang turun. Seo Hyun tidak menjawab, ia masih tetap berlari menjauhi halte.
“Ya! Seo hyun-ah.. Seo Hyun-ah. Chakkaman!”
“Chakkaman!” Yong Hwa mengulangi kata itu
dengan nada meninggi hingga Seo Hyun berhenti berlari. Yong Hwa mengatur
nafasnya yang tersengal-sengal.
“Gwenchana! Jangan khawatirkan aku!
Aku baik-baik saja!”
ucap Seo Hyun masih terisak tangis, tak membalikkan badannya.
“Andwae! Kau pasti butuh teman sekarang
ini” bantah Yong Hwa.
“Anni, gwenchanayo.. Sekarang pergilah”
ucap Seo Hyun. Yong Hwa tahu yeoja yang berdiri di
hadapannya itu mendapat kesulitan. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Ia kesal
pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengatakan sesuatu yang menghibur.
“Andwae!
Aku harus memastikan kau baik-baik saja”
“Ya!
Pergi, babo! Aku ingin sendiri!”
bentak Seo Hyun berlari meninggalkan Yong Hwa. Yong Hwa mengejarnya lagi tapi
belum begitu jauh ia mengejar, Seo Hyun jatuh pingsan. Mata Yong Hwa melebar.
“Ya!
Seo Hyun-ah..” teriak Yong Hwa sembari
berlari kepada Seo Hyun. Ia terkapar lemah di jalanan. Segera Yong Hwa
mengangkat kepala Seo Hyun ke dalam pangkuannya.
“Ya!
Seo Hyun-ah, ireona!” teriak Yong Hwa panik.
Ia menepuk-nepuk pipi Seo Hyun agar yeoja itu segera sadar.
“Ya!
Seo Hyun-ah.. Kim Seo Hyun, cepat
buka matamu” Yong Hwa mengguncang tubuhnya tetapi mata indah itu tetap
terpejam. Yong Hwa dilanda kepanikan.
“Seo
Hyun-ah.. Seo Hyun-ah…” Yong Hwa bertambah
panik karena ia tetap tidak sadarkan diri. Ia mengangkat tubuh Seo Hyun yang
sangat lemah sekarang.
***
Yong
Hwa memperhatikan seorang yeoja yang terbaring lemah dihadapannya. Wajahnya
putih pucat. Sungguh malang sekali nasibnya. Yong Hwa merasa yeoja ini sangat kesepian. Mengingat kejadian yang
ia lihat tadi ia bisa menebak bahwa keluarganya sudah tidak harmonis lagi
seperti yang pernah di katakan Min Hyuk dulu.
Ia
menatap wajah yeoja itu dengan rasa iba. Ingin rasanya ia selalu bersamanya
agar ia tidak merasa kesepian lagi. Yong Hwa menempelkan telapak tangannya di
atas kening yeoja itu, Seo Hyun.
“Panasnya
belum turun” gumannya lirih.
Ia
meletakkan kompres di atas kening Seo Hyun lagi. Tanpa sadar, Yong Hwa
mengamati setiap lekuk wajah Seo Hyun. Ia baru menyadari bahwa yeoja yang
terkapar lemah di hadapannya itu sangat cantik, bahkan ketika tertidur. Sekilas
senyum menempel di bibirnya. Ia menyibakkan rambut Seo Hyun yang menutupi
wajahnya. Kini tangannya mulai menyentuh hidung dan bibir Seo hyun dengan
lembut. Senyum mengembang lagi di sudut bibirnya. Si pemilik hidung dan bibir
indah itu mendadak
terjaga. Seo hyun menggerak-gerakkan kepalanya.
Yong hwa segera menarik tangannya ke posisi semula.
Seo
Hyun membuka matanya pelan. ia mengamati sekeliling. Tempat itu terasa asing
baginya. Matanya menangkap sesosok namja berada disampingnya sedang tersenyum
padanya. Ia mengerutkan keningnya. Mereka bertemu pandang selama beberapa detik
kemudian Seo hyun tersadar kembali.
“Oddiga?”
tanya Seo Hyun dengan tatapan tajam.
“Jangan
terlalu banyak bicara. Kau maih sangat lemah.”
“Dimana
aku sekarang?” tanyanya lagi dengan nada tinggi. Ia mendudukkan badannya.
Menatap namja disampingnya itu dengan tajam.
“Tenanglah!
Jangan banyak bergerak. Kau masih sangat lemah. Kau berada di rumahku. Tadi aku
ingin mengantarkanmu ke rumah tapi aku tidak tahu dimana rumahmu” jelas Yong Hwa
panjang lebar.
“Aku
harus pergi!” Seo Hyun segera menyibak selimut yang menutupi tubuhnya lalu
menyambar tasnya yang berada di meja dan berjalan pergi.
“Ya!
Seo Hyun-ah kau masih lemah. Kau
harus istirahat disini” Seo hyun tidak menghiraukan.
“Ya!
Seo Hyun-ah.. Kim Seo Hyun..”
teriak Yong Hwa. Kepala
Seo Hyun tiba-tiba terasa berdenyut-denyut. Astaga, ada apa lagi dengan
dirinya? Pandangannya mulai kabur lagi dan tanpa hitungan detik ia terkapar di
lantai. Mata Yong Hwa melebar dan mulutnya sedikit membuka melihat Seo Hyun
pingsan kembali. Dengan sigap ia menghampiri Seo Hyun.
“Ya! Seo Hyun-ah.. buka matamu” Yong Hwa meletakan
kepala Seo Hyun di pangkuannya dan menepuk-nepuk pipi Seo Hyun. Yong Hwa sangat
panik.
“Ya! Ireona! Buka matamu! Palli~”
“Ya! Seo Hyun-ah!”
***
Seo Hyun duduk di depan meja belajar yang
menghadap jendela di kamar tidurnya. Ia sedang mengerjakan beberapa tugas
sekolah yang diberikan Kang seonsangnim tadi pagi. Wajahnya tenang datar.
Beberapa menit kemudian, ia mendongakkan kepalanya keluar jendela. Melihat
bintang-bintang bertaburan di luar sana. Sungguh indah. Ia terlarut dalam alam
bawah sadarnya sendiri. Angin malam sejuk menerpa wajahnya.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari kamar
sebelah. Kamar kedua orang tuanya. Dengan sigap ia menoleh ke belakang. Benar
saja, kedua orang tuanya terdengar sedang cekcok. “Dari dulu tak ada habisnya”batinnya.
Seo Hyun segera memutar kepalanya kembali
ke posisi semula. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jari-jari tangannya mendadak terasa dingin
dan dadanya mendadak terasa nyeri. Wajahnya juga gelisah.
“Eomma, kemana saja, hah? Kenapa jam
segini baru pulang?” terdengar suara bentakan appa dari kamar sebelah.
“Apa urusanmu, appa? Appa setiap hari juga pulang
malam!” Ucap eomma tak mau kalah.
“Appa pulang malam karena kerja!”
“Tapi tidak setiap harikan lemburkan!”
“Appa memang harus lembur, ma! Sedang
eomma kemana saja?
setiap hari pulang malam?!”
“Eomma, ke rumah teman” jawab eomma cepat.
“Teman siapa lagi? Siapa namja yang
mengantarkamu pulang tadi? Kemarin appa liat eomma juga pergi dengannya!”
“Memang kenapa kalau eomma pergi dengan
Lee JinKi? Dia lebih baik dari appa. Lebih perhatian daripada ap..” sebelum selesai bicara, sebuah tamparan mendarat
dipipi eomma.
“Appa..” Kristal bening mengalir dipipi
eomma.
Seo Hyun tersentak kaget mendengarnya. Ia
segera lari ke sudut ruangan. Duduk sambil memeluk erat kedua kakinya. Tubuhnya
bergetar hebat. Air matanya kini telah membanjiri pipinya tanpa bisa di bendung
lagi. ia sangat ketakutan ketika mendengar kedua orang tuanya bertengkar hebat.
Masih terdengar cekcok di telinganya.
Prrang~~
Terdengar suara benda dibanting dengan
keras. Seo Hyun makin bertambah terisak tangis. Ia sangat ketakutan dalam
keadaan seperti ini. Tak ada seorangpun yang menemaninya sekarang. Terkadang
Han ahjumma yang menenangkanya tetapi Han
ahjumma sedang pulang ke rumah karena sedang sakit. Tinggalah ia sendirian
disana. Meratapi nasib buruknya. Terisak tangis tanpa ada seorangpun yang
memperdulikannya.
***
Teng tengggg….
Bel tanda istirahat telah berbunyi. Seketika
murid-murid berhamburan keluar kelas. Namun tidak dengan Yong Hwa, Min hyuk,
Jung Shin dan Jong Hyun. Mereka malas sekali beranjak dari tempat duduk mereka.
Jung Shin tampak sesekali memainkan bolpoin di tangannya, bosan. Tak ada
pembicaraan apapun diantara mereka sampai terdengar suara Min Hyuk yang memecah
kesunyian itu.
“Hyung, aku bosan. Bagaimana kalau kita
bermain basket?” ajak Min Hyuk. Senyum lebar menghiasi bibirnya.
”Hmm.. sepertinya itu ide yang bagus”
sambung Jong Hyun.
“Oke. Aku juga setuju dengan pendapatmu.
Hyung kau mau ikut?” tanya Jung Shin kepada Yong Hwa. Ternyata ia sedang
melamun. Yong Hwa mengerjap lalu menoleh.
“Ne?”
“Hyung mau ikut bermain basket atau tidak?”
ulang Jung Shik lagi. Min Hyuk tampak mengangguk berharap Yong Hwa menjawab
seperti apa yang di harapkannya.
“Andwae.. Aku sedang tidak ingin keluar
kelas”
“Hyung, ayolah..” rengek Min Hyuk.
“Ne hyung. Ayo ikut bermain dengan kami”
Jung Shik ikut
merengek. Yong Hwa menatap satu persatu teman-teman dekatnya itu yang
memeperlihatkan tampang memelas di wajah mereka. Beberapa detik kemudian ia terlihat sedang
berfikir, lalu menjawab”Baiklah”
Senyum cerah menghiasi bibir ketiga namja
yang sedang duduk disampingnya itu.
“Kajja!”
Mereka berempat berjalan meninggalkan
kelas. Melewati koridor yang sangat
panjang. Mereka sesekali melemparkan lulucon dan tertawa bersama, terkecuali
Yong Hwa. Ia hanya diam. Diam cukup lama. Ia masih sibuk dengan pikirannya.
Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celana dan berjalan dengan kepala
sedikit menunduk. Ia sedang memikirkan seorang yeoja yang beberapa hari ini
telah menggangggu pikirannya. Ya, itu Seo Hyun. Ia masih sangat penasaran
dengan yeoja cantik nan misterius itu.
Mereka melewati perpustakaan tua sekolah yang berada tidak
jauh dari lapangan basket.
Tak tau mengapa, Yong Hwa sangat ingin sekali melihat tempat itu. Yong Hwa
menoleh ke perpustakaan tua itu. Mendadak langkahnya berhenti. Matanya
menangkap sesosok yeoja sedang duduk di bangku perpustakaan. Dan tak salah lagi
itu Seo Hyun.
“Hyung, kenapa berhenti?” tanya Min hyuk
menyadari bahwa Yong Hwa berhenti berjalan. Mereka bertiga saling berpandangan
heran.
“Hyung..”
“Ah. Ne?”
“Kenapa berhenti? Ada yang salah?” tanya
Min Hyuk sambil menengok ke dalam perpustakaan.
“Ah~ aniyo. Aku ingin ke toilet sebentar.
Kalian pergi duluan saja” ujar Yong Hwa berbohong. Ia sedikit gugup.
“Oh~ baiklah kami pergi dulu” jawab
Min Hyuk tanpa curiga sedikitpun.
“Cepat susul kami hyung” timpal Jung Shik.
“Ne..”
Setelah mereka meninggalkan Yong Hwa di
depan perpustakaan, Yong Hwa berjalan pelan memasuki perpustakaan yang memang
dibilang cukup sepi itu. Ia mendekati meja baca Seo Hyun dan duduk tidak jauh
dari tempat itu. Matanya tidak berpindah satu detikpun dari Seo Hyun. Ia
terdiam cukup lama. Suasana sangat hening. Maklum saja hanya ada segelintir
orang saja yang berada di perpustakaan tua itu.
Tatapan matanya masih tertuju kepada yeoja
bermata indah itu. Sepertinya ia melamun lagi. Terbukti sejak Yong Hwa duduk di
tempat itu, Seo Hyun hanya melototi halaman itu tanpa sekalipun membaliknya.
Yong Hwa melihatnya dengan rasa iba. Mungkin appa dan eommanya bertengkar lagi,
tebak Yong Hwa. Dan mungkin juga ia kesepian karena orang tuanya jarang
memperhatikannya. Tebakan Yong Hwa memang benar.
Sebuah ide cemerlang tiba-tiba saja
terlintas di kepala Yong Hwa. Ia memutar bola matanya kemudian beranjak dari tempat duduknya. Berjalan
menuju meja baca tempat Seo Hyun berada. Sesampainya, ia langsung menarik
tangan Seo Hyun agar ia ikut dengannya. Seo Hyun tersentak kaget. Matanya
melebar. Yong hwa menariknya keluar perpustakaan. Buku yang di bawa Seo Hyun
berjatuhan ke lantai. Ia bingung kenapa Yong Hwa menariknya keluar ruangan.
“Ya! Apa yang kau lakukan? Kita mau
kamana?” tanya Seo Hyun bingung. Alisnya berkerut. Yong Hwa tak menggubris, ia
terus menarik paksa tangan Seo Hyun.
“Ya! kita mau kemana?” teriaknya lagi.
Banyak pasang mata yang menatap sinis mereka.
“Ya! kita mau kemana?” bentak Seo Hyun
dengan keras, seketika Yong Hwa berhenti. Berbalik menatap Seo Hyun. Yong Hwa
terdiam sejenak kemudian menjawab ”Jangan banyak bertanya. Ikuti saja aku” Yong
Hwa berbalik dan berjalan lagi.
“Ya! sheiro!” Seo Hyun berusaha melepas
genggamannya. Tetapi itu semua sia-sia, genggaman Yong Hwa terlalu kuat. Seo
Hyun mendesah dan hanya bisa pasrah mengikutinya. Sekarang mereka sampai ke
tempat parkir. Yong Hwa mengambil sepedanya yang berada di paling ujung tempat
parkir tersebut.
“Ayo naik”perintah Yong Hwa. Seo Hyun
hanya menatapnya dingin.
“Cepat naiklah” Seo Hyun tetap menatapnya
dingin tanpa berkata sepatah katapun. Seo Hyun membalikan badannya bersiap
meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba ada sesuatu yang menahannya. Tangannya di
tarik Yong Hwa sehingga ia berbalik dan duduk diboncengan sepeda.
“Yaaaa!” bentak Seo hyun. Yong Hwa hanya
tersenyum lebar. Ia segera mengayuh sepedanya keluar sekolah.
“Ya! turunkan aku
sekarang! Palli~” tidak ada respon dari Yong Hwa.
“Ya!
turunkan aku sekarang!” bentaknya lagi.
“Berpeganganlah
atau kau akan terjatuh” ancamnya.
“Aiish!
Andwae! Cepat turunkan aku sekarang!” Yong Hwa tak menjawab. Ia terus mengayuh
sepedanya lebih kencang sehingga Seo Hyun terperanjak dan refleks memegang pinggang Yong Hwa. Yong Hwa
tersenyum lagi.
“Ya! kau
gila? Ini cepat sekali!”
“Diamlah
atau aku akan menambah kecepatannya.”
“Turunkan
aku sekarang” benar saja, Yong hwa mengayuh sepedanya lebih cepat.
“Aaaa..
Kau gila?” ucap Seo Hyun sambil menutup matanya karena takut.
“Anni.
Sebentar lagi kita akan sampai jadi bersabarlah” Yong hwa masih tetap tersenyum
sedangkan Seo Hyun hanya pasrah lagi mengikutinya tanpa dapat mengelak lagi.
Beberapa
menit berlalu, mereka sampai di sebuah jembatan di tepi sungai yang sepi. Pemandangan tempat itu sangat
indah. Suasana sungguh tenang. Burung
terbang kesana kemari dan sesekali memamerkan kicauan merdunya. Sungguh Seo
Hyun belum pernah pergi ke tempat seindah itu.
“Kita
sudah sampai. Turunlah.” Ucap Yong Hwa. Seo Hyun segera turun. Di tatapnya Yong
Hwa dengan datar.
“Kenapa
kau ajak aku kesini?”
Yong
Hwa berjalan menuju pinggiran sungai dan
Seo Hyun mengikuti dibelakangnya. Yong Hwa menutup kedua matanya. Menghirup
udara sejuk tempat itu kemudian membuka matanya kembali.
“Sangat
indah, bukan?” Seo Hyun menyapukan pandangannya ke segala arah dengan ekspresi
seperti biasa. Memang tempai itu sangat indah tetapi sedikitpun Seo Hyun tidak
menaruh perhatian ke tempat itu.
“Kau bisa
melepas penatmu disini. Teriaklah sesuka hatimu agar semua bebanmu bisa
berkurang. Palli!” ucap Yong Hwa sambil menoleh ke arah Seo Hyun dan tersenyum.
Seo Hyun mengangkat kedua alisnya pertanda heran.
“Aaaaaaght…”
teriak Yong Hwa. Yong hwa menoleh lagi dan memberi isyarat agar Seo Hyun
mengikutinya.
“Aaaaaght..”
teriaknya lagi.
“Dulu
waktu aku belum pindah ke Jepang,
aku sering kesini ketika suasana hatiku buruk. Berteriak hingga suaraku habis.
Dan hasilnya suasana hatiku menjadi lebih baik” Ucap Yong Hwa.
“Cobalah”
Yong Hwa menyinggungkan senyuman di bibirnya. Seo Hyun tampak masih ragu tapi
akhirnya ia berteriak juga.
“Aaaaaagh….”
Seo Hyun mencoba pertama kalinya.
Astaga! beban
yang berada difikirannya serasa sedikit
berkurang. Yong hwa tersenyum melihatnya.
“Aaaaaaght…”
teriaknya lagi. Seo Hyun terus berteriak karena suasana mulai hatinya membaik. Seo Hyun member jeda
untuk menata nafasnya yang terengah-engah.
“Apa
kau sedikit baikan?” tanya Yong Hwa. Seo Hyun mengangguk pelan kemudian
berteriak lagi. Yong Hwa tersenyum , sedetik kemudian ia ikut berteriak bersama
Seo Hyun.
***
Seo
Hyun dan Yong Hwa menuntun sepeda menuju rumah. Suasana begitu hening. Hmm..
sangat hening. Tak ada pembicaraan sekalipun. Suara kendaraan pun tak terdengar
karena memang sudah sangat malam. Yong Hwa berniat mengantar Seo Hyun sampai kerumahnya
karena takut terjadi sesuatu dengannya.
Dua
puluh menit mereka berjalan akhirnya mereka sampai di depan rumah Seo Hyun. Seo
Hyun memasuki halaman rumahnya tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
“Aiish..
yeoja seperti apa dia? Masuk tanpa mengatakan sepatah katapun padaku?” batin
Yong Hwa.
“Seo
Hyun-ah..” panggilnya. Seo Hyun yang sedang berjalan
di halaman rumahnya menoleh. Tanpa ekspresi.
Yong
hwa tersenyum padanya lalu berkata ”Annyeong Jumusseyo.. semoga kau mimpi indah
malam ini” Seo Hyun mengangguk pelan dan membalikan badan bersiap masuk ke
rumah.
“Oh,
Seo Hyun~ah..” panggilnya lagi.
“Massalah..
mm.. masalahmu, jangan banyak difikirkan. Jika kau butuh teman cari saja aku.
Aku akan siap untukmu”Ucap Yong Hwa terbata-bata. Seo Hyun mengerutkan kedua
alisnya.
“Oh~ ak.. akuu hanya ingin membantumu saja, jika kau
tidak keberatan sih” ucap Yong Hwa masih terbata-bata. Ia menggaruk belakang
kepalanya yang tidak gatal.
“Oh..”
Seo Hyun mengangguk lagi.
“Hmm..
baiklah, aku akan pulang sekarang, annyeong..” ucap Yong Hwa sedikit canggung. Ia kembali menuntun sepeda
menjauhi rumah Seo Hyun tetapi langkahnya sempat berhenti karena mendengar
suara. Suara Seo Hyun. “Gomawo”
Yong
Hwa menoleh. Mereka bertemu pandangan selama beberapa detik.
“Oh~
ne, ini bukan apa-apa” ucap Yong Hwa memecah kecanggungan. Ia tersenyum.
“Masuklah,
ini sudah malam”
“Ne,
gomawo”
“Aku
benar-benar pergi sekarang. Annyeong!”
“Annyeong”
***
Yong Hwa berjalan keluar dari gerbang sekolah. Sebentar
kemudian, langkahnya terhenti. Matanya menatap langit luas. Ia menarik nafas
cepat dan menghembuskannya kasar. Ia memasukan tangannya ke dalam saku
celananya kemudian berjalan seperti tanpa arah. Berjalan dengan malasnya sampai
kakinya menyentuh benda asing. Kaleng bekas tergeletak disana. Alisnya terangkat.
Kakinya reflek bergerak menendang kaleng itu pelan. Menendang sambil terus
berjalan menelusuti trotoar yang tidak terlalu ramai itu. Menatap lurus ke
depan dengan pandangan kosong.
Tak terasa ia telah berjalan sangat jauh hingga
menemukan sebuah sungai. Sungai dengan air jernih hingga menimbulkan kedamaian
tersendiri. Ya, ini adalah tempat favoritnya. Ia mengedarkan pandangannya.
Sekilas senyuman menghiasi bibirnya. Air mengalir sungguh menenangkan.
Pepohonan hijau di tepi sungai meneduhkan jiwa. Rerumputan liar seolah menari
diterpa angin sore. Tunggu. Matanya menatap samar-samar bayangan yeoja. Matanya
menyipit. Yeoja itu duduk di tepi sungai dengan memeluk kedua kakinya. Menatap
kosong ke sungai.
Yong hwa melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul
04.45 pm. Hari sudah sangat sore, kenapa ada yeoja yang duduk disana? Nuguya?
Yong Hwa berjalan menghampirinya.
“Seo Hyun?” gumannya nyaris tanpa suara. Matanya
melebar. Sedetik kemudian seulas senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia segera
duduk disamping Seo Hyun.
“Hei, sedang apa sendirian disini?” tanya Yong Hwa
tanpa menoleh sedikitpun. Seo Hyun menoleh ke arahnya dan menatapnya heran. Sekarang
Yong Hwa menoleh dan menampilkan senyum manisnya. Seo Hyun menatapnya beberapa
detik kemudian berdiri, bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Mata Yong Hwa
membulat. Seketika tanganya meraih tangan kanan Seo Hyun.
“Chakkaman!” Seo Hyun menatapnya kosong kemudian
menarik tanganya, berusaha melepas genggaman Yong Hwa. Tapi Yong Hwa
menggenggamnya semakin erat.
“Chakkaman!” ulangnya lagi.
Seo Hyun tetap memberontak sehingga Yong Hwa menarik
tangannya lebih keras hingga Seo Hyun jatuh tepat dipangkuannya. Wajah kami
berjarak cukup dekat. Mata mereka bertemu cukup lama. Sepi . Sunyi. Semilir
angin sore hari menerpa tubuh mereka.
Tanpa sadar Yong Hwa meulai mengamati
setiap lekuk wajah alaminya Seo Hyun dengan
seksama. Yeppo. Bahkan tidak terasa Yong Hwa menahan nafasnya. Seo Hyun segera
bangkit dari pangkuan Yong Hwa, duduk kemudian saling membuang muka. Yong Hwa
menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
“Wae?” tanya Seo Hyun.
“An.. anni, tunggulah disini sebentar. Aku ingin
menunjukan sesuatu padamu” Yong Hwa melihat jam tangannya kembali kemudian
berkata “Tunggulah lima menit lagi.”
Keadaan hening. Hanya terdengar suara angin dan air yang
mengalir. Lima menit telah berlalu, yang ditunggu-tunggu sudah tiba.
“Lihatlah!” ucap Yong Hwa sambil mengarahkan jari
telunjuk kirinya ke arah barat. Matahari berwarna orange dengan semburat kemerahan akan
segera terbenam. Pamandangan sore itu sangat indah. Tak ada satupun awan yang
menyelimutinya sehingga benar-benar terlihat
jelas. Seo Hyun melebarkan matanya takjup.
“Indah, bukan?” tanya Yong Hwa.
Seo Hyun menoleh kemudian menjawab “Oh~” Senyum
menghiasi hatinya. Pemandangan indah itu sedikit mengurangi beban fikirannya.
“Apa kau suka?” Seo Hyun mengagguk kearahnya. Yong Hwa
tersenyum lebar.
***
Angin malam semilir menerpa tubuh ketika kedua insan yang sedang melangkahkan
kakiku di atas trotoar itu saling hanyut
dalam fikirannya masing-masing. Hm.. rasa dingin itu
telah menusuk kulit mereka.
Yong Hwa menengok
ke samping. Seo Hyun masih disitu, diam membisu. Menerawang ke depan dengan
pandangan kosong. Ia paham
betul dengan keadaan Seo Hyun.
Jiwanya sedang terguncang dengan apa yang di alami keluarganya sekarang. Benar-benar malang.
Yong Hwa menghembuskan
nafasnya pelan kemudian merapatkan
rompi seragamnya dan
kembali fokus ke depan. Sepi. Sunyi. Biarlah ia sibuk dengan fikirannya.
Terdengar suara gemuruh disusul dengan cahaya kilat
yang seolah menyambar. Kepala kami mendongak ke atas. Tak berapa lama hujan
turun membasahi tubuh kami.
“Omo! Hujan!” seru Seo Hyun panik.
“Ayo kita berteduh. Palli!”
“Ne, ayo lari.. rumahku sudah dekat, di ujung
perempatan itu” Seo Hyun mengarahkan telunjuknya ke arah rumah yang berada di
ujung perempatan tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Ne, kajja!”
Mereka berlari dengan
tangan berada di atas kepala agar air hujan tidak langsung jatuh ke wajah. Beberapa
menit kemudian mereka sampai di teras rumah Seo Hyun. Mereka masih mengatur
nafasnya masing-masing sehabis berlari. Namun begitu, tubuh mereka tetap basah
kuyup. Seo Hyun berjalan ke depan pintu rumah. Ditekannya beberapa kali tombol
pintu itu, tetapi tak ada satupun yang menyahut.
“Han Ahjumma..
Appaaa.. eommaa.. “ panggil Seo Hyun sambil terus menekan tombol belnya.
“Han Ahjumma..
appa.. eommaa..”panggilnya lagi. Tak ada yang keluar dari rumah besar itu. Seo
Hyunpun menyerah. Ia berbalik menghampiri Yong Hwa.
“Sepertinya appa dan eomma belum pulang” ucap Seo Hyun
datar.
“Han Ahjumma?”
tanya Yong Hwa. Seo hyun melirik jam tangannya sebentar kemudian menjawab “Sepertinya
Han Ahjumma sudah pulang”
“Pulanglah, aku baik-baik saja. Aku akan
menunggu appa dan eomma pulang.” sambungnya lagi.
Yong Hwa mengangkat kedua alisnya sedangkan Seo Hyun
berjalan kemudian duduk dengan tubuh disandarkan ke dinding. Yong Hwa duduk di
sampinganya. Menatapnya sesaat.
“Tidak usah merasa kasian padaku. Aku sudah terbiasa
seperti ini” ucap Seo Hyun. Pandangannya tetap lurus ke depan.
“Anni, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja”
Seo Hyun menoleh kemudian berkata “Aku akan baik-baik saja, sungguh. Sekarang
pulanglah” Seo Hyun membalikan kepalanya seperti semula.
“Anni, aku takut kau terjadi sesuatu. Lagi pula
sekarang sudah malam” Seo Hyun tidak menjawab.
Yong Hwa masih tidak mengalihkan pandangan. Ia melihat
tubuh Seo Hyun menggigil. Pasti Seo Hyun sangat kedinginan tapi ia tidak bisa
memberinya apa-apa. Rompinya juga basah sehingga tidak mungkin memberikan
kehangatan padanya.
“Mau rumahku?” tawar Yong
Hwa hati-hati.
“Mwo?” Seo Hyun terbelalak.
“Maukah kau pergi ke rumahku? Emm.. rumahku tidak jauh
dari sini.” Seo Hyun memiringkan kepalanya dan sedikit mengangkat alisnya.
“Lagi pula kau sudah pernah pergi ke rumahku, bukan?”
Seo Hyun tampak berfikir.
“Aku hanya memastikan kau tidak sakit. Kulihat kau
menggigil kedinginan dan bajumu basah kuyup” sambung Yong Hwa memastikan.
Seo Hyun menatapnya sesaat, lalu perlahan-lahan keraguan
memudar dari matanya. Ia menjawab “Baiklah.” Yong Hwa tersenyum ringan dan mereka
beregas pergi.
“Chakkaman!”
ucap Seo Hyun. Yong Hwa menatapnya heran. Seo Hyun berjalan beberapa langkah,
dia mengambil payung yang tergeletak tak jauh disana.
“Kajja!”
ucap Seo Hyun sambil membuka payungnya yang lebar.
Mereka
berjalan pelan melewati derasnya air hujan yang turun. Yong Hwa beberapa kali
mencuri pandangan ke Seo Hyun dan sesekali senyum-senyum sendiri. Yong Hwa
berharap rumahnya sangat jauh agar momen itu tidak segera berakhir. Namun
harapannya tidak terkabul, mereka telah sampai di depan rumah Yong Hwa. Yong
Hwa membuka pintu kemudian mempersilahkannya masuk.
“Aku
pulang” ucap Yong Hwa.
“Oh~
Yong Hwa kau sudah.. nuguya?” ucap Jung Il Woo, appa Yong Hwa yang duduk di
ruang tamu. Ia terkejut.
“Yong Hwa~yah, kau sudah pulang?” ucap Jung Soo Jung,
eomma Yong Hwa yang baru saja keluar dari
dari dapur dan melepas celemeknya. Ia sama terkejutnya dengan appa Yong
Hwa.
“Oh~ nugusaeyo?” tanya eomma Yong Hwa kaget. Ia
mengangkat kedua alisnya.
“Annyeong haseyo.. ahjumma, ahjussi. Kim Seo Hyun
imnida” ucap Seo Hyun memperkenalkan diri dan membungkukkan badannya pelan.
“Dia teman Yong Hwa, appa, eomma” terang Yong Hwa. Ia
tersenyum.
“Bolehkan dia menginap disini? Appa dan eommanya belum
pulang ke rumah sedangkan rumahnya masih terkunci” terangnya panjang lebar.
Appa dan eomma Yong Hwa
masih terdiam. Sibuk dengan fikirananya masing-masing. Beberapa detik berlalu,
appa dan eommanya mulai tersadar.
“Oh~ ne” ucap appanya. Ia tersenyum ringan. Eomma Yong
Hwa menatap Seo Hyun dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia baru menyadari
bahwa gadis muda ini basah kuyup.
“Aigoo, kau basah kuyup. Pasti kau kedinginan.
Masuklah” eomma Yong Hwa menghampiri Seo Hyun untuk mempersilahkannya masuk.
Yong Hwa mengikutinya dari belakang.
“Tunggu disini. Aku akan mengambilkan baju milik sepupu
Yong Hwa yang kemarin mengunjungi kami. Kebetulan bajunya tertinggal disini.
Aku rasa dia tidak keberatan meminjamkan bajunya untukmu” ucap eomma Yong Hwa
ramah. Ia berjalan memasuki kamar. Tak berapa lama ia keluar dengan sepasang
baju berada ditangannya.
”Masuk dan pakailah ini” ucap eomma Yong Hwa sembari
menyodorkan baju yang berada di tangannya. Ia tersenyum ramah.
“Gamsahamnida, ahjumma..” ucap Seo Hyun kemudian masuk
ke kamar yang telah disediakan. Eomma Yong Hwa beralih memandang Yong Hwa.
“Gomapta, eomma” Yong Hwa tersenyum lebar. Eommanya juga
ikut tersenyum.
“Ini bukan apa-apa. Cepat ganti bajumu yang basah itu.
Nanti ajaklah dia turun untuk makan malam” ucap eomma Yong Hwa sambil menepuk
pelan bahu anaknya itu.
“ne.. ne..” Yong Hwa
berjalan cepat memasuki kamar. Eommanya yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya
sambil tetap tersenyum kemudian kembali ke dapur.
***
Yong Hwa membuka pintu
kamarnya sedang Seo Hyun juga baru saja keluar dari kamarnya. Kamar mereka
memang bersebelahan dan pintu kamarnya juga berdekatan. Yong Hwa menatap Seo
Hyun dari dari ujung kaki sampai ujung rambut. Baju itu tampak pas dibadannya.
Seo Hyun memiringkan kepalanya. Sedetik kemudian Yong Hwa tersadar.
“Oh~ kau sudah selesai?”
“Ne”
“Kajja, eomma meminta kita segera turun untuk makan
malam”
“Ne”
Mereka berjalan turun dari
lantai dua. Di bawah sudah terlihat appa, eomma dan namdongsaeng Yong Hwa duduk
di meja makan. Yong Hwa dan Seo Hyun duduk bersebelahan. Seo Hyun duduk di
samping eomma Yong Hwa sedangkan Yong Hwa duduk di sebelah namdongsaengnya.
Appanya berada di paling tengah.
“Omo! Noona, kau cantik sekali” puji namdongsaeng Yong
Hwa.
“Ne, Yong Min-ah,
dia sangat cantik. Bajunya sangat cocok di badannya” timpal eomma Yong Hwa.
“Gamsahamnida. Maaf jika merepotkan”
“Anniyo. Anggap saja rumah sendiri” jawab appa Yong
Hwa.
“Oh ya, Yong Min-ah,
ini Kim Seo Hyun. Seo Hyun-ah
ini Jung Yong Min, dia dongsaengku”
ucap Yong Hwa sambil menunjuk ke Yong Min dan Seo Hyun.
“Hyung, apa dia yeojachingumu?” tanya Yong Min polos.
Seketika mata tertuju ke arah Yong Hwa dan Seo Hyun. Seo Hyun terbelalak.
“Aa.. Anni.. kami hanya berteman. Ayo kita makan nanti
keburu dingin.” ucap Yong Hwa mengalihkan pembicaraan. Mereka menyantap makanan
dengan lahapnya. Sesekali mereka meluncurkan lulucon sehingga mereka tertawa
bersama-sama. Seo Hyun iri dengan mereka. Iri dengan kebersamaan mereka. Iri
dengan keceriaan mereka. Iri dengan keharmoisan keluarga ini.
“Seandaianya appa dan eomma bisa kembali seperti dulu.
Hmm.. aku rindu kebersamaan seperti dahulu” batin Seo Hyun. Rasanya air matanya
ingin menetes tapi buru-buru ditahannya.
“Ini makanlah”
ucap eomma Yong Hwa sambil meletakkan lauk ke dalam mangkuk Seo Hyun. Seo Hyun
menatap eomma Yong Hwa sesaat. Ia rindu saat eommanya memanjakannya seperti
ini.
“Bolehkan aku memeluk ahjuma?” tanya Seo Hyun.
Eomma Yong Hwa bingung. Ia memandang sekeliling. Tampak
Yong Hwa menangguk berharap eommanya mengabulkan permintaannya. Eomma Yong Hwa
tersenyum ramah kepada Seo Hyun dan menjawab “oh.. hahaha.. Ne, tentu saja” ia
tersenyum ramah.
Seo Hyun memeluk eomma Yong Hwa dengan erat. Matanya
terpejam. Cairan bening keluar dari kedua matanya yang terpejam. Ia rindu
pelukan ini, pelukan hangat seorang eomma. Sudah lama sekali ia tidak merasakan
pelukan hangat seperti ini. Ia berharap waktu berhenti saat ini, tetapi itu
mustahil. Ia segera mengapus air matanya dan melepas pelukannya.
“Gamsahamnida” ujar
Seo Hyun. Seo Hyun tersenyum cerah.
Degg~
Senyum itu. Pertama kalinya Yong Hwa melihat Seo Hyun
tersenyum manis kepada orang lain. Jinjja Yeppo. Yong Hwa ikut tersenyum.
“Aku akan makan ini” ucap Seo Hyun sambil memasukan potongan
daging yang diberikan eomma Yong Hwa kepadanya.
“Hm.. Ini sangat enak”
“Jinjja?”
“Ne, ini benar-benar enak”
Seo Hyun masih tetap tersenyum.
***
Seo Hyun berdiri di balkon. Memerhatikan
hujan yang masih turun dengan derasnya. Sepertinya hujan tidak akan berhenti
dalam waktu dekat. Udara sejuk berhembus menerpa
tubuhnya. Sekarang suasana hatinya cukup baik.
Yong Hwa berjalan menuju kamarnya. Ketika ia baru saja
menyentuh gagang pintu tiba-tiba langkahnya terhenti. Matanya terpaku pada
punggung seorang yeoja yang berada di balkon tidak jauh dari sana. Tak tau
kanapa, tanpa sadar kakinya melangkah menghampirinya dan berhenti tepat
disampingnya. Ia hirup udara segar dalam-dalam sambil memejamkan matanya kemudian
menghembuskannya pelan dan membuka matanya kembali.
“Udaranya sangat segar.” kata Yong Hwa.
“Ne”
“Kanapa kau belum tidur?”
“Aku masih ingin disini” sahut Seo Hyun. Yong Hwa
mengangguk-anggukan kepala.
“Mm.. Yong hwa-ya,
kenapa kau selalu membantuku? Aku tidak mau kau membantu karena kasian padaku”
ucap Seo Hyun. Yong Hwa menoleh ke arahnya. Otaknya di paksa keras untuk berfikir
bagaimana ia harus menjawab agar yeoja itu tak menghindarinya lagi.
“Anni, ini hanya bantuan untuk seorang teman saja”jawabnya.
Seo Hyun tak bertanya lagi.
“Mm.. Seo Hyun-ah..”
panggil Yong Hwa, masih melihat lurus ke depan.
“Hm?” lalu Yong Hwa menoleh ke arahnya dan tersenyum.
“Senyummu tadi sangat manis”
“Mwo?” Seo Hyun menoleh, matanya terbelalak. Jarak
wajah mereka sangat dekat. Masih bisa dirasakan hembusan nafas diantara
keduanya. Mereka bertemu pandang beberapa saat. Detak jantung tidak secepat
biasanya. Tanpa sadar mereka menahan napas dan ketika tersadar, mereka saling
membuang muka.
“Ak-k-aku mulai mengantuk. Aku akan pergi tidur. Apa
kau tidak kembali ke kamar?” ucap
Yong Hwa salah tingkah.
“Anni. Aku masih ingin disini” sela Seo Hyun cepat.
“Baiklah, aku akan ke kamar. Annyeong jumusseyo”
“Ne, annyeong jumusseyo..” setelah Yong Hwa pergi, Seo
Hyun menempelkan tangannya di depan dada. Rasa itu masih terasa. Kenapa ini?
tidak seperti biasanya aku seperti ini. oh
dear, waeyo?
Sementara itu Yong Hwa berdiri di depan jendela
kamarnya. Tangannya juga ditempelkan di depan dada. Deg, Deg.. Deg,Deg~ terasa
sekali jantungnya berdetak abnormal. Pikirannya melayang ke kejadian yang baru saja
berlalu. Jinja, jinja yeppo.. Yong
Hwa senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba ia tersadar.
“Anni, anni, anni… kenapa aku memikirkannya? Seharusnya
kau menggosok gigi dan pergi tidur, Yong Hwa-ya!!”
runtuknya pada diri sendiri.
“Aissh, aku bisa benar-benar gila!”
***
Seo Hyun sedang duduk di depan meja
belajar. Memandang kosong keluar jendela, ke arah langit Busan yang bertabur
bintang. Jelas
sekali ada sesuatu yang mengganggu pikiran yeoja itu. Wajahnya terlihat murung
datar. Tangan kecilnya memainkan bolpoin yang sedari tadi berada di tangan
kanannya.
Tiba-tiba
terdengar suara guci yang dibanting dari kamar sebelah, diiringi suara jeritan
dari sang eomma. Ia mengerjap satu kali, lalu menoleh. Terdengar suara cekcok
antara eomma dan appa yang semakin keras. Pertengkaran ini sepertinya lebih
parah dari biasanya.
Seo
Hyun mendesah lalu menelan ludah dengan susah payah. Air mata mulai membayang
dimatanya. Dia merasa tidak tahan lagi. Dadanya amat terasa sesak, sangat sulit
untuk bernafas. Amat terasa sakit.
Ia
menutup buku didepannya dengan kasar. Tangannya meraih mantel berwarna coklat
muda yang sedari tadi tergeletak di atas ranjang lalu berjalan ke pintu dengan
langkah cepat. Ia menutup pintu kamar lagi dengan kasar. Kakinya dipaksa
berlari cepat keluar rumah. Berjalan tanpa arah tujuan. Air mata masih mengalir
deras dari kedua matanya. Tanpa benar-benar disadari, langkah kakinya
membawanya ke sebuah taman kecil yang sunyi senyap. Lampu taman menyala redup
menciptakan suasana remang-remang. Ia hempaskan tubuhnya ke bangku taman. Menyandarkan
punggungnya ke kursi. Ia masih terisak tangis, menundukkan kepala dalam-dalam.
Tubuhnya bergetar kuat. Dadanya sesak sekali.
“Seo
Hyun-ah, waeyo?” tiba-tiba terdengar
suara seseorang memanggilnya. Kepalanya seketika mendongak ke atas. Ternyata
itu Yong Hwa yang sedang menatapnya dengan alis berkerut. Buru-buru ia palingkan
wajahnya dan menghapus air matanya. Seo Hyun bangkit lalu beranjak pergi.
“Chakkaman!!”teriak
Yong Hwa. Seo Hyun berhenti.
“Kenapa
kau menangis?” ucapnya lagi tetapi Seo Hyun tidak menghiraukannya dan berjalan
lagi. Yong Hwa mengejarnya lalu melingkarkan tangannya di bahu Seo Hyun erat sehingga
ia berhenti.
“Waeyo?
Kau pasti ada masalah?”Seo Hyun tak menjawab. Air matanya tak mau berhenti
mengalir dari kelopak matanya.
“Aku
tahu kau pasti sedang ada masalah.. Ceritakan saja padaku. Aku berjanji aku
akan menjadi pendengar setiamu, ne?” tiba-tiba Seo Hyun membalikan tubuhnya dan
memeluk erat Yong Hwa. Yong Hwa tersentak kaget. Ia mengerjapkan matanya.
“Sebentar saja,”
gumam Seo Hyun, tanpa melepaskan pelukannya. “Biarkan aku begini sebentar saja.”
“Oh..
ne..” Yong Hwa tersenyum tipis. Diusapnya pucuk kepala Seo Hyun dengan lembut
agar ia merasa sedikit tenang. Meraka sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Terisak,
yeoja itu masih terus terisak. Entah mengapa hatinya juga ikut merasakan sakit.
Tidak lama setelah itu, Seo Hyun melepaskan
pelukannya. Ia menatap namja dihadapannya itu lekat- lekat.
“Kau baik-baik saja?” tanya Yong Hwa sambil
memegang kedua pundak Seo Hyun yang masih bergetar. Ia menatap lurus ke mata Seo Hyun.
“Ne..
aku baik-baik saja, gomawo..”
“Kau
pasti sedang ada masalah, bukan? Apa kau mau berbagi padaku? Mungkin saja aku
bisa membantumu” katanya sungguh-sungguh. Seo Hyun terdiam sesaat.
”Bolehkah
aku menceritakannya padamu?”
“Tentu saja.
Aku akan menjadi pendengar setiamu. Kau pasti butuh teman untuk bercerita… Bukankah
kita teman?” Seo Hyun menunduk lalu menganggguk pelan dan tak mengangkat
kepalanya lagi. Yong Hwa tersenyum simpul kemudian ia sedikit membungkukkan
kepalanya agar sejajar dengan kepala Seo Hyun.
“Jika
kau ada masalah, kau bisa bercerita kepadaku… sekarang sebaiknya kita duduk
disana dan kau bisa ceritakan semua kepadaku” kata Yong Hwa sambil menoleh ke
bangku taman yang tidak jauh dari sana. Seo Hyun mengangguk pelan, ia masih
menunduk. Yong Hwa melingkarkan tangannya ke bahu Seo Hyun lalu menuntunnya
ke bangku taman dan menduduknyanya pelan.
“Nah,
sekarang ceritakan padaku” Yong Hwa tersenyum hangat.
Seo
Hyun menatap namja yang berada disampingnya itu sesaat. Apakah sudah saatnya aku menceritakan ini kepada orang lain? Bahkan
namja ini?
“Waeyo?
Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau tidak mau menceritakanya?”
“Anniyo..” jawabnya
sambil menunduk lalu menarik napas berat dan menghempaskanya pelan, berusaha
agar rasa sakit di dadanya berkurang. Tiba-tiba ia tahu,
ia tidak perlu memasang sikap tegar dan tidak perlu berpura-pura takut. Ia bisa
melepaskan sedikit ketegangan dalam dirinya. Ia tidak sendirian lagi.
“Jadi…” Seo Hyun
menceritakan semuanya kepada Yong Hwa tanpa menatap lawan bicaranya tersebut.
Ia tahu, ini akan terasa amat menyesakkan. Menggali luka-luka yang ingin ia
kubur selamanya.
Yong
Hwa mendengarkanya tanpa berkomentar. Berusaha memberikan rasa nyaman kepada
yeoja itu. Kini ia tahu bagaimana luka seorang Kim Seo Hyun yang terlihat
sangat tegar itu. Ia frustasi melihat luka besar yang dialami Seo Hyun.
Frustrasi karena melihat Seo Hyun begitu menderita. Frustrasi karena ia tidak
tahu apa yang harus dilakukannya untuk menolongnya. Oh tuhan..
Yong
Hwa meraih kepala Seo Hyun agar berada di pundaknya dan dia tak menolak. Lalu
mengelus pundaknya dengan lembut. Seo Hyun masih bercerita tanpa air mata yang
berhenti mengalir setetespun di kedua mata indahnya.
Tak lama kemudian mereka saling terdiam. Masing-masing
menikmati keheningan yang diselingi angin malam yang sangat dingin. Perasaan
lega itu menjalar di dada Seo Hyun, apalagi dengan Jung Yong Hwa di sampingnya.
Tapi tentu saja itu tidak akan lama. Cepat atau lambat ia harus menghadapi
kenyataan. Suasana hatinya saat itu sangat bertolak belakang dengan langit yang
cerah.
3 menit..
5 menit..
8 menit..
Isakan tangis itu telah mereda. Yong Hwa menoleh ke
arah yeoja di sampingnya. Seo Hyun telah tertidur. ia tersenyum, suatu saat kau pasti bisa melewatinya.
Percayalah aku akan selalu berada disisimu..
Yong Hwa mengusap pipi Seo Hyun pelan,
mengusap air mata yang belum sepenuhnya mengering. Kemudian menyibakan rambut
yang sedikit menutupi wajahnya. Hening sesaat. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah
Seo Hyun. Ya, Yong Hwa mencium kening
Seo Hyun pelan agar yeoja itu tidak terbangun.
Deg~
Deg~
Dan
saat itulah ia menyadari sesuatu, sesuatu yang sudah tersembunyi rapi di dalam
hatinya sejak lama, namun kali ini perasaan itu begitu kuat sampai tidak
mungkin diabaikan lagi. Sepertinya ia sudah jatuh cinta pada yeoja cantik yang
masih berada di pelukannya sekarang, Oh, dear...
***
Seberkas cahaya matahari masuk melalui
celah-celah dedaunan taman. Cahaya yang menyilaukan itu memaksa sepasang mata
seorang namja untuk terbuka. Namja itu mengedipkan matanya sekali. Berharap ia
berada dalam kesadaran kembali. Matanya menerawang ke sekitar. Ia baru sadar
kalau ia berada di sebuah taman. Ia menoleh ke samping, Seo Hyun masih terlelap
disana. Ia manatapnya cukup lama. Tiba-tiba tubuh yeoja itu sedikit bergerak,
menandakan bahwa yeoja itu akan segera berada dalam alam sadarnya kembali.
Buru-buru ia menutup matanya kembali.
Seo Hyun membuka matanya, menyapukan
pandangannya ke segala arah hingga matanya bertemu dengan sesosok namja yang
berada disampingnya. Ia teringat kejadian tadi malam. Ia terpelonjat dan segera
menegakkan tubuhnya kembali. Namja itu membuka matanya. Seo Hyun menduga namja
itu terbangun karena gerakan tubuhnya tadi tapi sebenarnya namja itu sudah
terbangun terlebih dahulu.
“Oh, Kau sudah bangun?” tanya Yong Hwa
sambil menggeliat ringan, melemaskan otot-otot yang kaku.
“Mianhae..”
“Ne?”
“Mianhae. karena aku, kau jadi terbangun”
“Oh, gwenchana..” Yong Hwa tersenyum ringan
Mereka terdiam, suasana menjadi canggung
lagi.
“Apa kau mau secangkir kopi?” tawar Yong
Hwa untuk mencairkan suasana yang canggung itu.
“Oh.. ne… “
ByunHee
Coffee
Shop
“Anda mau memesan apa,tuan?” tanya seorang
pelayan.
“Aku mau cappuccino, kau?” tanya Yong Hwa
kepada Seo Hyun.
“Nado”
Pelayan itu segera pergi setelah mencatat
pesanan ke sebuah buku kecil ditangannya. Tak lama kemudian, pelayan itu
kembali dengan membawa dua cangkir cappuccino yang masih mengepul.
“Gamsahamnidha..” ucap mereka berdua.
Merekapun menyesap cappuccino masing-masing. Terasa menghangatkan tubuh.
“Gomawo..” ucap Seo Hyun, masih menatap
secangkir cappuccino dihadapannya. Yong Hwa memandang ke depan dengan alisnya
terangkat.
“Gomawo? Untuk apa?”
“Untuk tadi malam. Karena kau sudah
menemaniku. Gomawo..”
“Gwenchana..” Yong Hwa tersenyum lalu
berkata “Apa kau sudah baikan?”
“Ne.” jawabnya singkat. Lalu menyesap
cappucino yang masih tersisa sambil menerawang keluar kaca yang ramai dengan
manusia yang sedang beraktivitas.
***
Seo Hyun melangkahkan kaki di halaman
rumahnya dengan malas. Ia mendesah lalu membuka knop pintu yang memang tak
terkunci.
“Aku pulang..” ucapnya.
“Dari mana saja? Jam segini baru pulang?”
ucap appa dengan nada marah. Eomma duduk di kursi sampingnya sambil menunduk
menahan tangis. waeyo?
“Dari rumah teman” jawabnya ketus. Appa
menghela napas kasar.
“Seo Hyun-ah.. appa dan eomma.. akan segera bercerai”
Deg~
Dan
tiba-tiba saja, begitu mendengar kata-kata sederhana yang diucapkan dengan
pelan itu, Seo Hyun merasa hatinya sangat sakit. Air mata membayang di kedua
matanya. Kaki-kakinya
serasa tak kuat lagi menompang tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat. Bahkan ia tak
sadar sedari tadi ia menahan napasnya.
“Appa sudah tidak tahan lagi dengan
eommamu! Nanti siang pergilah ke pengadilan”
“Aa-arrasseo. Aku pergi ke kamar dulu”
jawabnya lalu berlari menuju kamar. Air matanya kini tumpah disana.
***
“Aaish! Jinja? Apa aku benar-benar
menyukainya?” guman Yong Hwa. Ia mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam.
Jantungnya berdetak sangat cepat. Buru-buru ia bangkit dari tempat tidurnya.
“Aaiiish! Sial! Sepertinya memang aku
menyukainya”
“Apa aku harus mengungkapkan padanya? Aagh!
Ini membuatku gila!” ucap Yong Hwa frustasi. Ia mengacak rambutnya kasar.
“Bingo!” ia menjentikan jarinya.
“Mungkin aku harus mengungkapkannya. Tapi..
ottokhae? Aaish! Jinja!”
“Harus! Pokoknya hari ini aku harus
mengungkapkan perasaanku padanya, kalau tidak, jantungku ini akan semakin
tersiksa” ucapnya sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.
“Mungkin dengan ini aku bisa selalu berada
di sisinya dan bisa membantunya menghadapi masalah. Aah.. bingo..” wajahnya
seketika berubah cerah.
Sekarang ia berjalan ke kamar mandi sambil
tersenyum-senyum sendiri.
“Ya! Hyung! Kenapa kau senyum-senyum
sendiri? Kau gila ya?” tanya Yong Min katika berpapasan dengan Yong Hwa. Ia heran dengan
tingkah laku hyungnya tersebut.
Yong Hwa menoleh lalu berkata “Aish! Anak
kecil tau apa!” ujarnya ketus kemudian berjalan dan senyum-senyum sendiri lagi.
Yong Min menggeleng-geleng kepala heran.
“Dasar gila!” guman Yong Min.
***
Seo Hyun menaiki sepedanya keluar halaman rumahnya
menuju sekolah. Ia menghela nafas berat. Nafasnya mencekat di tenggorokan.
Ingatannya kembali ke kejadian yang
terjadi beberapa menit yang lalu ketika orang tuanya memutuskan untuk berpisah.
Ia menutup matanya sesaat dan membukanya kembali. Dadanya masih terasa sakit
membayangkan rumahnya sudah mirip sekali dengan neraka. Saat ini ia sama sekali
tidak bisa merasakan apa pun. Sepertinya saraf-sarafnya sudah tidak berfungsi.
Ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa bersuara, dan tidak
bisa merasakan apa-apa. Kecuali rasa sakit di hatinya. Ia bisa merasakan yang
satu itu. Sakit sekali....
Ia sudah tidak focus lagi mengendarai sepeda.
***
“Appa, eomma. Aku berangkat” ujar Yong Hwa
sambil menaiki sepedanya keluar dari pekarangan rumah.
“Ne. hati-hati dijalan” teriak eomma dari
dalam rumah.
“Arrasseo..”
Yong Hwa menaiki sepeda itu dengan perasaan
yang berbunga-bunga. Sesekali ia tersenyum-senyum sendiri. Dari kejauhan ia
melihat sebuah toko bunga yang berada di seberang jalan. Buru-buru ia berhenti.
“Sebaiknya aku membelikan bunga untuknya”
segera saja ia pergi ke toko bunga itu. Memarkirkan sepedanya di halaman toko
yang tidak terlalu luas. Harum bunga tercium sampai di luar toko. Benar-benar
harum..
Ia langkahkan kakinya yang panjang memasuki
toko. Matanya memandang
ke sekeliling ruangan. Tampak berjajar bunga-bunga
berbagai warna yang memang terlihat sangat indah. Namun matanya tertuju pada
bunga yang berada paling pojok, dekat tempat kasir. Mawar merah. Ia langkahkan
kakinya lagi mendekat dan mengambil salah satu dari beberapa bunga yang berada
di rak lalu menciumnya.
“Yeppo..” gumannya di iringi senyum tersungging
dibibirnya.
“Aku ambil yang ini”ucapnya kepada palayan.
Setelah itu, ia mengambil sepedanya dan
meneruskan perjalanan yang sempat
tertunda. Wajahnya masih secerah yang tadi.
Tidak
jauh dari sana, ia melihat seorang yeoja di seberang jalan, yang berada hampir
di perempatan jalan. Menaiki sepedanya dengan tatapan kosong ke depan.
“Kim Seo Hyun.. “gumannya lirih. Tak tahu
kenapa ia kembali tersenyum ketika melihat yeoja itu.
“Ya! Kim Seo Hyun..” panggilnya dengan suara yang cukup keras. Tapi
sepertinya orang yang dipanggilnya tak mendengar.
“Seo Hyun-ah, Kim Seo Hyun..” panggilnya lagi dengan
lebih keras. Tetap saja ia tak mendengar.
Tintintiiiiiiiiiiiin……..
Tiba-tiba terdengar suara klakson yang
berasal dari truk besar pengangkut pasir
yang sudah berada di sebelah kanan
perempatan. Truk itu berjalan dengan kecepatan tinggi sehingga kemungkinan
sulit untuk berhenti secara mendadak. Mata Yong Hwa terbelalak. Mulutnya
menganga. Ia memandang truk dan Seo Hyun secara bergantian dengan wajah cemas.
Sementara bunyi klakson itu semakin lama semakin nyaring memekik di telinganya.
Seo Hyun tak mendengar.
“Yaa! Kim Seo Hyun..” teriaknya. Tetap saja
Seo Hyun tak menyahut, masih mengayuh sepadanya dengan kecepatan sedang.
“Ya! Kim Seo Hyun….” Yong Hwa melempar
sepedanya asal dan berlari menuju ke seberang jalan dimana Seo Hyun berada dan
terus saja meneriaki namanya agar yeoja itu menoleh serta menghentikan ayunan
sepedanya. Napasnya
mulai memburu dan pikiran-pikiran buruk mulai berseliweran di benaknya.
“Ya! Kim Seo Hyun, awas..”
Tiiiinn…
Brukkk..
Belum selesai ia berkata, sebuah kejadian
mengejutkan telah terjadi tepat di depan matanya. Tubuh kurus Seo Hyun
terpental jauh akibat tubrukan truk pengangkut pasir itu dan kepalanya
terbentur pagar pembatas jalan. Sementara sepedanya remuk terlindas truk
tersebut.
“ANDWAE!!” teriak Yong Hwa tak percaya. Bunga mawar di tangannya terjatuh. Air mata mulai
menetes tanpa intruksi. Tubuhnya melemas. Ia berlari dengan tenaga yang masih
tersisa menuju ke arah yeoja yang terkapar tak berdaya itu, di depan sana. Tangan
kanannya segera menarik kepala Seo Hyun agar berada dipelukannya. Sedang tangan
yang lain menepuk kecil pipi Seo Hyun.
“Ya!
Gwenchana?” ujarnya khawatir. Sangat khawatir. Ia menatap mata Seo Hyun yang
terpejam, pipinya juga terluka, dan bibirnya yang berdarah. Yong Hwa merasa
sekujur tubuhnya menegang ketakutan.
“Ya! Cepat bangun. Jangan membuatku takut”
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat
mengalir di tangan kanannya. Darah segar
berbau anyir. Kepala Seo Hyun mengeluarkan darah segar
yang membuat Yong Hwa semakin panik. Air mata semakin mengucur deras.
“Ya! ireona!
Jangan membuatku semakin ketakutan. Ireona!”
“Panggil 119, palli!” teriak Yong Hwa
kepada orang-orang yang memang sedari tadi mengerubungi mereka berdua.
“Aku bilang, panggil 119 sekarang!”
teriaknya frustasi.
Busan
Byungwon
“Ya! Cepat Bangun, Seo Hyunie..” Seo Hyun
dibawa ke ruang operasi menggunakan ranjang beroda. Yong Hwa mengikuti dan
sesekali memanggil yeoja yang tergeletak di ranjang putih itu.
Derrt..derrtt..
Ponsel Seo Hyun yang berada di tangan Yong
Hwa bergetar, pertanda ada panggilan masuk. Di layar terpampang sebuah nama ‘Uri Appa’.
“Appanya menelpon” gumannya lirih. Yong Hwa
menarik napas panjang lalu menekan tombol hijau di layar ponsel.
Belum sempat ia mengatakan salam , telah
terdengar rentetan kata dari seorang laki-laki di seberang telepon.
“Ya!
Oddiga? Sebentar lagi pengadilan akan segera dimulai. Cepat kemari!”
“Mianhae.. ahjussi” ucap Yong Hwa dengan
suara parau.
“Nuguya?” alis Kim Jung Soo-appa Seo
Hyun-berkerut.
“Seo-Hyun..” tenggorokan Yong Hwa tercekat.
“Seo Hyun? Ada apa dengannya?” tanya Jung Soo
seketika berdiri dari tempat duduknya.
“Dia..” kata-katanya terputus.
“Suster. Suster, biarkan aku masuk.
Jebal..” rengek Yong Hwa ketika Seo Hyun akan dibawa masuk ke ruang operasi.
“Maaf, anda dilarang masuk” Suster segera
menutup pintu ruangan rapat-rapat. Yong Hwa menggedor-gedor pintunya dan
berteriak lagi “Suster biarkan aku masuk..” Tak ada respon.
“Ya! Apa yang terjadi dengan Seo Hyun?”
teriak Jung Soo cemas. Terbukti dengan suara panik yang terdengar dari seberang
telepon. Yong Hwa tersadar bahwa dia sedang berbicara dengan appa Seo Hyun.
Segera saja ia tempelkan ponsel itu kembali ke telinganya.
“Seo Hyun.. dia.. dia kecelakaan dan
sekarang ia berada di Busan Byungwon”
“Mwo?” pekik Jung Soo tak percaya dengan
apa yang didengarnya.
“Waeyo?” tanya Tae Yeon-eomma Seo Hyun-
pada Kim Jung Soo.
“Seo Hyun.. dia.. kecelakaan” terangnya.
“Mwo?” air mata tanpa di paksa keluar
dengan sendirinya dikedua mata mereka.
“Kajja. Kita harus pergi ke rumah sakit
sekarang”
Sementara itu, Yong Hwa terduduk di lantai
depan ruang operasi. Tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Ia
menelangkupkan kepalanya dan menangis sejadi-jadinya dengan tangan yang masih
bersimbah darah.
Bebarapa saat kemudian, Jung Soo dan Tae
Yeon sampai di depan ruang operasi.
“Bagimana keadaan Seo Hyun?” tanya Jung Soo,
masih dengan raut muka cemas. Yong Hwa mendongak lalu berdiri.
“Ia masih berada di ruang operasi”
jawabnya.
“Ya tuhan.. Sebenarnya apa yang terjadi?
Ini semua memang salahku” runtuk Tae Yeon pada dirinya sendiri.
“Sudahlah, jangan salahkan dirimu sendiri..”
Jung Soo memeluk istrinya yang terisak.
“Mianhae, hiks, hikss.. ini semua salahku,
andai saja..”
“Sudahlah,
Ini juga salahku. Jangan salahkan dirimu sendiri”
“Hiks.. hiks..Aku berjanji tidak akan
begini lagi… aku memperhatikan Seo Hyun seperti dulu, Hikss..” ucap Tae Yeon
menyesal.
Yong hwa berjalan ke tempat duduk lalu menopang kepala dengan kedua tangannya.
Suasana hatinya sangat kacau sekarang. Tiga puluh menit berlalu. Pintu ruang operasi terbuka. Seorang
dokter dan dua perawat keluar dari ruang operasi. Yong Hwa dan kedua orang tua
Seo Hyun langsung menghambur ke arah dokter berambut putih dan berkacamata itu.
“Bagaimana keadaannya, dok?” tanya Jung Soo
cepat. Dokter menunduk sebentar kemudian menganggkat kepalanya lagi.
“Maaf. Sepertinya ia mengalami gagar otak. Tetapi kita
tunggu hasil tes di lab dulu”
“Mwo? Hiks.. hiks.. Kenapa ini bisa
terjadi?” Tae Yeon menangis sejadi-jadinya dan Kim Jung Soo memeluknya lagi
agar ia tenang.
“Sudahlah, ma..”
“Anni, ini tidak mungkin. Dokter, Kau harus
sembuhkan dia” ucap Yong Hwa sembari mengangkat kerah dokter itu. Namun segera
ditahan oleh perawat laki-laki yang ada disana.
“Dokter, kau harus sembuhkan dia.
Dokteeerrrr..” teriak Yong Hwa sambil meronta frustasi.
***
Busan Byungwoon
Sebulan
kemudian..
Yong Hwa menyibakan sebuah tirai berwarna
hijau muda yang tergantung di jendela. Tampak pemandangan pagi kota Busan yang
asri. Embun pagi masih menempel di antara dedaunan. Cahaya matahari mulai masuk
melalui celah tirai yang terbuka.
Yong Hwa menghela napas berat lalu membalikkan
badannya kembali. Pandangannya tertuju pada yeoja yang terbaring tak berdaya di
ranjang rumah sakit. Selang-selang medis menempel hampir di seluruh tubuhnya.
Wajahnya putih pucat dan mata indah itu tertutup rapat. Terlihat tenang sekali.
Seolah tidur.
Yong Hwa tersenyum kecut. Ia langkahkan
kakinya menuju kursi yang disediakan di sisi ranjang. Jemari tangannya ia
kaitkan dengan tangan yeoja yang terbaring lemah itu. Tangannya terasa hambar.
Sudah satu bulan Seo Hyun terbaring di
ranjang rumah sakit. Tak ada perubahan sejak ia di vonis menderita gagar otak
yang tidak bisa di bilang cukup ringan. Dan sejak saat itu juga ia berada dalam
keadaan koma. Selama ini, Yong Hwa selalu menemaninya, bahkan ia rela tidak
tidur demi menjaganya. Appa Seo Hyun hanya bisa menemaninya berberapa kali.
Bukannya ia masih tak peduli kepada Seo Hyun tetapi ada masalah serius di
perusahaan yang mengharuskannya untuk pergi menanganinya. Sedangkan eomma Seo
Hyun beberapa hari yang lalu jatuh sakit, mungkin karena kelelahan dan
kesedihannya.
“Yong Hwa-ya, Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya
Jung Soo. Ia baru datang bersama istrinya. Yong Hwa menoleh ke sumber suara.
“Oh, ahjussi. Masih sama seperti kemarin”
jawabnya murung. Eomma Seo Hyun terlihat sedih kembali. Buru-buru ia
mengalihkan pembicaraan.
“Ahjumma, Bagaimana keadaan anda? Apa sudah
baikan?”
“Oh.. aku sudah sedikit baikan. Gomawo,
Yong Hwa-ya..” ia tersenyum.
Wajahnya masih terlihat sedikit pucat ketika tersenyum. Jung Soo menghampiri
Yong Hwa dan memegang salah satu pundak Yong Hwa.
“Gomawo telah menemani uri Seo Hyun.. Mianhae,
kami selalu merepotkanmu” ucap Jung Soo. Yong Hwa mendongak, menatap lawan
bicaranya.
“Gwenchana, ahjussi. Aku tidak keberatan
menemaninya..” Yong Hwa tersenyum. Tae Yeon meraih tangan Yong Hwa kemudian berkata
“Kami benar-benar berterimakasih padamu. Sekarang pergilah beristirahat, kau
kelihatan sangat lelah. Biar kami yang menjaganya sekarang”
“Tapp.. tapi..”
“Sudah, istirahatlah“ Jung Soo menimpali.
Akhirnya Yong Hwa menurut. Ia berjalan ke sofa panjang tak jauh dari sana dan tak
perlu waktu lama ia langsung tertidur.
“Dia terlihat benar-benar kelelahan” guman
Tae Yeon.
“Ne.. dia memang namja yang baik” lanjut
Jung Soo.
“Annyeong.. ahjumma, ahjussi..” sapa Min Hyuk, Jung Shin
dan Jong Hyun dengan tampang cerianya. Mereka bertiga sudah akrab dengan appa
dan eomma Seo Hyun karena sering menjenguk Seo Hyun di rumah sakit.
“Oh, kalian,annyeong..” Jung Soo dan Tae Yeon tersenyum
ramah.
“Wah, Yong Hwa hyung kenapa malah tidur?
Seharusnyakan dia yang menjaga. Aiish, dasar hyung!” geram Jung Shin yang bersiap
untuk membangunkannya.
“Eh, Jangan bangunkan dia. Kasian dia pasti
kelelahan, Sejak kemarin menjaga uri Seo Hyun”cegah Tae Yeon.
“Oh, ne..”
“Ahjumma, ahjussi. Aku membawakan
buah-buahan untuk kalian” kata Min Hyuk sembari memberikan keranjang berisi
buah-buahan kepada Tae Yeon.
“Gomawo..” Tae Yeon tersenyum ramah.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Jong
Hyun.
“Hmm.. Seperti yang kau lihat sekarang,
masih belum ada perubahan..” jawab Jung Soo muram.
“Semoga dia cepat sadarkan diri” ucap Jong
Hyun menguatkan.
“Ne..”
“Annyeong Haseyo..” sapa dua orang baru
saja memasuki ruangan. Semua mata tertuju ke sumber suara.
“Nugusseyo?” tanya Jung Soo dengan alis
sedikit berkerut.
“Kami orang tua Yong Hwa. Kami dengar Seo
Hyun sakit jadi kami ingin menjenguknya” ucap Jung Soo Yeon-eomma Yong Hwa-
dengan senyum ramah.
“Oh. Silahkan masuk” Jung Soo dan Tae Yeon
mempersilahkan mereka masuk kemudian saling berjabat tangan.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Jung
Il Woo-Appa Yong Hwa.
“Dia..” kata-katanya tiba-tiba terputus.
“Ehhh..” terdengar suara napas berat
seseorang. Semua orang yang ada disana tercengang kaget dan memusatkan
perhatiannya kepada Seo Hyun. Tangan Seo Hyun bergerak lemah dan matanya
sedikit demi sedikit membuka.
“Seo Hyun-ah..” panggil Tae Yeon dan Jung Soo sembari
berjalan menghampiri Seo Hyun diikuti oleh yang lainnya. Tae Yeon memegang
tangan Seo Hyun erat. Seperti tak mau melepaskannya sedetikpun. Buru-buru Jung
Shin membangunkan Yong Hwa yang tertidur di Sofa.
“Hyung,hyung. Seo Hyunie sudah sadar.”
ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Yong Hwa. Yong Hwa langsung terbangun
dan segera ia melonjak menghampiri Seo Hyun. Ia tersenyum bahagia. Akhirnya ia kembali..
“Sayang.. Kau sudah sadar?” tanya Tae Yeon
berlinang air mata. Seo Hyun tak menjawab, masih mencerna kata-kata yang ia
dengar. Maklum saja, ia koma selama satu bulan, jadi indranya masih terganggu.
“Biar aku panggilkan dokter” ujar Jung Soo
dan membalikkan tubuhnya.
“Appa..” panggil Seo Hyun dengan suara lemah. Jung Soo
menoleh. Seo Hyun meraih tangan kedua orang tuanya.
“Appa.. Eomma.. mianhae..” ucapnya lemah.
Tae Yeon menggeleng cepat.
“Anni.. appa dan eomma yang harus minta
maaf.. mianhae, gara-gara kami pasti kau sangat kesepian, mianhae..” Seo Hyun
mengeluarkan air mata dari sudut matanya. Jung Soo ikut meneteskan air mata.
“Mianhae.. karena kami sibuk dengan urusan
kami sendiri sehingga kami tidak memperhatikanmu.. maafkan appa dan eomma..”
sekarang giliran Jung Soo yang berbicara.
Seo Hyun tersenyum tipis dibalik wajahnya
yang pucat lalu berkata “Anniyo, kalian adalah orang tuaku yang paling baik untukku”
Tae Yeon semakin terisak. Ia memaksakan
seulas senyum tipis di bibirnya.
“Appa.. eomma.. Bolehkah aku meminta
sesuatu kepada kalian?”pinta Seo Hyun penuh harap.
“Ne, sayang.. katakanlah”
“Appa.. eomma.. aku ingin kalian jangan
bertengkar lagi” Seo
Hyun menarik napas, memberi jeda.
“Aku… aku ingin kalian jangan berpisah”
ucapnya penuh harap. Tae Yeon dan Jung Soo saling berpandangan. Beberapa detik
kemudian mereka menatap Seo Hyun lagi.
“Ne.. kami janji, kami tidak akan
bertengkar lagi dan kami tidak akan pernah meninggalkamu” kata Jung Soo sembari
mempererat genggaman tangannya kepada Seo Hyun.
“Gomapta..” Seo Hyun tersenyum tipis.
Hatinya sangat lega sekarang. “Bolehkah aku memeluk kalian sebentar saja?”
Jung Soo dan Tae Yeon mengangguk lalu
berkata “Ne..” dan akhirnya mereka saling berpelukan. Air mata haru bercampur
senang mengalir di kedua mata mereka. Bahkan semua yang ada disana juga ikut
meneteskan air mata. Seo Hyun menutup matanya perlahan. Akhirnya ia merasakan
kehangatan ini lagi, kehangatan sebuah keluarga. Hatinya sangat bahagia.
Beberapa detik berlalu, Seo Hyun melepaskan
pelukannya. Pandangannya berpindah ke namja yang berada disampingnya. Jung Yong
Hwa. Ia tersenyum simpul lalu meraih tangan Yong Hwa.
“Mianhae.. Aku terlalu banyak
merepotkanmu..”
“Anniyo” sahut Yong Hwa cepat.
“Terimakasih… terimakasih karena kau selalu
ada jika aku membutuhkan seseorang di sampingku..” Seo Hyun menghela napas
pelan “Terimakasih karena kau selalu membantuku.. Terima kasih atas semua yang
sudah kau lakukan untukku.. dan terimakasih karena kau selalu membuatku
bahagia… gomawo..”
Seo Hyun tersenyum.
“Gwenchana..
ini semua tak masalah asalkan kau segera sembuh,ne?”
“Yong Hwa-ya.. Aku punya satu permintaan buatmu..
maukah kau mengabulkannya?” Suaranya masih terdengar lemah.
“Tentu”
“Berjanjilah kau akan menjaga kedua orang
tua ku, ne?” Yong Hwa terbelalak.
“Apa yang ku bicarakan? Kau tidak akan
pergi kemana-mana, bukan? Ya!
Seo Hyun-ah!”
“Aku mohon.. Dengan begitu aku akan pergi
dengan tenang” Seo Hyun mengalihkan pandangannya ke langit-langit.
“Apa yang kau bicarakan? Gajima..” sekarang pikiran-pikiran buruk tengah berseliweran
dibenaknya. Ia merasa kata-kata itu seperti kata-kata perpisahan.
Seo
Hyun menatap Yong Hwa penuh harap. Yong Hwa menundukan kepala, tidak sanggup membalas tatapan Seo
Hyun . Akhirnya ia menyerah lalu berkata “Baiklah,
aku berjanji padamu..” air mata masih mengalir dikedua matanya.
“Gomawo.. Dengan ini aku bisa pergi dengan
tenang.. gomawo..” Seo Hyun tersenyum
simpul. Perlahan mata Seo Hyun menutup di iringi dengan bunyi panjang dan datar
yang membuat bulu kuduk Yong Hwa meremang. Ia mengangkat kepala dan menatap
monitor penunjuk detak jantung. Hanya ada garis lurus yang terlihat di sana. Dan
bunyi panjang yang memekik telinga itu.
“Seo Hyun-ah..” ujar semua yang ada disana. “Ya! Seo
Hyun~ah, gwenchana.. gajima.. gajima…” panggil Yong Hwa frustasi. Rasa panik
menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Anni, anni… gajima.. gajima..”
“Panggil dokter sekarang!” perintah Jung
Soo dan Jong Hyunpun berlari keluar untuk memanggil dokter. Sementara itu Yong
Hwa terus memanggil-manggil nama Seo Hyun dan mengguncang tubuhnya agar yeoja
itu membuka matanya kembali. Tetap tak ada respon.
Tak berapa lama, dokter datang dan
memeriksanya. Yong Hwa mundur beberapa langkah dengan raut muka cemas. Setelah selesai memeriksa, dokter itu
membalikkan badannya menghadap semua yang ada. Dokter itu menggelengkan kepala
dan berkata “Maaf, nyawanya sudah tidak bisa tertolong”
“Mwo?” Kaki Yong Hwa mendadak lemas dan
tidak bisa menopang tubuhnya. Ia jatuh terduduk di lantai, tak kuasa menahan
kesedihan sembari terisak tangis. Sementara itu, Sementara itu, Tae Yeon membenamkan
wajah di dada suaminya dan menangis bersamanya.
Seo Hyun telah pergi. Ia
tidak membuka mata ketika Yong Hwa memanggil namanya. Ia tidak membuka mata
ketika Tae Yeon memanggil namanya. Bahkan ia tidak membuka matanya saat semua
orang memanggil namanya. Seo Hyun tidak pernah membuka matanya lagi.
***
Pemakaman
Umum di Daerah Busan
Beberapa orang
yang berbaju hitam tengah berdiri mengitari sebuah makam yang terlihat masih
basah. Wajah mereka tertunduk, menandakan mereka sedang berduka cita. Beberapa
lagi sedang terisak tangis. Tidak terkecuali dengan seorang wanita paruhbaya-yang
berada di samping makam. Ia sedikit berjongkok sambil memegang nisan yang
bertuliskan nama ‘Kim Seo Hyun’ disana. Air mata mengalir di kedua matanya
seiring dengan rasa penyesalan yang amat besar di hatinya. ‘Mianhae’ kata itu
mungkin tidak bisa menebus kesalahan yang telah ia perbuat. Ia menyesal mengapa
ia begitu terlambat.
“Sudah, ma.
Lepaskan kepergiannya…” ujar seorang pria paruhbaya yang merupakan suaminya.
Namun wanita itu tidak menanggapi. Satu persatu pelayat meninggalkan pemakaman.
“Eomma, relakan
dia pergi. Uri Seo Hyun sudah tenang di alam sana”
“Ne, appa. Tapi
eomma sangat menyesal ,hikss.. kenapa tidak sedari dulu…” wanita itu tidak
mampu meneruskan perkataannya. Terlalu mencekat ditenggorokan. Sinar
matanya mengandung penyesalan.
“Uri Seo Hyun anak
yang baik. Dia pasti memaafkanmu.. aku tahu dia sangat menyayangimu,
percayalah..” Jung Soo memegang pundak istrinya.
“Sekarang kita
harus pergi. Seo Hyunie pasti tidak mau kau larut dalam kesedihan dan jatuh
sakit” tambahnya lagi.
“Tapi, tapi..
aku ingin menemani Seo Hyun disini… hiks.. hiks..”
“Kajja..”
AkhirnyaTae Yeon mengangguk pelan. Walau
sedikit terpaksa, ia menuruti perkataan suaminya. Jung Soo merangkul pundak Tae
Yeon yang bergetar lalu pergi meninggalkan pemakaman yang telah sepi.
Kini tinggal
seorang namja yang berdiri tidak jauh dari makam. Pandangannya lurus ke depan,
memandang makam itu tanpa berkedip. Ia berusaha menahan air mata agar tidak
tumpah.
Beberapa saat
kemudian, ia langkahkan kakinya mendekati makam lalu duduk berjongkok menghadap
ke makam. Wajahnya tertunduk. Perlindungan yang ia jaga kuat akhirnya pecah
juga. Air mata mengalir dari kedua matanya bagai sungai yang mengalir deras.
“Seo Hyun-ah, kenapa.. kenapa secepat ini kau
pergi.. hiks..” namja itu menelan ludahnya berat. Terasa mencekat.
“Kau tahu..
sebenarnya aku ingin menyatakan perasaanku padamu, tapi.. tapi tuhan
berkehendak lain..” namja itu terdiam sesaat.
“Aku…. Aku
mencintaimu.. tak tahu sejak kapan tapi sekarang aku benar-benar mencintaimu..”
matanya mulai menerawang.
“Hm.. Terkadang
aku berfikir tuhan tidak adil karena ia mengambilmu secepat ini.. Aku ingin kau
selalu ada disisisku…” Namja itu menarik napas pelan.
“Tapi apalah.. Aku
tak mungkin menolak skenario yang telah tuhan tetapkan kepada kita..”
“Biarkan aku
mengenang kebersamaan kita yang singkat ini.. aku akan menyimpan semuanya..
senyummu.. aroma tubuhmu.. suaramu.. dan semua kenangan itu. karenamu, aku
bahagia.. terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku..”
Tiba-tiba hujan
turun mengguyur seluruh kota Busan. Namja itu mendongak dan menengadahkan
tangannya ke atas.
“Sekarang aku
tahu mengapa aku menyukai hujan.. karena aku akan selalu mengingat senyummu… Dan
karena hujan, aku merasa kau selalu berada disisiku. Kau mendengarku, bukan?”
namja itu tersenyum simpul.
~ THE
END ~
gomawo.. gomawoo * bow :D
kritik dan sarannnya boleh tuh :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar